Naha

10.7K 378 5
                                        

Pagi itu, Lian dan Salsa sedang bersiap-siap untuk perjalanan mereka ke Naha, Okinawa. Udara Tokyo masih terasa sejuk, dan semangat liburan mengalir deras di antara keduanya. Di balik cermin kamar hotel, Salsa terlihat sibuk merapikan hijabnya, sementara Lian duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan istrinya dengan senyum penuh arti.

"Yakin bisa jalan, Sayang?" goda Lian sambil menyilangkan tangan di dada, menahan tawa yang hampir pecah.

Salsa mendesah, berjalan pelan sambil memijat pinggulnya sendiri.

"Jangan lebay deh," balasnya ketus, meski wajahnya memerah sendiri.

Lian tertawa pelan, lalu berdiri. "Kayaknya seru deh, Ca. Nanti kita lari-lari di pantai, kayak pasangan honeymoon yang romantis gitu," ujar Lian sambil mengambil jaketnya dari gantungan. Ia sempat melirik istrinya yang masih berjalan pelan, sambil memegangi punggung bawahnya.

"Eh, tapi ... nggak jadi deh. Kasihan istri aku, jalan aja susah. Mana kuat lari-lari," tambahnya sambil menyengir jahil.

Salsa spontan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Lian. Tatapannya menusuk tajam, tapi raut wajahnya tak bisa membohongi. Pipinya merona, bibirnya mengerucut manja.

"Terus aja, terus! Ngeledek terus! Aku susah jalan juga gara-gara kamu, ya!" omel Salsa, suaranya tinggi tapi terdengar seperti rengekan.

Lian tertawa kecil. Ia mendekat, lalu tanpa basa-basi memeluk pinggang Salsa dari belakang, menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan hangatnya.

"Yah, salah siapa juga semalem manja-manjain Om ... Jadi ga bisa berhenti, kan." bisiknya tepat di telinga Salsa, suaranya terdengar lembut tapi penuh godaan.

"LIAN!" seru Salsa dengan spontan. Ia mendorong dada suaminya, tapi kekuatannya tak sebanding dengan tawa geli Lian yang makin menjadi-jadi.

Wajah Salsa sudah merah padam, tapi senyum di sudut bibirnya tak bisa disembunyikan. Ia hanya bisa menggeleng pelan, mencoba menyembunyikan rasa malunya, sementara Lian masih berdiri di sana dengan ekspresi penuh kepuasan, menikmati betul keisengan kecil paginya.

"Yuk, kita berangkat!" ujar Lian akhirnya sambil meraih tangan Salsa, menggenggamnya erat.

Salsa menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu mengangguk kecil. Meski masih jengkel setengah hati, ia tahu pagi itu akan jadi awal dari hari yang indah.

**

Beberapa menit kemudian, Salsa dan Lian sudah berada di tengah jalanan kota Naha, Okinawa. Mereka berjalan berdampingan, sambil bergandengan tangan, menikmati hangatnya pagi yang menyambut dengan damai. Di antara tawa kecil dan obrolan ringan, mata mereka sibuk mencari tempat sarapan yang direkomendasikan oleh resepsionis hotel semalam.

"Pesen apa yang kamu mau, gih. Tenang aja, aku udah cek tadi. Ini restoran halal, mereka pakai bahan-bahan yang aman buat kita," ujar Lian sambil menunjuk logo halal kecil di jendela restoran.

"Sekalian pilihin makanan yang enak buat aku, ya." ucap Lian sambil menyender santai ke kursi kayu di teras restoran, pandangannya tak lepas dari wajah istrinya.

Salsa mengangguk dengan senyum kecil, lalu melangkah masuk ke dalam restoran bergaya lokal yang menyatu dengan nuansa tropis khas Okinawa. Tak butuh waktu lama, ia kembali dengan pesanan yang sudah ditulis di tangan.

Mereka duduk bersebelahan, menghadap ke arah jalan utama kota Naha. Lalu lintas pagi itu terasa tenang dan santai. Sesekali hanya terdengar suara lembut deru mesin dari taksi atau mobil pribadi yang melintas pelan, menciptakan atmosfer yang jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan seperti Tokyo.

Langit biru membentang luas dengan dua awan menggantung. Sinar matahari jatuh lembut, memantul di atas trotoar yang bersih dan bangunan-bangunan rendah bergaya khas Okinawa dengan atap-atap berwarna merah bata. Di kejauhan, burung camar terdengar bersahutan, menambah kesan bahwa laut memang tak jauh dari tempat mereka duduk.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang