Keajaiban yang Ditunggu

492 33 10
                                        

Giyuu duduk di kursi tepat di sisi Shinobu dengan pandangan kosong. Ia meraih tangan kecil gadis itu dengan penuh kelembutan lalu mengarahkan ke bibirnya untuk dikecup

"Aku tahu, tidak seharusnya seorang guru mencintai muridnya sendiri, tapi Shinobu, kau bukan hanya muridku. Kau lebih dari itu. Kau adalah hidupku," kata Giyuu parau

Tidak ada tanggapan apapun dari Shinobu. Kata-kata Giyuu hanya dibalas dengan suara nafas yang teratur

"Setelah kau lulus, ayo kita buat kisah kita yang sebelumnya belum ditulis. Hanya aku dan kau," kata Giyuu mencium kening shinobu lembut

.
.
.

Sementara itu, di kamar rawat Kanae. Sanemi menatap sendu ke arah tunangannya. Belum ada tanda-tanda bahwa Kanae akan bangun dari tidurnya

"Mau sampai kapan kau tidur terus? Kau tidak merindukan ku kah?" Tanya Sanemi penuh kerinduan

Jari-jarinya yang kekar mengusap lembut rambut Kanae yang panjang dan terurai indah di ranjang. Tiba-tiba, mata Kanae bergerak. Sanemi langsung bangkit dan memanggilnya

"Kanae," kata Sanemi

Tak kelopak mata Kanae terbuka. Matanya yang bersinar lembut melirik ke arah Sanemi

"S-sanemi-kun," kata Kanae lemah

"Oh, Tuhan, terima kasih," kata Sanemi lalu mengecup kening tunangannya. Ia segera menekan tombol untuk memanggil dokter dan perawat

Air mata Kanae mengalir yang langsung diusap lembut oleh Sanemi. Pria itu mengecup punggung tangan kekasihnya dengan lembut

"Aku janji, kau tidak akan pernah berada dalam situasi seperti ini lagi," kata Sanemi lembut

.
.
.

Giyuu mendengar keributan di luar. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu. Lalu menoleh ke arah kamar rawat Kanae. Ia mengintip dari kaca yang menghubungkan antara luar dan dalam ruangan

Mata Giyuu melebar. Kanae sudah sadar. Ia bisa melihat Sanemi dan Nyonya Kocho sedang berbicara dengan dokter. Giyuu mundur dan masuk kembali ke ruang rawat Shinobu. Ia meraih tangan Shinobu dan menggenggamnya erat

"Shinobu, Kanae sudah sadar. Kapan kau sadar?" tanya Giyuu pelan

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang menusuk Giyuu dengan kejam

"Mungkin tidak akan pernah sadar. Shinobu-chan terlalu keras kepala, kau tahu," kata Douma yang berdiri bersandar pada pintu

Giyuu menatapnya dingin, "mau apa kau kesini?" tanya pria itu penuh kebencian

Douma mengangkat bahu dan berjalan mendekati Giyuu dan Shinobu, "tentu saja, menjenguk tunanganku," kata Douma santai

Giyuu berdiri di antara Shinobu dan Douma. Ia tidak akan pernah membiarkan Douma mendekat

"Kau tidak punya hak untuk berada disini, pergi," kata Giyuu

Douma terkekeh, "justru kau yang tidak punya hak. Kau siapa? Hanya gurunya. Aku? Tunangannya. Sudah jelas disini, posisi ku lebih tinggi darimu," kata Douma mengejek Giyuu

Pria dengan rambut dark blue itu menatap tajam ke arah Douma, "aku akan merebut dia darimu, brengsek," kata Giyuu tajam

Sebelum Douma membalas, Nyonya Kocho datang dan menenangkan situasi yang terlihat berat

"Sudah cukup kalian berdua," kata Nyonya Kocho lembut dan tegas. Pandangan Nyonya Kocho ke arah Douma, "Douma-san, jika anda disini hanya untuk membuat keributan lebih baik pergi dari sini. Putriku membutuhkan ketenangan," katanya lembut dan tegas

Douma tersenyum ramah, "baiklah, aku mengerti," katanya berjalan ke arah Giyuu dan berbisik, "jika aku tidak bisa memilikinya, kau pun juga tidak bisa," kata Douma tanpa ampun

Giyuu membeku mendengar perkataan Douma. Sebelum ia sempat membalas, Douma sudah pergi dari ruangan

Nyonya Kocho menatap Giyuu, "kau baik-baik saja, nak?" tanyanya lembut

Giyuu mengangguk kaku, "iya, hanya sedikit lelah," katanya

"Istirahatlah, biar aku yang menjaga Shinobu," kata Nyonya Kocho lembut lalu duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Giyuu

Giyuu mundur ke arah jendela. Ia memilih untuk tetap berada di ruangan Shinobu. Tangannya terkepal erat. Kata-kata Douma sangat menghantamnya, membuatnya takut. Takut kehilangan Shinobu lagi. Ini seperti pernyataan perang dari Douma. Ia menatap Shinobu yang masih terlelap

"Aku tidak akan kalah. Aku akan melindungimu walaupun harus mengorbankan nyawaku sendiri," kata Giyuu









To be continued

One More TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang