Bebek Kecil

3.6K 265 9
                                        

Pagi itu, sinar mentari menyusup lembut di antara dedaunan, menerangi ladang peternakan milik Papa Denis yang tak jauh dari kebun. Udara terasa segar, dengan aroma tanah basah dan suara-suara khas pagi hari di desa yang menenangkan.

Salsa berdiri di tepi pagar kandang bersama Lian yang setia menemani di sampingnya. Perutnya yang mulai membesar dibalut cardigan hangat warna krem, sementara tangannya sibuk mengelus perut sambil tersenyum sendiri.

Papa Denis tampak sibuk mengecek kondisi hewan-hewan ternak dan persediaan makanan pagi itu. Ia sesekali berjongkok, memperhatikan dengan teliti tempat makan sapi dan kandang kambing.

"Pa, ambilin anak bebeknya dong, itu lucu banget. Gemes! Caca pengen pegang," ucap Salsa sambil menunjuk beberapa anak bebek kuning yang berlarian kecil di rerumputan dekat kolam kecil.

Lian tertawa pelan. "Sayang, sama aku yang ambilin. Kenapa mesti Papa?"

Salsa langsung mengerucutkan bibir. "No! Papa aja yang ambil. Kamu ambilin air di baskom, pakein kelopak bunga kecil ya, yang warna-warni," perintahnya manja sambil menyengir.

Papa Denis ikut tertawa melihat tingkah anak dan menantunya. "Itu, di ujung sana ada baskom besar. Ambil itu aja, Li. Cocok buat berenangnya anak bebek," ucap Papa Denis sambil menunjuk ke arah tumpukan peralatan cuci ternak.

Lian langsung menurut, berjalan cepat untuk mengambil baskom yang dimaksud.

"Ca mau berapa anak bebeknya masuk ke baskom?" tanya Papa Denis sambil jongkok di dekat kolam.

Salsa mengangkat empat jari sambil tersenyum lebar. "Empat, Pa! Yang kecil-kecil terus aktif ya!"

Papa Denis tertawa kecil, "Iya iya, permintaan anak papa yang satu ini emang selalu aneh-aneh." Ia lalu dengan hati-hati menangkap empat anak bebek kuning dan memasukkannya ke dalam keranjang kecil.

Tak lama, Lian kembali dengan baskom besar berisi air jernih. Di permukaannya, kelopak bunga warna ungu, kuning, dan merah muda mengambang cantik.

"Ini sayang," ucap Lian sambil meletakkan baskom itu di atas tanah datar.

Salsa segera jongkok dengan penuh semangat. Dengan gerakan hati-hati dan penuh sayang, ia memasukkan keempat anak bebek ke dalam baskom. Begitu kaki-kaki mungil mereka menyentuh air, para bebek langsung berenang riang, saling menyambar kelopak bunga dan bermain dengan lincah.

Salsa tersenyum bahagia, matanya berbinar. "Gemesssh banget," gumamnya.

Empat anak bebek kuning itu berenang ke sana kemari, menciptakan cipratan air kecil yang memantulkan cahaya matahari pagi. Kelopak bunga yang mengapung menari perlahan di atas air, menambah kesan damai dan menyejukkan. Suara gemericik air dan gerakan lincah para bebek kecil membuat hati Salsa terasa ringan, seolah semua beban yang sempat hinggap di benaknya ikut hanyut bersama bunga-bunga itu.

 Suara gemericik air dan gerakan lincah para bebek kecil membuat hati Salsa terasa ringan, seolah semua beban yang sempat hinggap di benaknya ikut hanyut bersama bunga-bunga itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lian berdiri di belakang istrinya, mengelus lembut bahu Salsa yang tengah larut dalam pemandangan sederhana namun menghangatkan hati.

Ia menatap perempuan yang dicintainya itu dengan pandangan hangat dan tak lepas dari rasa syukur. Di tengah kehamilan yang penuh dinamika, dengan hormon yang sering membuat emosi tak menentu, Lian tahu betul betapa momen kecil seperti ini begitu berarti bagi Salsa. Baginya, senyum istrinya adalah anugerah, sesuatu yang ingin ia jaga selamanya.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang