Sebelumnya
"Yo, Giyuu!", ujar pemuda berambut peach seraya mengangkat tangan kanannya
"Selamat malam, Giyuu-san", ujar pemuda berambut hitam kemerahan dengan membawa beberapa kantung makanan dan minuman
.
.
.
.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam ketika dua makhluk tidak diundang itu datang ke apartemen Giyuu
"Lama sekali kau membukakan pintu untuk kami. Sedang apa sih kau ini?", tanya Sabito pada Giyuu seraya melepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak khusus sepatu yang telah disediakan. Giyuu tidak menanggapi kata-kata Sabito, ia sibuk mengambil kantung-kantung makanan yang dibawa oleh Tanjiro. "Banyak dan berat juga", pikirnya
"Permisi, maaf menganggu", ujar Tanjiro sopan sementara kedua tangannya sedang membuka sepatu miliknya, kemudian ia mengikuti hal yang sama seperti yang Sabito lakukan
Giyuu mempersilakan mereka masuk ke ruang tengah, sedangkan pemuda itu sendiri berjalan menuju dapur untuk mengambil beberapa piring. Ketika dua pemuda berbeda umur itu tiba di ruang tengah. Mereka terdiam melihat kondisi ruangan tersebut yang agak berantakan. Haori tua yang tidak terlipat rapi, dua buku usang yang salah satunya masih terbuka, dan beberapa hiasan rambut milik wanita berserakan di lantai
Sabito dan Tanjiro saling menghela nafas secara bersamaan sebelum akhirnya memutuskan untuk merapikan barang-barang tersebut, Mereka tahu permasalahan Giyuu dan ingatannya. Tentunya, selain keluarga inti Giyuu
Giyuu yang sudah selesai dengan urusannya di dapur dan membawa beberapa piring ke ruang tengah sempat terdiam melihat dua orang yang berarti dalam hidupnya sedang merapikan barang-barangnya di masa lalu
"Ingat masa lalu lagi kah? Bukankah sudah ku bilang kalau itu hanya masa lalu mu. Kami semua disini baik-baik saja. Nikmatilah kehidupan mu yang sekarang", ucap Sabito yang sekarang sedang melipat haori milik Giyuu
Giyuu tidak membalas. Pemuda itu lebih memilih untuk membuka kaleng bir yang dibawa oleh Tanjiro. Tenang, Tanjiro minumnya bukan bir kok, dia anak baik-baik
"Hanya mengingat hal yang perlu ku ingat. Tidak semua", ujar Giyuu setelah menghabiskan setengah minumannya
Sabito terdiam. Ia menatap lekat ke arah Giyuu yang membuat pemuda itu merasa risih diperhatikan sampai segitunya. Merinding.
"Apa kau baru saja menangis?", tanya Sabito masih menatap lekat ke arah Giyuu. Ia baru menyadari bahwa seperti ada sisa-sisa air di pipi pemuda itu
Giyuu terdiam sebelum akhirnya menjawab dengan tenang, "tidak. Sebelum membuka pintu untuk kalian. Aku membasuh wajah ku"
Sabito menghela nafas, "apa kau teringat dengan gadis kupu-kupu itu?", tanya Sabito
Sementara itu, Tanjiro yang belum menyelesaikan urusannya terdiam ketika ia membaca halaman terakhir buku kesehatan milik Giyuu di masa lalu. Matanya terlihat berkaca-kaca membaca untaian demi untaian tulisan tangan dari kakak kelasnya di masa lalu. Tanjiro tahu kalau wanita yang selama ini dicari oleh Giyuu adalah kakak kelasnya di sekolah. Ia menoleh ke arah Giyuu yang sedang menatap buku yang ada di tangannya
"Ya, setiap hari aku selalu teringat olehnya. Apalagi sekarang aku sudah bertemu dengannya dan aku menciumnya saat itu. Pikiran ku semakin tidak bisa lepas darinya", jelas Giyuu panjang lebar
KAMU SEDANG MEMBACA
One More Time
FanfictionSinopsis: Tomioka Giyuu ingin memulai kembali kisah cintanya dengan Kocho Shinobu. Giyuu paham bahwa di masa lalu, mereka tidak memiliki kesempatan. Karena itu, di masa kini, di kehidupan yang damai ini, ia ingin memulai kembali kisah cintanya denga...
