Pagi itu, Salsa terbangun lebih awal dari biasanya karena merasa nyeri di perutnya. Dengan pelan ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pembalut.
Saat kembali ke kamar, ia melirik jam dinding, pukul 05.00 pagi. Belum waktunya benar-benar beraktivitas, tapi cukup untuk membangunkan sang suami agar bisa melaksanakan salat subuh.
"Lian, bangun," bisik Salsa sambil menggoyangkan tangan suaminya pelan.
"Li... ayo bangun. Subuhan dulu gih," ucapnya lagi, kini sambil menepuk lembut pipi Lian.
Butuh beberapa saat hingga Lian akhirnya merasa terusik. Perlahan ia membuka matanya, berusaha menyesuaikan dengan cahaya remang di kamar. Begitu matanya benar-benar terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik istrinya yang duduk di sampingnya.
"Ayo bangun, subuhan dulu. Nanti waktunya keburu habis," ujar Salsa sambil mengelus pipi suaminya.
Lian mengerjap malas, lalu menyunggingkan senyum kecil. "Peluk dulu," pintanya manja.
Salsa hanya memutar bola mata malas.
"Kalau kamu nggak peluk aku, aku nggak mau bangun," lanjut Lian penuh gaya.
Dengan sedikit enggan tapi tak bisa menahan senyum, Salsa memeluk suaminya erat. Setelah beberapa detik, ia pun melepas pelukannya.
"Udah gih, sana ambil wudu. Keburu habis waktunya," ucapnya sambil mendorong pelan tubuh Lian.
"Kamu masih datang bulan?" tanya Lian sambil bangkit setengah duduk.
"Masih. Mungkin tiga harian lagi," jawab Salsa.
"Oh yaudah," sahut Lian singkat.
"Emang kenapa?" tanya Salsa menatapnya.
"Nggak, cuma... berarti aku salat sendiri lagi, ya?" gumam Lian dengan wajah melas.
"Yaaa gimana lagi? Aku belum selesai datang bulan," jawab Salsa sambil nyengir kecil. "Udah sana, cepet."
"Iya, iya," kata Lian pasrah lalu berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu.
Setelah selesai salat, Lian kembali naik ke kasur dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang kini sedang memainkan ponsel.
Dengan gerakan lembut, Lian memeluk tubuh Salsa dari samping, menyembunyikan wajahnya di sisi perut istrinya. Salsa meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu ikut membalas pelukan itu.
"Hari ini kerja?" tanya Salsa pelan.
"Iya. Hari ini jadwal meeting sama klien dari Bali, Ca," jawab Lian, masih dengan wajah tertimbun di pelukan.
"Ke kantor jam berapa?" tanya Salsa
"Jam delapan, paling. Kayak biasa aja."
"Kamu hari ini ada pemotretan nggak?" tanya Lian balik.
"Kata Kak Ica sih, nggak. Paling besok," jawab Salsa. Ica adalah manajer pribadi Salsa yang juga sangat dipercaya oleh Lian.
"Mau tidur lagi? Nanti jam tujuh aku bangunin," tawar Salsa.
"Kamu mau tidur lagi?" tanya Lian balik, membalikkan pertanyaan.
"Iya, kepala aku agak pusing. Perut sama pinggang juga sakit." ucap Lian
"Mau aku usapin?" tawar Lian lembut.
"Nggak usah, nggak papa. Peluk aja, biar bisa bobo lagi," bisik Salsa sambil memeluk suaminya erat.
Lian membalas pelukan itu, memejamkan matanya sambil menarik napas pelan. Sementara itu, Salsa menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya yang hangat dan nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
