Tak Akan Sendiri

1.9K 171 31
                                        

Sudah dua hari lamanya Lian menetap di rumah kedua orang tuanya. Bukan karena ia ingin berlama-lama di sana, melainkan karena satu alasan yang cukup membuat hatinya gelisah setiap waktu: Salsa masih marah dan belum mau menemuinya.

Sejak kejadian itu, Salsa memilih mengurung diri di kamar. Menolak bertatap muka, menolak berbincang, bahkan sekadar menegur pun tidak. Namun, Lian tidak menyerah. Kesabarannya diuji, tapi rasa cintanya jauh lebih besar dari egonya. Setiap hari, ia datang ke depan pintu kamar itu, membujuk dengan cara paling lembut yang ia bisa.

Lian berdiri tepat di depan pintu kamar istrinya. Tangannya terangkat, lalu mengetuk pelan, nyaris ragu, seolah takut mengganggu.

"Sayang... bukan dong pintunya," ucapnya lirih, suaranya dibuat setenang mungkin. "Aku kangen, loh..."

Dari balik pintu, terdengar suara Salsa yang sedikit sengau, jelas masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya reda.

"Gamau... Sana ah," sahut Salsa setengah merengek, namun tetap terdengar keras kepala.

Lian menghela napas pelan. Ia menyandarkan dahinya ke daun pintu, matanya terpejam sejenak.

"Aku beneran kangen, sayang," ucapnya lagi, nadanya lebih lembut. "Dua hari ini aku tidur sendirian terus."

Tak ada jawaban selama beberapa detik. Lian nyaris berpikir istrinya kembali memilih diam, sampai akhirnya suara itu terdengar lagi.

"Aku minta maaf, ya, sayangku," lanjut Lian dengan suara penuh penyesalan. "Aku salah. Aku janji nggak bakal jail lagi. Maafin aku, ya?"

Hening sesaat. Lalu terdengar suara pintu yang masih tertutup, diiringi suara Salsa yang kini terdengar lebih tegas.

"Bawain martabak keju, pudding, pizza. Baru aku bukain."

Lian terdiam beberapa detik, lalu terkekeh kecil meski kepalanya langsung pening membayangkan permintaan itu.

"Sayang," katanya hati-hati, "martabak siang gini emang ada yang jual, hm?" Ia mencoba bernegosiasi. "Puding sama pizza aja dulu, ya?"

"Gamau," jawab Salsa cepat. "Pokoknya kalau nggak bawa salah satunya, aku nggak mau bukain pintu."

Lian mengusap wajahnya pelan, menahan senyum pasrah. "Iya, iya..." katanya akhirnya. "Yaudah, tunggu ya. Mau apa lagi?"

"Stroberi pake yogurt," sahut Salsa tanpa ragu.

Lian terkekeh lemah. "Lengkap banget pesenannya. Itu aja?"

"Iya. Cepetan jangan lama!" balas Salsa singkat.

"Iya, tungguin aku ya, sayang," ucap Lian lembut. "Aku cari semuanya."

Setelah itu, Lian melangkah menjauh dari pintu kamar. Ia menuruni tangga menuju lantai satu dengan langkah cepat, langsung meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja.

"Mau ke mana, Li?" tanya Bunda Yati yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya sambil melipat kain di ruang tengah.

Lian menoleh, lalu menjawab dengan wajah pasrah bercampur senyum kecil. "Beli martabak, puding, pizza, stroberi pake yogurt."

Bunda Yati langsung tertawa lepas. "Lengkap amat. Buat siapa tuh?"

"Buat mantu Bunda, lah," jawab Lian sambil tersenyum kecut. "Biar diampunin. Tapi serius, Bund... martabak siang-siang gini emangnya ada?"

Bunda Yati kembali tertawa, kali ini sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ya nggak tau juga. Coba ke pasar jajanan, biasanya masih ada yang jual."

Lian mengangguk pelan. "Iya, deh."

Our MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang