Suara Hati yang Terlupakan

6 4 3
                                    

🕊🕊🕊🌹🌹🌹🪞🪞🪞
-----------------------------

Hari-hari berlalu dengan lambat dan penuh kesedihan di rumah keluarga Iswari. Hasana, meski usianya masih sangat muda, merasakan kehilangan ibunya dengan kedalaman yang tak bisa diungkapkan kata-kata. Setiap kali dia merasa kesepian, dia akan menghindari keramaian dan duduk di sudut ruangan yang tenang, tempat di mana cahaya matahari yang redup menembus celah-celah jendela. Di situ, Hasana memeluk erat selimutnya, berusaha mencari kenyamanan dalam benda yang dulu menjadi pelukan ibunya. Namun, kehangatan yang dia rasakan seolah tidak bisa menggantikan kehadiran ibunya yang nyata. Hasana merasakan bagian dari dirinya yang hilang, sebuah ruang yang tidak bisa diisi oleh apapun. Ketika angin malam berbisik lembut di luar jendela, dia membayangkan bagaimana rasanya jika ibunya masih di sini, dan setiap detik kesepian terasa semakin menekan.

Kadang-kadang, Hasana menggenggam foto kecil yang terletak di mejanya, sebuah gambar hitam putih dari Ibu Melati yang tersenyum lembut. Air mata sering mengalir di pipinya saat dia memandang foto tersebut, seolah berharap bisa kembali ke masa-masa ketika segala sesuatu terasa lebih baik. Setiap tangisan Hasana adalah sebuah ungkapan rasa kehilangan yang dalam, dan dalam kesendiriannya, dia berusaha menemukan cara untuk mengatasi rasa sakit yang menyelimuti hatinya.

Bapak Jaya merasa seperti dunia ini berputar lebih cepat dari yang bisa dia tangani. Sejak kepergian Ibu Melati, dia berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga sambil merawat Hasana dan bayi Kesyaira yang baru lahir. Setiap pagi, dia bangun sebelum matahari terbit, meninggalkan rumah dengan beban berat di pundaknya dan kembali dengan keringat di dahi. Pekerjaan sebagai kuli bangunan menjadi lebih menuntut, tetapi Bapak Jaya tidak punya pilihan selain bekerja keras untuk memastikan keluarganya bisa bertahan.

Kehidupan sehari-hari telah berubah drastis. Bapak Jaya harus belajar mengurus Kesyaira, memandikannya, menyusui, dan menenangkannya ketika ia menangis, sambil juga memastikan Hasana mendapat perhatian dan cinta yang sangat dibutuhkannya. Dia merasa cemas melihat Hasana yang kini harus berperan sebagai Kakak yang lebih tua, meski masih begitu muda. Hasana harus belajar berbagi perhatian dan kasih sayang yang selama ini diberikan oleh ibunya.

Menyiapkan makanan, mencuci pakaian, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya kini menjadi bagian dari rutinitas baru Bapak Jaya. Dia merasa terbagi antara tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah yang harus menjaga keluarganya dan beban emosional yang menghantui dirinya setelah kehilangan istrinya. Kadang-kadang, di malam hari setelah Kesyaira tidur, Bapak Jaya duduk sendirian di luar rumah, merenung dalam keheningan, mencari cara untuk mengatasi kesedihan dan menemukan kekuatan untuk melanjutkan perjuangan mereka.

Meskipun kehidupan mereka menjadi lebih berat, Hasana dan Bapak Jaya terus berjuang bersama, saling memberikan kekuatan dan dukungan. Mereka menyadari bahwa meskipun mereka kehilangan Ibu Melati, cinta dan kenangan yang ditinggalkannya tetap hidup dalam hati mereka, memberi mereka alasan untuk terus melangkah maju dan membangun kembali kehidupan mereka dengan penuh harapan.

Malam itu, suasana rumah Iswari lebih tenang dari biasanya. Bapak Jaya, meskipun lelah setelah seharian bekerja keras, memutuskan untuk menghabiskan waktu malam dengan Hasana dan Kesyaira. Dengan hati-hati, dia menyiapkan meja makan di dapur kecil mereka, menyusun piring dan sendok dengan teliti, berharap bahwa makan malam ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan di tengah kesulitan yang mereka hadapi.

Hasana duduk di kursi kecilnya, matanya masih memantau setiap gerakan Bapak Jaya dengan rasa ingin tahu. Kesyaira, bayi yang baru berusia beberapa minggu, terletak di bantalnya yang lembut, sesekali menggeliat dan mengeluarkan bunyi kecil. Bapak Jaya memberikan botol susu hangat kepada Kesyaira, mencoba mengalihkan perhatiannya dari keletihan yang terasa mengikat tubuhnya.

Jejak Takdir dalam Keheningan: Cinta Abadi Jiwa KembarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang