Saat ini, Lian dan Salsa sudah berada di dalam pesawat, dalam perjalanan pulang ke rumah setelah menghabiskan waktu satu minggu penuh kenangan di Jepang.
Perjalanan telah berlangsung sekitar tiga jam, dan suasana kabin terasa tenang, hampir hening. Lampu-lampu di langit-langit kabin diredupkan, menciptakan atmosfer yang nyaman dan damai. Sebagian besar penumpang telah terlelap, sementara lainnya sibuk dengan film, buku, atau hanya menatap kosong ke luar jendela, menunggu waktu berlalu.
Di kursi mereka, Lian tampak gelisah. Ia menggeliat pelan, menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu melirik ke arah Salsa yang duduk di sebelahnya. Tanpa suara, ia menggeser sedikit tubuhnya, lalu menyender manja ke bahu istrinya.
"Ca," panggilnya lirih, nyaris seperti bisikan.
Salsa menoleh, tak bisa menahan senyumnya ketika mendengar nada suara Lian yang khas saat sedang mengantuk, lembut, malas, dan manja.
"Apa, Sayang?" balasnya pelan, sambil mengelus tangan Lian.
"Nenen, Ca," gumam Lian tanpa basa-basi. Matanya sudah berat, nyaris terpejam, tapi bibirnya tetap menyunggingkan senyum kecil yang penuh harap.
Salsa tertawa kecil, menahan suara agar tak mengganggu penumpang lain. Ia menggeleng pelan, lalu meraih selimut abu-abu yang disediakan maskapai, menutup tubuh Lian hingga hanya menyisakan jidat dan matanya yang mengintip lucu dari balik kain.
"Buka sendiri, ya." titah Salsa.
Tanpa ragu, Lian langsung menarik bagian atas baju Salsa dengan gerakan semangat. Ia menyusupkan wajah ke sana, lalu mulai menyusu pelan, sebuah kebiasaan manja yang hanya mereka berdua pahami.
"Ngantuk banget, ya?" tanya Salsa lembut, jemarinya mengelus rambut Lian yang setengah tersembunyi di balik selimut.
Lian mengangguk pelan, masih dalam posisi nyaman. Wajahnya terlihat semakin damai, nafasnya melambat.
Salsa tertawa pelan, suaranya seperti bisikan malam. "Semalam sih nggak mau berhenti ... padahal tau pagi-pagi harus ke bandara. Baru selesai jam dua pagi,"
Lian mendongak sedikit, masih dengan senyum mengantuk di bibirnya. "Ya gimana lagi? Kamu tuh ... terlalu menggoda. Aku kan cuma manusia biasa, Ca. Mana tahan aku .."
Salsa mencubit pipi Lian pelan, wajahnya dibuat sebal-sebal sayang. "Dasar kamu ..."
"Aku tidur ya, Ca ..." gumam Lian lagi, suaranya semakin berat.
Salsa mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi sambil memeluk suaminya erat. Tangannya tetap membelai rambut Lian dengan lembut, sesekali mengecup kening dan pelipisnya.
Dalam keheningan itu, Lian langsung terlelap di pelukannya. Nafasnya teratur, tubuhnya mulai terasa berat karena benar-benar tertidur. Salsa menatap wajah suaminya yang tertutup sebagian selimut, lalu menghela nafas pelan, penuh rasa sayang.
"Kalo di depan aku aja manja begini ... coba kalo orang-orang lihat. Pasti dikira aku yang manja. Padahal aslinya sama aja ... dua-duanya manja," gumamnya pelan, lalu mengecup hidung Lian satu kali lagi.
Langit malam di luar jendela begitu tenang. Lampu-lampu kota kecil yang tampak dari ketinggian bagaikan bintang yang bertebaran di bawah sana. Merasa waktu landing pesawat masih cukup lama, Salsa ikut memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam kehangatan pelukan Lian, menenangkan hati dan tubuh dalam rasa cinta yang begitu tenang.
Di dalam kabin yang hening, dua hati tertidur dalam pelukan, membawa pulang rindu dan kenangan yang tak ternilai dari negeri sakura.
**
Salsa terbangun tiga puluh menit sebelum pesawat dijadwalkan mendarat. Ia meregangkan tubuh sejenak, lalu menguap kecil sebelum melirik ke sisi kirinya. Di sana, Lian masih terlelap dengan wajah damai, bersandar di dada Salsa dan putingnya ternyata masih berada di dalam mulut sang suami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
