Hari ini menjadi hari yang begitu istimewa bagi Lian dan Salsa. Usia kandungan Salsa genap memasuki bulan ketujuh, fase yang selama ini mereka tunggu dengan penuh doa, harap, dan rasa penasaran. Hari ini bukan sekadar pemeriksaan rutin, melainkan momen berharga untuk memastikan kondisi si kecil sekaligus mengetahui jenis kelamin anak pertama mereka.
Sejak pagi, suasana hati Salsa terasa lebih cerah dari biasanya. Ada getar bahagia yang sulit ia sembunyikan. Di ruang tunggu klinik, ia duduk berdampingan dengan Lian, punggungnya bersandar nyaman di kursi, sementara kedua tangannya sibuk mengelus perutnya yang kini semakin membulat. Sentuhan itu dilakukan berulang-ulang, lembut dan penuh kasih, seolah sedang menyapa kehidupan kecil yang tumbuh di dalam sana.
Senyum di wajah Salsa tak pernah benar-benar pudar. Matanya berbinar, memantulkan rasa bahagia yang begitu jujur.
"Excited banget akuuu!" serunya ceria, nada suaranya riang seperti anak kecil yang tengah menunggu kejutan besar.
Lian yang duduk di sampingnya menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata hangat. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya, senyum yang sarat rasa syukur dan cinta. Tangannya terulur, mengusap punggung tangan Salsa dengan lembut.
"Aku juga excited," jawabnya pelan namun mantap. Suaranya tenang, tapi mengandung getaran bahagia yang sama besar.
Salsa menoleh, menatap suaminya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Tangannya tetap berada di perutnya, mengelus perlahan dengan gerakan penuh kelembutan.
"Kamu maunya apa?" tanyanya pelan, lalu tersenyum kecil. "Cewek atau cowok?"
Lian tertawa kecil, lalu menggenggam tangan Salsa lebih erat. Ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya dengan gerakan menenangkan, seolah sedang menimbang jawabannya dengan hati-hati.
"Kalau dikasih pilihan," ucapnya pelan, "aku maunya cewek."
Salsa tersenyum, matanya berbinar semakin terang. Lian melanjutkan, suaranya terdengar penuh imajinasi dan harapan.
"Biar aku punya little princess," katanya lembut. "Yang bisa aku lindungi, aku manjain, aku jagain seumur hidup. Aku mau jadi cinta pertamanya, mau jadi tempat pulangnya kalau dia capek sama dunia."
Salsa tersenyum semakin lebar, dadanya terasa hangat mendengar ucapan suaminya. Namun rasa penasarannya belum sepenuhnya terjawab.
"Kalau cowok?" tanyanya lagi, nadanya lembut namun penuh ingin tahu.
Lian menatap Salsa dengan tatapan teduh sebelum mengalihkan pandangannya ke perut istrinya. Tangannya berpindah, mengusap perut itu dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga.
"Kalau cowok," ucapnya mantap, "aku bakal tetap sayang sepenuh hati."
Ia tersenyum kecil sebelum melanjutkan, suaranya terdengar lebih dalam dan penuh makna.
"Dia tetap darah daging kita. Hadiah terbaik dari Allah. Aku bakal pastiin dia tumbuh jadi laki-laki yang baik, kuat, bertanggung jawab, dan tahu caranya melindungi ibunya."
Lian kembali menatap Salsa, sorot matanya penuh cinta.
"Yang paling penting, dia sehat, Sayang," lanjutnya lembut. "Cewek atau cowok, dia bakal jadi anak paling beruntung, karena punya ibu sebaik kamu."
Salsa terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Ada rasa haru yang perlahan memenuhi dadanya. Senyum kecil terbit di wajahnya, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Aamiin," ucapnya pelan. "Semoga Allah ngasih yang terbaik. Kalau perempuan seperti yang kamu mau, aku seneng. Dan kalau cowok pun aku seneng."
Ia mengelus perutnya lagi, kali ini dengan senyum penuh rasa syukur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
