Dijenguk

8.3K 388 3
                                        

Menjelang magrib, Lian terbangun karena Salsa membangunkannya. Dengan wajah setengah ngantuk, Salsa merengek sambil menarik-narik lengan suaminya.

"Lian... anterin ke toilet, yuk..." pintanya manja.

Lian mengusap wajahnya sekilas, lalu tanpa banyak bicara langsung bangun dan duduk.

"Ayo.." ucap nya dengan suara parau. 

"Gendong..." pinta Salsa dengan manja.

Tanpa banyak bicara, Lian langsung menggendong istrinya menuju toilet.

Sampai di depan toilet, Salsa merajuk. "Udah, sana kamu keluar," ucapnya sambil mendorong dada Lian pelan.

"Ngapain? Udahlah di sini aja, biar gampang. Kamu kan lagi lemes," balas Lian santai, tetap berdiri di depan pintu.

"Ih, sanalah! Aku sekalian mau ganti pembalut, ish!" omel Salsa, wajahnya memerah malu.

Lian malah tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke wajah Salsa. "Kenapa sih? Malu? Sama suami sendiri malu? Mau sekalian aku bantuin ganti?" godanya dengan suara menggoda.

Salsa memukul bahu Lian pelan. "Bacot! Udah sana ah, dasar suami mesum!" rengeknya sambil cemberut.

Masih tertawa geli, Lian akhirnya keluar dari toilet, tapi dengan sengaja tidak menutup pintunya rapat. Hanya menyisakan sedikit celah.

Salsa yang sadar langsung melotot ke arah pintu. "Awas ya kalau ngintip! Aku colok mata kamu pake suntikan!" ancamnya dengan suara tinggi.

"Ngerinyeee..." ledek Lian sambil tertawa keras dari balik pintu.

Setelah selesai di toilet, Lian kembali masuk lalu tanpa banyak tanya langsung menggendong Salsa dengan hati-hati. Salsa melingkarkan lengannya di leher Lian, wajahnya bersandar manja di dada suaminya.

Sampai di ranjang, Lian pelan-pelan membaringkan Salsa. Ternyata, sudah ada dokter dan suster yang menunggu di dalam ruangan.

"Bu Salsa, kita periksa dulu, ya," ucap dokter dengan ramah sambil tersenyum.

Salsa mengangguk lemah, lalu berbaring dengan bantuan Lian yang sigap merapikan selimutnya. Dokter mulai memeriksa kondisi Salsa dengan teliti.

"Bu Salsa masih perlu istirahat total, ya," jelas dokter. "Makannya jangan sampai telat. Makan sedikit-sedikit juga nggak apa-apa, yang penting sering. Biar lambungnya nggak kosong."

"Iya, Dok," jawab Salsa pelan, memberikan senyum kecil meski wajahnya masih pucat.

"Nanti saya bantu suntikkan obat untuk mengurangi sakit di perutnya. Untuk sementara, hindari kopi, teh pekat, makanan pedas, asam, dan gorengan. Banyakin minum air putih. Makanannya pilih yang ringan dulu, seperti bubur atau sup."

Salsa mengangguk patuh, mendengarkan dengan serius.

"Sedikit-sedikit aja, Bu. Lebih bagus daripada nunggu lapar banget baru makan. Soalnya kalau lambungnya kosong, nanti bisa tambah luka," lanjut dokter.

Lian yang berdiri di sisi ranjang Salsa, memperhatikan dengan seksama. Dokter lalu menoleh ke arahnya.

"Pak Lian, nanti sekalian ambil obat buat Bu Salsa di poli depan, ya," katanya.

"Iya, Dok, nanti saya ambil," jawab Lian cepat. Dokter mengangguk puas.

"Kalau begitu, saya permisi dulu, ya. Kalau ada keluhan seperti mual, pusing, atau sakit makin parah, langsung panggil saja," ucap dokter sebelum meninggalkan ruangan.

Tak lama setelah dokter keluar, suster yang sejak tadi menunggu di samping, mulai menyiapkan suntikan. Dengan lembut, ia menyuntikkan obat ke lengan Salsa.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang