Sore hari, sekitar pukul lima, Lian baru saja pulang dari kantor. Jasnya sudah dilepas sejak turun dari mobil, kini tergantung rapi di lengan kirinya. Raut wajahnya tampak lelah, tapi tatapan matanya tetap hangat. Ia menyempatkan diri mandi di kamar tamu terlebih dahulu sebelum naik ke kamar utama, sebuah kebiasaan yang sudah ia lakukan sejak menikah dengan Salsa.
Ia tahu benar, istrinya selalu langsung mendekap manja saat ia muncul di kamar. Dan setelah seharian berada di luar rumah, Lian ingin memastikan dirinya bersih dan segar sebelum memeluk perempuan tercintanya.
Setelah selesai, Lian mengenakan kaos lengan pendek dan celana kain santai, lalu menaiki lift ke lantai kamar utama mereka. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan, berharap menemukan senyum manja atau suara lembut Salsa yang memanggil namanya.
Namun, yang menyambutnya kali ini bukanlah kegembiraan. Yang terdengar justru suara isakan pelan, teredam oleh senyap nya ruangan.
Langkah Lian terhenti di ambang pintu. Hatinya langsung mencelos. Ia mengerutkan kening, matanya menyapu seisi kamar dan akhirnya berhenti pada sosok Salsa yang terbaring di ranjang. Selimut menutupi tubuh hingga ke wajahnya, namun dari bahu yang bergetar dan suara tangis tertahan itu, Lian tahu istrinya sedang tidak baik-baik saja.
Tanpa berkata apa pun, Lian segera berjalan mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, tangan kanannya dengan lembut mengusap punggung istrinya.
"Sayang ... " bisiknya pelan, suaranya penuh kekhawatiran. "Kenapa, hm?"
Salsa tak langsung menjawab. Hanya tangan kecilnya yang merentang ke arah Lian, sebagai isyarat ia butuh pelukan. Lian pun tanpa ragu menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Ia membiarkan Salsa membenamkan wajah di dada dan melingkarkan lengan di lehernya, tubuh mungil itu terasa gemetar.
"Sttt ... aku di sini," ucap Lian menenangkan, sembari membelai rambut Salsa dengan lembut. "Kenapa, Ca? Cerita ke aku, ya?"
Isak Salsa makin jelas terdengar. Suaranya lirih, hampir tak terdengar. "Sakit ... Sayang ... hiks ... "
Tubuh Lian menegang seketika. Ia memeluk istrinya lebih erat, mencoba menyalurkan kehangatan dari tubuhnya yang kini justru penuh cemas.
"Sakit apa, hm? Perut kamu?" tanyanya pelan namun tegas, tangannya mulai mengelus perut istrinya yang terasa lebih tegang dari biasanya.
Salsa mengangguk kecil, air mata masih menetes di pipinya. "Parutnya ... kerasa begah ... kenceng ... kaya keram gitu, Sayang. Nggak enak banget."
Lian menatap wajah istrinya penuh khawatir. "Dari kapan sakitnya begini?"
"Tadi, waktu bangun tidur siang ... aku niatnya mau ke kamar mandi, tapi pas berdiri langsung kerasa nggak enak ... makin lama makin kerasa kencengnya." adu Salsa.
Lian mengecup kening Salsa, lalu menatap dalam mata istrinya yang sembab. "Kenapa nggak langsung kabarin aku, Sayang?"
Salsa menggeleng lemah. "Aku kira cuma sebentar, aku pikir nanti juga reda sendiri. Tapi malah makin nggak nyaman."
Lian tak menunggu lebih lama. Ia segera meraih ponselnya dan menelepon dokter kandungan yang selama ini menangani kehamilan Salsa, Dokter Raisa.
"Halo, Pak Lian. Ada apa?" suara dokter terdengar ramah di ujung sambungan.
"Halo, Dok. Maaf mengganggu, ini saya mau tanya ... istri saya tiba-tiba mengeluh perutnya keram, katanya lebih kencang dari biasanya. Rasanya begah dan nggak nyaman. Saya khawatir, Dok," ucap Lian, nadanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.
"Ada keluar darah atau nyeri yang sangat hebat?" tanya dokter Raisa cepat.
Lian menoleh pada Salsa, yang hanya menggeleng pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
