🕊🕊🕊🌹🌹🌹🪞🪞🪞
_______________________
_______________________Di lantai dua gedung Fakultas Pendidikan Universitas Dwijakarsa, sebuah ruang rapat dengan jendela besar yang menghadap taman kampus terlihat sibuk. Meja besar yang dikelilingi kursi kulit itu menjadi pusat diskusi serius yang melibatkan para dosen senior dan staf. Di tengah ruangan, duduklah Dr. Raka Satmoko, Dekan Fakultas Pendidikan, dengan postur tenang dan sikap berwibawa. Di sisi kanan, Prof. Indira Wijanarko, seorang tokoh vokal yang terkenal karena sikap kritisnya terhadap isu pendidikan nasional, terlihat sedang membaca dokumen dengan ekspresi kesal.
"Dari sini terlihat jelas," ujar Prof. Indira sambil mengetukkan jarinya pada dokumen berlogo Yayasan Bentala Renjana. "Mereka menolak tawaran kita. Setelah semua upaya yang kita lakukan untuk menjalin kerja sama, mereka bahkan tidak memberi ruang untuk berdiskusi lebih jauh. Ini sungguh tidak masuk akal."
Suasana di ruangan itu menjadi lebih tegang. Beberapa dosen tampak bertukar pandangan, seolah tidak tahu harus menanggapi seperti apa.
Dr. Raka Satmoko, yang dikenal dengan pendekatan diplomatisnya, mencoba menenangkan situasi. "Prof. Indira, saya mengerti kekhawatiranmu. Tapi mungkin ada alasan kuat di balik keputusan mereka. Bentala Renjana bukan yayasan biasa. Mereka melibatkan banyak anak-anak yang mengalami masa lalu berat. Keamanan pasti menjadi prioritas utama mereka."
Namun, Prof. Indira tampaknya tidak terpengaruh. Dia melipat tangan di dada, wajahnya menunjukkan ketidakpuasan. "Keamanan? Bukankah itu alasan yang terlalu berlebihan? Kita bahkan menawarkan program yang dapat dilakukan tanpa harus melibatkan banyak orang luar. Universitas ini sudah bertahun-tahun berusaha menjalin hubungan dengan mereka, tapi mereka terus-menerus menutup diri. Apa mereka lupa bahwa pendidikan adalah tentang kolaborasi dan keterbukaan?"
Di sisi lain meja, Dr. Adrian Syahputra, seorang dosen muda yang juga merupakan alumni Yayasan Bentala Renjana, mencoba menengahi. Dengan nada hati-hati, dia berkata, "Saya memahami kekesalan Anda, Prof. Indira, tapi saya juga ingin menjelaskan sedikit. Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari Bentala Renjana, saya tahu betapa mereka sangat melindungi anak-anak. Mereka menjalani kehidupan yang tidak mudah, dan yayasan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga mereka dari ancaman luar."
Namun, bukannya mereda, komentar Dr. Adrian justru membuat Prof. Indira semakin gusar. "Tapi Dr. Adrian, itu alasan yang terlalu dangkal. Kerja sama ini tidak hanya akan menguntungkan anak-anak Bentala Renjana, tapi juga memberikan dampak positif bagi pendidikan secara luas. Jika mereka terus bersikap seperti ini, mereka akan semakin terisolasi."
"Baiklah, cukup." Suara Dr. Raka terdengar lebih tegas kali ini, membuat semua orang di ruangan terdiam. "Kita tidak akan mencapai apa-apa jika hanya berdebat seperti ini. Yang jelas, kita harus merespons keputusan mereka dengan cara yang profesional. Jika kita ingin melanjutkan upaya kerja sama ini, kita perlu mencari cara lain untuk membangun kepercayaan dengan mereka."
Namun di balik diamnya, Prof. Indira menyimpan kekecewaan yang mendalam. Baginya, keputusan Bentala Renjana adalah bentuk penghinaan terhadap upaya mereka. Dengan tekad yang bulat, ia mulai merancang strategi untuk menyampaikan kekesalannya melalui jalur lain.
####
Pada pukul 9 pagi, Bentala Renjana tampak tenang, seolah meresapi kedamaian pagi yang cerah. Di salah satu gazebo yang terletak di tengah taman, Bu Analeah tertidur dengan lelap setelah begadang semalaman menyelesaikan berbagai pekerjaan. Di sampingnya, Pak Wisaka, yang tetap fokus pada laptopnya, tampak sibuk mengetik angka-angka dan memeriksa laporan biaya untuk karya wisata yang sedang disiapkan.
"Bu Analeah, aku sudah menghitung jumlah biaya untuk karya wisata," kata Pak Wisaka, meskipun suaranya terdengar pelan karena kesibukannya dengan keyboard.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Takdir dalam Keheningan: Cinta Abadi Jiwa Kembar
RomanceDi dalam labirin waktu yang tak terhingga, kisah cinta Hasana Iswari dan Nehan Laksana menggambarkan keindahan dan kedalaman dari hubungan twinflame dan old soul. Sebagai jiwa-jiwa yang telah lama hidup dan mengalami berbagai kehidupan, mereka menem...