Dua hari kemudian, Lian akhirnya menemukan sebuah shelter terpercaya yang menjual kucing jenis Ragdoll. Shelter itu bukan sembarang tempat. Pemiliknya adalah kenalan lama Nando, sahabat dekat Lian, yang memang sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia hewan peliharaan. Selain dipercaya, shelter itu juga dikenal dengan standar perawatan yang tinggi dan hewan-hewan yang dirawat penuh kasih.
Siang itu, udara terasa cerah dan hangat, seolah ikut merayakan kebahagiaan kecil dalam hidup Lian dan Salsa. Lian menjemput istrinya di rumah. Ia menemukan Salsa sudah berdiri di depan pintu sejak dengan wajah terpancar antusiasme yang sulit disembunyikan.
Begitu masuk ke dalam mobil, mata Salsa langsung berbinar.
"Adududuu... excited banget istri aku. Sampai matanya berkilau begitu," goda Lian, tak bisa menyembunyikan senyumnya sendiri, lalu membantu istrinya memasang seatbelt dengan gerakan lembut dan penuh perhatian.
Ia tak lupa mengusap puncak kepala Salsa dengan telapak tangannya yang hangat, lalu mencubit hidung istrinya pelan, gemas.
Salsa membalas dengan senyum lebar, matanya menatap Lian penuh cinta. Ia meraih wajah suaminya lalu mengecup pipinya pelan.
"Ya iyalah! Aku kan mau ketemu anak bulu pertama aku! Kamu nggak excited juga?" tanyanya dengan nada ceria.
Lian tertawa pelan, lalu menyalakan mesin mobil. Ia menoleh sekilas ke arah Salsa sebelum mobil melaju.
"Excited sih ... tapi aku lebih excited liat kamu bahagia, Sayang," ucapnya jujur, matanya menatap lembut wajah istrinya yang sedang berbunga-bunga.
Salsa mengernyit kecil dan mendengus manja, meskipun pipinya jelas-jelas memerah karena tersipu.
"Ciee gombal ... Tapi aku suka," katanya pelan, menggenggam tangan Lian yang berada di atas tuas persneling.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah. Di sepanjang perjalanan menuju shelter, Salsa tak henti-hentinya bercerita. Mulai dari nama yang sudah ia siapkan untuk si kucing, yang katanya masih ada dua kandidat dan akan diputuskan setelah melihat langsung wajahnya, sampai ke warna tempat tidur yang ingin ia beli, mainan-mainan lucu, dan lainnya.
Obrolan ringan mereka mengalir begitu saja, membuat perjalanan singkat terasa jauh lebih menyenangkan. Tawa Salsa memenuhi mobil, dan senyum Lian tak pernah benar-benar menghilang dari wajahnya.
**
Begitu sampai di lokasi, Lian segera keluar dari mobil dan disambut hangat oleh Tio, pemilik shelter yang direkomendasikan oleh Nando. Mereka berjabat tangan dengan akrab, sementara di sisi lain, Salsa baru saja melangkah keluar dari mobil dengan langkah kecil yang antusias.
Begitu matanya menangkap seekor Ragdoll putih di balik kandang bening di sudut ruangan, Salsa seketika terdiam. Tatapannya terpaku. Bulu si kucing terlihat sangat halus dan lebat, memantulkan cahaya siang yang menembus jendela kaca. Tubuhnya duduk anggun, mata biru safirnya menatap dengan ekspresi teduh dan tenang, serta ekornya yang panjang melambai santai seolah tahu dirinya sedang dikagumi.
Salsa menahan napas tanpa sadar. Ada ketertarikan yang muncul begitu saja, bukan hanya karena kelucuannya, tetapi karena energi lembut yang terpancar dari kucing itu. Ia tersenyum perlahan, senyum tulus yang muncul saat seseorang menemukan sesuatu yang sangat ia inginkan. Sejak pandangan pertama, ia tahu, itulah dia, kucing yang akan menjadi bagian dari keluarga kecil mereka.
"Lian, ya?" suara Tio mengalihkan perhatian.
"Iya, gue Lian. Ini istri gue, Salsa," jawab Lian ramah sambil melirik ke arah istrinya yang sedang menatap si Ragdoll dengan tatapan penuh cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
