"Assalamualaikum ..." ucap Lian pelan saat melangkah masuk ke rumah kedua orangtuanya. Suaranya lembut, nyaris berbisik, seolah tak ingin mengganggu sosok yang tengah tertidur di gendongannya.
Dari ruang tengah, Bunda Yati yang tengah duduk santai menonton acara televisi menoleh cepat. Begitu melihat Lian membawa Salsa di pelukannya, alisnya langsung mengerut.
"Waalaikumsalam ... Itu kenapa mantu Bunda digendong segala? Sakit, Nak?" tanyanya cemas, matanya menatap lekat ke arah wajah Salsa yang tampak tenang dalam pelukan.
Lian tersenyum kecil, menenangkan. "Nggak, Bun. Tidur, ini anaknya. Tadi bilang ngantuk berat, terus nggak mau dilepas dari gendongan. Jadi ya, begini deh."
Bunda Yati menghela napas lega, lalu tersenyum geli. "Ya Allah, kirain kenapa. Hampir bikin jantung Bunda copot aja. Yaudah, sana tidurin di kamar, biar nggak pegel kamu gendongin terus."
Namun Lian justru menurunkan dirinya duduk di sofa, masih tetap memangku istrinya dengan penuh hati-hati. Ia menyelipkan tangan di belakang kepala Salsa, memastikan posisi tidurnya tetap nyaman.
"Nanti bangun kalau aku tinggal, Bun. Lagi manja banget, kayak bayi. Tadi sepanjang perjalanan juga minta dielus terus perutnya," ucap Lian sambil tertawa pelan.
Bunda Yati ikut tertawa. Ia lalu mendekat, duduk di sebelah mereka dan mengelus pelan punggung Salsa yang masih terlelap.
"Kok tiba-tiba sore-sore gini mampir? Biasanya ngabarin dulu kalau mau ke sini," ucapnya penuh rasa ingin tahu, meskipun senyumnya tetap hangat.
Lian menoleh ke arah ibunya, masih dengan ekspresi lembut. "Tadi Salsa minta bubur kacang hijau. Udah sempat beli di luar, tapi dia cuma cium aromanya, terus bilang pengennya buatan Bunda aja. Nggak doyan yang lain katanya."
Bunda Yati terkekeh kecil, lalu mengelus perut Salsa meski agak sulit dijangkau karena posisi gadis itu yang tertidur menyamping di dada Lian. "Cucu Oma ini udah mulai ngasih kode ya. Baru lima minggu udah milih-milih makanan."
Lian tersenyum penuh haru sambil mengecup lembut ubun-ubun istrinya. "Iya, Bun. Aneh ya ... biasanya dia nggak rewel sama sekali soal makanan. Dibeliin apa aja dimakan, nggak pernah banyak komentar. Tapi sekarang, maunya ini-itu, dan harus sesuai mood. Kadang yang tadi dibilang pengen, pas udah disiapin malah didiemin. Baru lihat makanan aja, dia udah bisa tau bakal doyan atau nggak. Harus pas banget sama seleranya saat itu juga," ucap Lian sambil tertawa kecil, matanya tak lepas dari wajah istrinya yang tertidur damai.
Bunda Yati tersenyum lebar. Ia lalu menatap menantunya yang terlelap dengan pandangan penuh kasih dan pengertian. "Itu namanya efek hormon, Nak. Wajar banget. Perubahan suasana hati, selera makan yang naik turun, gampang capek, sensitif ... semua itu bagian dari perjalanan kehamilan. Bunda dulu juga gitu waktu hamil kamu. Tapi justru bagus loh Salsa bawaannya pengen nempel terus sama kamu. Kadang ada lho, perempuan yang lagi hamil malah bawaannya nggak mau dekat-dekat sama suaminya, entah karena penciumannya sensitif atau emosinya lagi naik turun."
Lian terkekeh pelan, membenarkan posisi pelukan agar Salsa makin nyaman. "Iya sih, Salsa malah makin manja sekarang. Kalau aku pergi sebentar aja, dia bisa langsung video call, nanya lagi di mana, pulangnya kapan. Tapi jujur ya, Bun ... aku seneng. Rasanya kayak ... dibutuhin. Kaya beneran jadi rumah buat dia." ucap Lian sambil mengecup ujung bibir istrinya.
Salsa tak bergerak sedikit pun. Napasnya teratur dan tenang, menunjukkan betapa damainya ia dalam pelukan suaminya. Bahkan saat Bunda Yati membelai pipinya perlahan, hanya ada sedikit geliat kecil sebelum ia kembali lelap.
"Alhamdulillah ... Yaudah, kalo gitu Bunda bikinin sekarang ya," ujar Bunda Yati seraya berdiri. "Biar nanti pas Salsa bangun, buburnya udah jadi dan masih hangat. Dia pasti seneng."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
