Kegelisahan, Dukungan Kawan dan Ancaman

327 27 11
                                        

Sudah 2 hari berlalu sejak ancaman Douma kepada Giyuu. Kata-kata beracun milik reinkarnasi Iblis Bulan Atas Kedua itu masih menghantui Giyuu, bahkan ketika ia mengajar, membuat pemuda tampan kesayangan kita ini tidak fokus. Giyuu duduk di kursi ruang guru. Berkali-kali mengusap wajahnya guna mengurangi perasaan cemas yang menyelimuti dirinya. Sanemi yang melihatnya jadi curiga

"Kenapa kau?" tanya Sanemi berusaha perhatian walaupun nada kasarnya masih ada

Giyuu diam. Menimbang apakah perlu memberitahu Sanemi atau tidak. Ia menatap Sanemi yang balas menatapnya

"Kau tidak memiliki alis," kata Giyuu membuat urat-urat kemarahan Sanemi terlihat

"Brengsek, ini sudah dari sananya!" bentak Sanemi. Pemuda kasar itu berbalik berniat meninggalkan Tomioka yang menyebalkan, tapi langsung terhenti ketika Giyuu mengatakan hal yang membuatnya murka

"Douma mengancamku kalau ia tidak bisa memiliki Shinobu, maka aku juga tidak," katanya

"Lalu? Apa kau akan membiarkan kata-katanya memengaruhimu?" tanya Sanemi

"Tentu saja tidak, aku tidak akan menyerah dan mengalah. Aku sudah menunggu Shinobu selama ratusan tahun. Tidak akan ku biarkan siapapun mengganggu," kata Giyuu yakin

"Bahkan?" tanya Sanemi

"Bahkan orang tua Shinobu," kata Giyuu main-main. Sanemi menyeringai. "Ibu Kanae menyukaimu, ini kesempatan emas," kata Sanemi lagi sebelum berbalik meninggalkan Giyuu

"Aku akan ke rumah sakit. Kau ikut?" tanya Sanemi dari meja kerjanya

Giyuu mengangguk dan mengemas barang-barangnya, "tentu,"

.
.
.

Kedua pemuda tampan itu berjalan di lobi rumah sakit, Giyuu ingin menjenguk Kanae lebih dulu sebagai sesama rekan kerja baik di masa lalu maupun masa kini dan sebagai calon adik ipar yang baik. Oh percaya diri sekali tuan muda satu ini

Mereka bertiga berbincang sejenak, Kanae sudah kembali ceria bahkan menggoda Giyuu yang dibalas dengan datar

"Kau sangat setia sekali pada Shinobu-chan ku, Tomioka-sensei," kata Kanae bercanda

"Aku ingin melindunginya," kata Giyuu

Kata-kata itu berhasil membuat Kanae terdiam, lalu tersenyum lembut. "Aku belum bisa menjenguk Shinobu, tolong titip dia ya," kata Kanae

"Tentu. Kau bisa mempercayakan dia padaku," kata Giyuu

Mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya Giyuu pamit. Ia membungkuk sedikit dan keluar dari ruangan

.
.
.

Ketika Giyuu sampai di ruangan Shinobu, ia terkejut melihat Douma berdiri di sisi Shinobu. Tangan Douma nyaris mencekik leher Shinobu

"Apa yang kau lakukan, brengsek?!" kata Giyuu mencengkeram erat tangan Douma dan mendorongnya

"Oh, Tomioka-sensei, selamat malam," kata Douma santai

"Apa yang kau lakukan?" tanya Giyuu. Ia segera memeriksa Shinobu dan tidak menemukan apapun yang membahayakan kondisi gadis itu

"Aku? Aku hanya menyapanya," kata Douma santai

"Menyapa? Kau ingin membunuhnya. Keluar dari sini," kata Giyuu tajam. Giyuu ingin melaporkannya pada polisi, tapi sayangnya ia tidak memiliki bukti

Douma balas menatap dingin ke arah Giyuu. "Ini belum selesai," kata pria itu sebelum keluar dari ruang rawat Shinobu

Giyuu melihat CCTV di ujung ruangan kamar rawat Shinobu dan berdecak. "Sial! CCTV tidak berguna," kata Giyuu ketika melihat CCTV mati. Pantas Douma bisa bertindak seperti tadi

.
.
.

Langkah kaki Douma menggema di lorong rumah sakit yang sedikit sepi. Ia memang mencintai Shinobu, tapi dendam itu juga ada. Sama besarnya dengan rasa cintanya. Rasa cinta dan dendam itu sudah tertanam dalam dirinya selama ratusan tahun

Douma yang berjalan dengan langkah tidak fokus tanpa sengaja menabrak seseorang. Ia segera menarik tangan orang itu agar tidak terjatuh

"Maafkan aku. Kau baik-baik saja?" kata Douma sebelum akhirnya matanya melebar sempurna

"Ya, aku baik. Terima kasih," kata orang itu

Mereka bertatapan sejenak sebelum akhirnya Douma membungkuk dan berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan orang itu yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan

.
.
.

Sementara itu Sanemi mengusap lembut lengan kanae yang mengusap rambutnya sama lembutnya. Pandangan mereka bertemu penuh cinta dan kasih sayang

"Jangan seperti kemarin lagi, Kanae. Kalau kau ingin kemanapun, kau bisa memanggilku dan aku akan mengantarmu," kata Sanemi

Kanae tertawa kecil. "Maaf, tapi aku tidak mungkin merepotkanmu terus menerus, Sanemi-kun."

"Lebih baik aku dibuat repot oleh mu seumur hidupku daripada aku harus kehilangan kau untuk kedua kalinya. Tidak, Kanae. Sudah cukup di era menyebalkan itu aku kehilangan kau. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi," kata Sanemi dengan wajah kesal

Kanae tersenyum lembut. "Aku janji tidak akan kemana-mana, Sanemi-kun. Buktinya aku masih disini sekarang."

Sanemi menghela nafas. Ia meletakkan kepalanya di ranjang dan Kanae mengusap pipinya. Jari-jarinya yang lentik dan panjang bermain di sekitar pipi dan anak rambut Sanemi. "Aku hanya.. tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali," katanya seraya memejamkan mata, menikmati belaian dari sang kekasih

"Maafkan aku. Akan ku pastikan hal ini tidak terulang kembali," kata Kanae lembut. Ia membiarkan Sanemi tidur di sana. Pikiran Kanae melayang pada ketiga adiknya, terutama Shinobu yang masih belum sadar. Kanae berdo'a semoga Shinobu segera sadar dan mereka berempat bisa berkumpul kembali

.
.
.

Giyuu ingin diskusi tentang kejadian tadi dengan Sanemi, tapi ia lihat Sanemi masih sibuk dengan Kanae. Ia duduk di kursi samping Shinobu dan menggenggam tangannya

"Bangun, Shinobu," kata Giyuu, nada suaranya penuh permohonan

Hidup dalam ketidakpastian sangatlah menyebalkan. Ia hanya ingin Shinobu sadar untuk saat ini. Ia hanya ingin Shinobu membuka mata violetnya yang cantik dan menatapnya dengan binar kehidupan yang indah. Ia ingin melihat Shinobu tersenyum lagi

Giyuu tidak mau, tidak ingin kehilangan Shinobu untuk kedua kalinya

Pemuda itu mencengkeram erat namun lembut tangan kecil Shinobu. Bangun dan lihat aku, selalu disini, untukmu, Shinobu, kata Giyuu. Ia membawa tangan shinobu ke bibirnya untuk ia kecup

Ketika sedang asik menikmati kulit lembut gadis itu. Suara Shinobu yang memanggilnya membuatnya terpaku

"Tomioka-sensei," kata Shinobu lemah

Mata Giyuu melebar melihat Shinobu yang berusaha membuka kedua matanya. Giyuu segera bangkit dan menatap Shinobu

"Shinobu, aku disini. Kau aman sekarang," kata Giyuu dengan suara bergetar

"Terima kasih, Tomioka-san," kata Shinobu yang sudah membuka mata, namun kesadarannya masih belum pulih

Giyuu terpaku mendengarnya. Shinobu memanggilnya "Tomioka-san", apakah Shinobu mengingatnya? Mengingat Era Taisho seperti dirinya?

Belum sempat ia bertanya. Shinobu sudah tertidur kembali. Giyuu segera menekan tombol untuk memanggil dokter dan perawat. Karena, terlalu fokus pada Shinobu yang sadar. Giyuu lupa hal penting, yaitu memanggil dokter dan perawat

"Aku akan melindungimu, Shinobu. Aku janji," kata Giyuu mengecup kening Shinobu dengan lembut

.
.
.





To be continued

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

One More TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang