Di dalam Mobil

6.1K 320 5
                                        

⚠️⚠️ warning!!! Teman-teman semua, sebelum melanjutkan untuk membaca, aku mau ngingetin di chapter ini ada adegan dewasa. Jadi, untuk yang masih anak-anak atau yang merasa nggak nyaman, boleh skip aja, ya. Harap bijak dalam memilih bacaan!!!

**

Sore itu, suasana ruang keluarga terasa begitu hangat. Lembayung senja menembus tirai tipis jendela, memantulkan cahaya lembut yang membuat ruangan tampak nyaman. Salsa duduk santai di sofa, memeluk erat boneka jerapah kesayangannya sambil menonton televisi. Sesekali ia tersenyum kecil, tampak benar-benar menikmati momen sederhana itu.

Sementara itu, Lian berbaring santai dengan kepala bersandar di pangkuan istrinya. Tangannya tak henti-henti mengusap perut Salsa yang kini semakin membesar, penuh dengan kasih sayang dan kelembutan. Sesekali ia mengecup perut itu dengan bibirnya, seolah sedang berbicara pada malaikat kecil yang sedang tumbuh di dalam rahim istrinya.

"Sayang, ke rumah Bunda yuk," ucap Salsa tiba-tiba, jemarinya mengelus lembut rambut Lian. Suaranya terdengar manja, namun juga penuh semangat.

Lian mendongak, menatap wajah istrinya dengan tatapan hangat. "Sekarang, Sayang?" tanyanya sambil tetap mengusap perut Salsa dengan penuh hati-hati.

Salsa mengangguk cepat, matanya berbinar seperti anak kecil yang mendapat kabar gembira. "Iya, sekalian ngabuburit. Udah lama nggak main ke sana," ujarnya, senyum lebarnya membuat wajahnya tampak semakin manis.

Lian melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Boleh. Mau sekalian nginep nggak?" tanyanya dengan nada tenang.

Salsa berpikir sebentar, lalu mengangkat bahunya. "Gatau, gimana nanti aja. Aku sih pengen ketemu Bunda. Katanya kemarin nyuruh kita main ke sana," jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya gemas.

"Iyaudah, ayo kita siap-siap," ucap Lian akhirnya.

Salsa langsung tersenyum lebar, wajahnya berbinar penuh kegembiraan. Ia spontan menunduk dan mengecup pipi Lian sekilas. "Yeayyy!" katanya riang, lalu pelan-pelan menyingkirkan kepala suaminya dari pangkuannya untuk beranjak ke kamar.

Namun sebelum ia benar-benar pergi, tangan Lian dengan cepat meraih pergelangan tangannya. Pria itu lalu bangkit duduk dan menarik Salsa ke dalam pelukannya.

"Bareng, Sayang. Sini aku gendong," ucap Lian lembut, tapi nadanya tegas seolah tak memberi ruang untuk ditolak.

Sebelum Salsa sempat bereaksi, Lian sudah membungkukkan tubuhnya sedikit lalu mengangkat istrinya dalam gendongan bridal style.

Salsa terkejut, tapi tawa kecilnya langsung pecah. Ia melingkarkan tangan di leher suaminya, menatap wajah Lian dari jarak begitu dekat. "Ih, kamu nih ... selalu aja bikin aku nggak bisa nolak," ujarnya dengan wajah merona.

Lian hanya tersenyum lebar, mengecup pipi istrinya lalu dengan hati-hati, Lian melangkah menuju kamar, menggendong Salsa seolah membawa harta paling berharganya. Setiap langkahnya penuh kehati-hatian, seakan ia tak ingin sedikit pun membuat istrinya merasa tidak nyaman.

**

Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, karena mereka sempat mampir dulu ke pasar takjil atas permintaan Salsa yang tiba-tiba ngidam es jeruk, akhirnya mobil Lian berhenti di halaman rumah orang tuanya.

Perjalanan itu dipenuhi dengan obrolan ringan, tawa kecil, dan candaan khas pasangan yang tak pernah kehabisan topik. Es jeruk di tangan Salsa bahkan sudah tinggal setengah sebelum mereka sampai, membuat Lian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang tampak begitu bahagia menikmati keinginannya.

Begitu pintu mobil terbuka, Salsa yang sudah tak sabar langsung melangkah riang menuju teras. Wajahnya berbinar, matanya berbinar seperti anak kecil yang pulang kampung. Ia membuka pintu rumah tanpa menunggu lama.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang