Badai

275 28 6
                                        

Shinazugawa Sanemi kembali ke rumahnya dengan perasaan yang tidak dapat ia jelaskan. Setelah pembicaraan dengan mantan rekan sesama Hashira, Tomioka Giyuu, mengenai iblis bulan atas dua yang telah merenggut nyawa wanita yang mereka cinta di masa lalu

"Bagaimana bisa iblis itu dihidupkan kembali?"
"Bukankah semua dosa yang si brengsek itu lakukan tidak bisa dimaafkan?"
"Bagaimana bisa Tuhan memaafkannya dan memberikan iblis itu kesempatan untuk hidup?"

Sanemi merasa seluruh darah dalam tubuhnya mendidih. Namun, Sanemi tahu di antara semua perasaan yang tak dapat ia jelaskan itu ada tiga perasaan yang paling besar dalam hatinya

Kemarahan, kebencian, dan dendam

Ia berharap bahwa Kanae, Shinobu, dan Kanao tidak mengingat masa lalu mereka serta tahu siapa itu Douma di masa lalu

"Nii-chan, kenapa melamun di depan pintu?" tanya seseorang pada pemuda berusia 21 tahun tersebut

Sanemi menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Oh Genya. Pemuda dengan banyak bekas luka sama seperti di masa lalu tersebut menatap adiknya lama

Adiknya. Shinazugawa Genya.

Kini hidup dan menjadi adiknya kembali. Selain Kanae yang kini menjadi tunangannya, Genya adalah salah satu hal yang paling ia syukuri keberadaannya di dunia ini. Sanemi ingin memperbaiki masa lalu mereka dengan menjadi kakak yang baik dan melindungi adik tercintanya

Walaupun ia tetap kehilangan keluarganya yang lain, seperti ayah, ibu dan adik-adiknya yang meninggal karena kecelakaan kereta. Setidaknya, Genya masih hidup dan ia tidak benar-benar sendirian di dunia ini

"Oh tidak. Kenapa kau belum tidur?"

"Aku sedang mengerjakan tugas matematika dari guru menyebalkan itu"

Terkadang Genya suka lupa kalau tugas matematika dari guru menyebalkan itu berasal dari kakaknya

Genya meneguk ludahnya kasar ketika baru ingat kalau guru tersebut ada di depannya dan sekarang gurunya itu sedang mengeluarkan aura hitam yang siap untuk menerkamnya

"T-tidak! Nii-chan, m-maksud ku bukan seperti itu.."

"Tugas mu ditambah jadi 100 soal"

Tak lama kemudian, teriakan Shinazugawa Genya menggema di kediaman Shinazugawa

"TIDAAAAAKKKKKKK!!!"

.
.
.

Keesokan harinya

Seperti biasa Shinobu berangkat sekolah sendirian tanpa kakak dan adik-adiknya. Sepasang earphone nirkabel terlihat di kedua telinganya. Ketika sudah dekat dengan gerbang sekolah segera ia lepas earphone tersebut dan ia simpan dalam tasnya

"Ohayou gozaimasu, Tomioka-sensei"

Giyuu mengangguk sebelum menjawab, "ohayou"

Walaupun Giyuu merasa gemas dengan gadis mungil di hadapannya, ia tetap harus bersikap profesional sebagai guru

Kejadian ciuman waktu itu anggap saja sebagai salah satu dosanya karena tidak bisa bersikap profesional

Mereka tidak banyak mengobrol, karena setelah menyapa gurunya tersebut, Shinobu langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kelas

Padahal gadis dengan perawakan mungil tersebut sudah berjalan cukup jauh, tapi ia masih dapat mendengar teriakan Giyuu yang sedang menegur -memarahi- siswa-siswa yang lain. Suaranya semakin terdengar ketika menegur trio Kamaboko yang entah kenapa suka sekali membuat Giyuu marah. Shinobu terkekeh mendengarnya

.
.
.

Berjalan dengan langkah santai menuju ruang kelasnya dan sesekali balas menyapa sapaan teman-teman dari kelas lain

Menggeser pintu ruang kelasnya dengan lembut

"Ohayou goza-"

"Kocho-san!"

"Shinobu-chan!"

Shinobu sudah dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya yang penasaran sekaligus khawatir padanya. Pasalnya selama menjadi murid Kimegaku, ia tidak pernah absen selama ini

"Kau baik-baik saja?"

"Kenapa tidak masuk dua hari?"

Dan masih banyak pertanyaan yang diajukan pada Shinobu. Gadis itu hanya tersenyum -pasrah- sebelum perlahan menjawab dengan sabar pertanyaan dari teman-temannya

"Sabar ya, teman-teman semua. Aku akan menjawabnya satu persatu"

Shinobu tidak menyangka bahwa ketidakhadirannya selama dua hari membuat teman-temannya khawatir seperti ini. Ia bersyukur memiliki teman-teman yang baik

.
.
.

Pulang sekolah

Giyuu melakukan patroli di lingkungan sekolah untuk melihat masih adakah siswa-siswa di kelas atau di ruang ekskul. Hari ini kegiatan ekskul ditiadakan karena akan ada badai yang menerjang kota Tokyo dan semua anak harus kembali ke rumah tepat waktu atau mereka akan terjebak badai. Tentunya hal itu tidak baik untuk mereka

Ketika sampai di kelas Shinobu, ia tidak melihat satupun siswa di sana

"Oh sudah pulang" batinnya

Menghela nafas sebelum akhirnya ia berbalik untuk kembali ke ruang guru untuk bersiap pulang ke apartemennya

.
.
.

Supermarket

"Terima kasih atas kunjungannya" kata pegawai supermarket tersebut

Shinobu hanya tersenyum simpul dan mengangguk untuk membalas keramahan pegawai tersebut. Gadis itu merasa sedikit haus dan lapar, karena itu ia mampir sejenak di supermarket untuk membeli beberapa camilan dan minuman

"Sepertinya, sebentar lagi"

Anginnya sangat kencang dan langit sudah sangat gelap ketika gadis itu keluar dari supermarket. Ia segera menahan rambutnya yang dirasa menghalangi pandangannya. Ketika pandangannya sudah tidak terhalangi, ia melihat Tomioka-sensei juga ada di halte tersebut. Tanpa sadar senyum manis segera terbentuk cantik di bibirnya

Baru saja ingin melangkah menuju halte yang tidak jauh dari supermarket tempat ia membeli makan dan minuman tadi, senyumnya memudar ketika Shinobu melihat Shimizu-sensei ada di sana juga. Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang dan membuat rambutnya berantakan serta menutupi kembali pandangannya. Segera ia tahan rambutnya untuk tidak menghalangi pandangannya

Matanya membulat ketika melihat apa yang terjadi di sana. Di sana Tomioka-sensei yang belum lama mengungkapkan perasaan padanya sedang memeluk Shimizu-sensei. Tangan besar lelaki yang pernah memeluknya dengan erat itu sekarang berada di kedua pinggang wanita yang menjadi rekan kerjanya, sedangkan tangan wanita itu melingkar erat di leher sang lelaki

Mata Shinobu terasa panas melihat kejadian itu, ia berbalik dan melangkah pergi tanpa kata-kata meninggalkan dua manusia yang sibuk dengan dunianya sendiri

"Tidak seharusnya aku merasa kecewa. Lagipula, sensei tidak serius dengan ku. Aku hanya siswanya yang kebetulan ia selamatkan. Pernyataan cinta itu tidak ada artinya" batinnya sedih

Mengusap kedua matanya dengan kasar, tanpa menoleh kembali ia berlari semakin jauh dari mereka





To be continued

Halo, semuanya!
Apa kabar? Semoga semuanya selalu sehat😁🥰
Maaf sekali karena aku lama upnya😔🙏
Semoga kalian masih ingat dan masih mengikuti cerita ini💕

One More TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang