Senyum Tak Tertahan

5 1 1
                                    

🕊🕊🕊🌹🌹🌹🪞🪞🪞
--------------------------

Pukul 2 dini hari, Mbak Hasana baru saja tiba di rumah setelah pulang dari shift malam yang melelahkan. Langkah kakinya berat saat ia masuk ke ruang tengah. Tanpa banyak berpikir, ia langsung merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di sana. Matanya yang terasa berat perlahan-lahan tertutup, dan dalam hitungan detik, ia pun tertidur pulas.

Sementara itu, di kamar lain, Kesyaira, adiknya, terbangun karena mendengar suara kecil dari luar. Dengan rasa penasaran, ia keluar dari kamarnya dan melihat Mbak Hasana sudah tertidur di kursi panjang. Hatinya terasa hangat melihat kakaknya yang tampak sangat lelah. Tanpa membangunkannya, Kesyaira kembali ke kamarnya, mengambil selimut dari tempat tidurnya, lalu dengan perlahan menyelimuti tubuh Mbak Hasana yang sedang terlelap.

Setelah memastikan Mbak Hasana nyaman, Kesyaira kembali ke kamarnya, tersenyum tipis sebelum melanjutkan tidurnya.

Keesokan harinya, Kesyaira berangkat kuliah pagi-pagi. Seperti biasanya, ia meninggalkan rumah dengan tenang, agar tidak membangunkan Mbak Hasana yang masih istirahat. Namun, tak lama setelah Kesyaira pergi, Mbak Hasana bangun dari tidurnya. Meski tubuhnya masih terasa sedikit lelah, ia segera bangkit dan mulai menjalani rutinitas paginya.

Ia memulai dengan membersihkan rumah. Setelah itu, ia menyapu kandang hewan ternaknya, memastikan semuanya dalam keadaan bersih. Ayam, bebek, angsa, domba, dan kucingnya sudah menunggu untuk diberi makan, dan Mbak Hasana melakukannya dengan penuh perhatian, seperti biasa. Setiap hewan di peternakannya ia rawat dengan baik.

Setelah selesai mengurus hewan-hewan, ia beralih ke kebun kecil di halaman belakang. Beberapa saat ia merawat tanaman dan memeriksa kondisi tanah, memastikan semuanya tumbuh dengan baik.

Setelah tugas-tugasnya selesai, Mbak Hasana kembali ke dalam rumah, membersihkan diri, lalu duduk santai di ruang tamu sambil melihat pemandangan di luar rumahnya dari pintu dan jendela yang terbuka, ia menikmati udara sejuk pagi itu. Selanjutnya Mbak Hasana mulai menikmati sarapan paginya sambil membaca buku, tenggelam dalam halaman-halaman yang membawanya sejenak lepas dari kesibukan dunia nyata.

"Hasana, yuhuuu" sahabat karibnya Tirtania datang dan masuk menghampirinya, ia membawa beberapa jenis makanan ringan kesukaan Hasana. "Kamu sudah mendapatkan buku yang aku rekomendasikan?" tanya Tirtania yang kemudian duduk lesehan di sebelahnya.

"Iya, aku baru saja membacanya" katanya Mbak Hasana sambil makan namun matanya masih bisa fokus dengan buku yang ada di depannya.

Tirtania mengulurkan tangan dan mengambil sebuah buku dari tumpukan yang ada di depannya. Matanya tertuju pada cover buku itu, namun pikirannya melayang-layang, tidak fokus. Dengan nada yang penuh kekecewaan, ia berkata, "Hasana, aku sudah mendaftar kerja."

"Benarkah?" Mbak Hasana menoleh dari buku yang sedang ia baca. Ia menghentikan aktivitasnya, memilih untuk memperhatikan Tirtania dengan seksama.

"Iya, aku mendaftar ke semua PT yang ada di kota Ranggasari, tapi satu pun tidak ada yang menerimaku. Padahal aku sudah memenuhi semua persyaratan yang mereka tetapkan, tapi tetap saja aku gagal," Tirtania mendengus kesal. "Seperti apa sih pekerja yang mereka cari? Beginilah jadinya kalau nggak punya orang dalam."

Mbak Hasana memandang Tirtania sejenak sebelum bertanya dengan rasa penasaran, "Apa ada pekerjaan lain yang kamu inginkan?"

Tirtania terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Sebenarnya aku ingin membantu bisnis Ayahku, konveksi. Tapi... kalau aku memilih itu, tetangga-tetanggaku yang suka julid pasti akan membicarakan soal lulusan S1 yang akhirnya cuma bekerja di bisnis keluarga. Mereka bakal ngomong, 'Kok lulusan kuliah begini-begitu?' Aku malas dengar omongan mereka."

Jejak Takdir dalam Keheningan: Cinta Abadi Jiwa KembarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang