Lian Demam

10.9K 423 7
                                        

Setelah menunaikan salat Subuh tadi pagi, mereka kembali merebahkan diri di atas ranjang. Pelukan Lian begitu erat, membuat tubuh Salsa tetap berada dalam dekapan hangatnya. Namun, seiring waktu berlalu, Salsa mulai merasa ada yang berbeda. Tubuh Lian yang memeluknya dari belakang terasa lebih hangat dari biasanya.

Perlahan, Salsa menggeser posisi tubuhnya, lalu menyentuhkan punggung telapak tangannya ke dahi suaminya. Ia terkejut. Bukan lagi sekadar hangat, tapi benar-benar panas.

"Lian ... bangun dulu, Li. Badan kamu panas banget," bisik Salsa lembut, suaranya penuh cemas.

Lian membuka matanya perlahan, tapi wajahnya terlihat lemas. Ia masih memeluk Salsa, tidak ingin melepaskan kehangatan yang ia rasakan.

"Dingin, Ca..." lirih Lian sambil menggigil, tapi tak juga melepaskan pelukannya, menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak enak badan.

"Iya, iya ... sebentar, ya. Aku naikin selimutnya dulu," ucap Salsa dengan lembut. Ia menarik selimut dan menyelimutkan tubuh Lian hingga menutupi punggungnya. Tangannya bergerak hati-hati agar tak mengganggu posisi Lian yang tampak lemah.

"Kepalanya pusing?" tanyanya sambil menatap wajah suaminya yang pucat.

Lian hanya mengangguk pelan, matanya terpejam kembali, menggenggam tangan istrinya.

"Lepasin dulu pelukannya, ya? Aku mau bikin bubur buat kamu. Sekalian ambil obat juga," ucap Salsa, mulai bangkit dari tempat tidur.

Lian menggeleng lemah. "Jangan lama-lama, ya ..." gumamnya manja.

Salsa tersenyum kecil, meski hatinya khawatir melihat kondisi Lian. Ia menunduk, mengecup kening suaminya dengan lembut.

"Iya, nggak lama kok. Aku cepet, janji. Kamu istirahat aja dulu," ucapnya menenangkan, sebelum beranjak dari tempat tidur.

Setelah nya Salsa melangkah turun ke dapur. Langkahnya cepat namun tetap hati-hati, penuh urgensi.

**

Beberapa saat kemudian, Salsa kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih. Aroma kaldu yang lembut memenuhi udara, memberikan kehangatan tersendiri. Di wajah Salsa tampak raut penuh perhatian. Ia tahu, meski hanya sakit ringan, pasti Lian akan bersikap lebih manja dari bisanya.

Dengan hati-hati, ia meletakkan nampan di atas nakas. Lalu duduk di pinggir kasur, menatap wajah suaminya yang masih meringkuk di balik selimut. Perlahan, ia menepuk pipi Lian lembut.

"Li ... bangun dulu, ya. Makan sebentar biar bisa minum obat," ucap Salsa dengan suara lembut.

Lian hanya mengerang pelan, lalu menggeliat dan memindahkan posisi tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Salsa dengan gerakan manja. Suaranya terdengar renyah meski lemah.
"Pusing, Ca ..."

Salsa mengelus pelan rambut Lian yang sedikit lembap karena keringat.
"Iya, aku tau. Makan dulu sedikit, yuk. Biar nggak lemes dan bisa minum obat, jadi pusingnya cepat hilang," ujarnya membujuk dengan sabar.

Lian mengerucutkan bibir, lalu mengeluh lagi, "Nggak mau. .. perut aku nggak enak, mulutnya pahit."

Salsa menarik napas pelan, tetap berusaha lembut. "Makan sedikit aja, ya? Nggak usah habis. Yang penting perutnya terisi, baru minum obat. Nanti kamu juga bisa tidur lebih nyenyak."

Ia membelai pipi Lian sebelum berkata, "Bangun dulu sebentar, ayo ..."

Dengan pelan, Lian akhirnya bangkit dan bersandar di sandaran dipan. Tubuhnya tampak lemas, tetapi matanya menatap Salsa seperti anak kecil yang sedang minta dimanja.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang