Pagi itu, rumah pasangan muda itu terasa lebih hidup dari biasanya. Salsa dan Lian sudah tampil rapi, mengenakan pakaian kerja mereka masing-masing. Setelah beberapa hari beristirahat total, hari ini akhirnya Salsa kembali bekerja setelah mendapat izin dari suaminya, meskipun dengan segudang syarat dan janji-janji manis agar tak membuat Lian cemas.
Salsa baru saja selesai menyuapi Lian sarapan, dan kini tengah berdiri di depan suaminya sambil merapikan dasi di leher pria itu.
Sambil menatap wajah istrinya dari jarak dekat, Lian kembali mengulang pertanyaan yang entah keberapa kali sejak semalam.
"Kamu yakin mau ikut pemotretan hari ini?" tanyanya, nada suaranya jelas penuh keraguan dan kekhawatiran.
"Iya, yakin. Lagian badanku udah fit, kok. Aku juga bosan terus-terusan di rumah," jawab Salsa sambil menepuk ringan dada suaminya.
Lian tak berkata apa-apa. Begitu dasi terpasang rapi, dia langsung menarik tubuh Salsa ke dalam pelukannya. Pelukannya erat, seolah enggan melepas.
"Kenapa sih? Aku baik-baik aja loh," ucap Salsa sambil menatap matanya.
"Aku ikut kamu aja ke studio, ya? Mau nemenin," ucap Lian tiba-tiba.
"Ish... nggak bisa gitu. Kamu kan ada kerjaan juga di kantor," tolak Salsa halus.
Lian langsung mencebik. "Yah... padahal aku pengen nemenin," gumamnya.
Salsa tertawa kecil melihat ekspresi suaminya. Ia mencubit pelan pipi Lian dan berkata, "Yang semangat dong,"
"Kamu weh sendiri yang semangat. Aku mah mager. Maunya peluk sama cium aja," rengek Lian seperti anak kecil yang merajuk. Membuat Salsa tertawa.
"Cium, Ca..." pinta Lian, kali ini lebih manja dari biasanya.
Salsa mengerutkan kening, menatap Lian heran. "Kamu kenapa sih?"
"Ya nggak kenapa-napa. Emang kenapa?" jawab Lian.
"Gapapa sih ... cuma kamu aneh aja hari ini. Manja banget," balas Salsa sambil menggelengkan kepala.
"Gaboleh manja? Kemarin kamu manja, aku sabar loh," ucap Lian, kembali merengek.
Salsa menghela napas, menyerah. "Iya-iya... jadi maunya apa nih?"
"Cium, Ca..." ulang Lian lagi, kali ini dengan tatapan memohon.
Salsa akhirnya tertawa pelan, lalu menangkup wajah Lian dengan kedua tangannya dan mengecup pipi kirinya, lalu kanan.
"Udah, ya?"
"Belum. Aku juga mau cium kamu," balas Lian cepat.
Karena malas berdebat lagi dan tahu Lian sedang ingin diperhatikan, Salsa pun mengangguk. Lian langsung mencium pipi istrinya dengan senyum senang.
"Udah, ayo berangkat. Nanti kesiangan," ucap Salsa sambil meraih tasnya.
"Siap, bos," jawab Lian, menggandeng tangan istrinya menuju pintu.
**
Lian menghentikan mobilnya perlahan di depan sebuah studio pemotretan bergaya minimalis yang terletak di tengah kota. Ia menoleh ke arah istrinya yang sejak tadi sibuk mengecek isi tas, memastikan semua kebutuhan sudah dibawa.
"Aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati di jalan," ucap Salsa sambil membuka pintu mobil.
Namun belum sempat pintu terbuka, terdengar bunyi klik. Pintu tiba-tiba terkunci otomatis.
"Lian! Nggak lucu, ya! Buka pintunya!" omel Salsa kesal, menatap tajam ke arah suaminya.
"Salim dulu," pinta Lian santai sambil menyodorkan tangannya ke arah Salsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
