Third day in Japan.
Pagi ini, Salsa tampak antusias karena mereka akan mengunjungi tempat yang sudah lama ia impikan, Tokyo DisneySea.
"Sayang, ayo dong. Udah siap belum? Kok lama banget sih?" tanya Lian sambil memeluk istrinya dari belakang, dagunya bersandar manja di pundak Salsa.
Salsa yang sedang berdiri di depan cermin, merapikan makeup-nya, hanya menghela napas panjang. "Sabar dong. Lagian ini juga salah kamu," omelnya sambil menatap pantulan wajah Lian di cermin.
"Aku udah bilang tadi, mandi sendiri-sendiri aja. Tapi kamu ngeyel, maksa mandi bareng. Jadinya sekarang malah telat siap-siap, deh."
Ia mendengus kesal, mengoleskan lip tint-nya dengan gerakan cepat. "Coba tadi kita nggak barengan, pasti udah kelar dari tadi."
Lian terkekeh kecil, tak merasa bersalah sedikit pun. "Iya, iya ... aku minta maaf, ya. Jangan ngambek gitu dong," rayunya, mencoba meredakan suasana.
Salsa menatapnya sekilas dari cermin. "Lagian kamu ... Jangan suka ngeburu-buru. Kalau diburu-buruin gitu malah makin lama tau nggak?"
"Iya, Sayang. Maaf ya ..." ucap Lian dengan nada lembut, lalu mengecup kepala istrinya yang masih belum mengenakan hijab.
Salsa menahan senyum, meski wajahnya tetap terlihat kesal. Ia menepuk tangan Lian pelan. "Udah, lepas dulu. Aku mau pakai hijab dulu," ucapnya sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan manja suaminya.
Lian pun menurut, meski masih memasang wajah memelas seperti anak kecil yang dimarahi. Sementara itu, Salsa bergegas mengambil hijabnya.
**
Setelah selesai bersiap, mereka segera bergegas menuju destinasi impian hari itu. Tak butuh waktu lama, kini Lian dan Salsa telah berdiri di depan pintu masuk utama Tokyo DisneySea. Suasana ramai tapi menyenangkan, dengan banyak pengunjung yang tampak antusias menyambut hari petualangan mereka.
Salsa berjalan di sisi Lian sambil menatap sekeliling dengan mata berbinar. Tangannya tak lepas dari genggaman suaminya.
"Lian, nanti pas pulang kita mampir ke toko Emporio, ya? Aku mau beli boneka," ucapnya dengan nada manja, matanya masih sibuk mengamati dekorasi khas taman hiburan itu.
Lian tersenyum, lalu mengelus lembut tangan istrinya yang ia genggam erat. "Iya, Sayang. Nanti kita mampir. Pilih boneka yang paling kamu suka," ucapnya hangat.
Salsa mengangguk antusias, senyumnya mengembang lebar. Hari itu baru saja dimulai, dan rasanya seperti dunia dalam dongeng benar-benar terbuka lebar di depan mereka.
Mereka berjalan bergandengan tangan, menikmati setiap sudut taman hiburan yang penuh warna. Sampai akhirnya, mata Lian menangkap satu wahana tinggi menjulang dengan desain klasik menyeramkan, Tower of Terror.
"Ca, kita coba Tower of Terror, yuk!" ajak Lian penuh semangat, matanya berbinar.
Salsa langsung menghentikan langkah, menatap suaminya dengan mata membulat. "Yang itu?! Serem banget, Lian! Gamau ah."
"Kan ada aku, Sayang ..." bujuk Lian sambil menarik tangan istrinya dengan lembut. "Ayolah ... nggak seseram itu kok. Serius deh, pasti seru banget. Please ..." pintanya, kali ini sambil memasang ekspresi memelas.
Salsa mendesah pasrah. "Yaudah, iya ... tapi kamu harus pegang tangan aku gaboleh lepas!"
Lian langsung tersenyum lebar dan mengacungkan jempol. "Siap, Princess!"
Mereka pun memasuki wahana itu, dengan Salsa yang refleks menggenggam erat tangan Lian begitu masuk kedalam. Selama perjalanan, suara teriakan Salsa benar-benar memenuhi ruangan, membuat beberapa pengunjung lain ikut tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
