Suatu pagi yang agak mendung, Lian masih bergelut dengan selimut tebalnya. Sisa-sisa lembur semalam membuat tubuhnya enggan beranjak dari ranjang. Kepalanya masih berat, dan mata masih lengket. Tapi ketenangan paginya langsung buyar saat suara ketukan dan teriakan sang bunda menggema dari balik pintu.
Tok tok tok!
"Lian! Bangun! Udah jam sembilan, kamu masih aja meringkuk kayak bayi!" seru Bunda Yati dengan nada kesal. Ini sudah ketiga kalinya ia membangunkan anak semata wayangnya itu.
"Anak satu-satunya tapi kebonya bukan main. Heran deh!" gerutunya lagi sambil menggeleng kesal.
"Iya, Bun! Lian udah bangun, kok!" sahut Lian malas, sambil menarik selimut menutupi wajah.
"Bentar lagi turun. Nenek nungguin kamu tuh di bawah!" teriak Bunda lagi sebelum akhirnya berbalik turun ke lantai bawah.
Lima belas menit kemudian yang terasa seperti satu jam untuk sang bunda, Lian akhirnya turun juga. Lelaki tinggi dengan rambut sedikit berantakan itu mengenakan kaos abu dan celana pendek. Wajahnya masih tampak setengah ngantuk, tapi senyumnya langsung muncul saat melihat sang nenek dan ibunya duduk di ruang tengah sambil menonton TV.
"Kamu hari ini nggak ke kantor, Lian?" tanya Bunda Yati sambil melirik ke arah anaknya.
"Nggak, Bun. Semalam Lian udah lembur sampai tengah malam. Hari ini Lian mau istirahat aja," jawabnya sambil meregangkan badan.
"Tadi Bunda bilang, Nenek manggil Lian?"
Rika, sang nenek, menoleh sambil menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya.
"Sini, duduk deket Nenek dulu."
Lian segera menghampiri dan duduk di samping Nenek Rika, mencium tangan wanita tua itu dengan penuh hormat. Nenek Rika menatap Lian sebentar, senyumnya tipis tapi matanya tampak serius.
"Nenek mau ngomong sesuatu, Lian..."
Lian menoleh cepat, penasaran. "Kenapa, Nek?"
Nenek menarik napas pelan, lalu berkata, "Nenek udah tua, Lian. Tapi sebelum Nenek benar-benar nggak bisa ngapa-ngapain, Nenek pengen lihat kamu... settle. Nggak cuma kerja keras terus, tapi juga ada yang nemenin kamu di rumah."
Lian mengernyit. "Maksud Nenek...?"
"Lian, Nenek ingin kamu menikah dengan Salsa," ucap Nenek Rika tiba-tiba, menatap cucunya dengan sorot mata penuh harap.
Lian terdiam sejenak, menatap Nenek dengan alis mengernyit. "Loh, kenapa mendadak banget, Nek?"
Nenek Rika tersenyum tipis, tapi sorot matanya mulai berkaca-kaca. "Lian, kamu tahu kan kondisi Nenek sekarang? Nenek sering sakit-sakitan... dan Nenek rasa, mungkin umur Nenek juga nggak lama lagi. Kakekmu sudah lama menunggu Nenek di sana..." suaranya pelan, lirih, seolah menahan tangis.
"Nenek... jangan ngomong kayak gitu," ucap Lian, suaranya ikut melemah.
"Tapi itulah kenyataannya, Nak," lanjut Rika dengan tenang. "Dan sebelum waktu Nenek habis, ada satu hal yang paling Nenek ingin lihat cucu Nenek menikah. Bukan dengan sembarang orang, tapi dengan perempuan yang Nenek percaya... Salsa."
Lian terdiam. Nama itu tak asing di telinganya. Salsa, anak sahabat lama nenek, sering berkunjung, membantu Nenek, dan selama ini memang dekat dengan keluarga.
"Salsa anak yang baik, Lian. Cantik, sopan, dan Nenek sayang sekali sama dia. Nenek yakin dia bisa jadi istri yang baik buat kamu."
Ia menghela napas, lalu menggenggam tangan Lian dengan erat.
"Kalaupun Nenek nanti tak bisa melihat kamu menggendong anakmu sendiri... setidaknya, biarkan Nenek menyaksikan kamu bersanding di pelaminan. Itu sudah cukup membahagiakan hati Nenek."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Hayran Kurgu"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
