Union III

6 0 0
                                    

🕊🕊🕊🕊🌹🌹🌹🌹🪞🪞🪞🪞
------------------------------------------------
------------------------------------------------

Malam itu, di ruang keluarga rumah Pak Nehan Laksana yang cukup luas dan hangat, anggota keluarga besarnya berkumpul. Lampu gantung bergaya klasik menerangi ruangan, memantulkan cahaya ke dinding-dinding yang dihiasi foto keluarga, menciptakan suasana intim namun penuh antusiasme. Pak Nehan, berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi serius namun santai, memimpin diskusi tentang persiapannya menikah dengan Mbak Hasana Iswari.

"Hasana bukan perempuan yang suka kemewahan," ujar Nehan sambil berjalan mondar-mandir, tangannya sesekali menyentuh dagunya, seolah-olah sedang berpikir keras. "Aku ingin pernikahan ini dibuat sederhana, privat, tapi tetap elegan. Kita harus benar-benar memperhatikan detailnya."

Ia berhenti sejenak, menatap dua saudaranya, Bu Analeah dan Mas Usada. "Analeah, Usada, aku serahkan dekorasi tenda, panggung, gaun, dan riasan pada kalian. Aku percaya kalian bisa membuat semuanya sempurna tanpa berlebihan."

Bu Analeah mengangguk mantap. "Siap, Mas Nehan. Aku akan pastikan semuanya sesuai dengan karakter Hasana."

Mas Usada menambahkan dengan senyum percaya diri, "Aku akan bantu Mbak Leah memastikan dekorasi tenda dan panggung terlihat simpel tapi tetap memukau."

Pak Nehan mengangguk puas. "Bagus. Randika," panggilnya sambil menoleh kepada adik sepupunya, "aku butuh bantuanmu untuk mengurus menu makanan di acara resepsi. Diskusikan dengan tim dapur Bentala Renjana. Jangan lupa, bentuk juga kelompok sinoman untuk membantu melayani para tamu."

Mas Randika tersenyum kecil, mengangkat ibu jarinya. "Oke, Mas Nehan. Aku akan urus semuanya. Tim dapur pasti akan semangat untuk ini."

Pak Nehan kembali berjalan, pandangannya jatuh pada adik sepupu perempuannya, Mbak Radinka. "Radinka," katanya tegas, "siapkan segala macam kebutuhan Hasana. pakaian tambahan, perlengkapan mandi, sandal, sepatu, tas—semuanya."

Mbak Radinka, yang duduk dengan kaki disilangkan, menatap kakaknya dengan penuh semangat. "Jangan khawatir, Mas Nehan. Aku akan memastikan setiap detailnya rapi dan sesuai."

Pak Nehan mengangguk, lalu melanjutkan. "Sound system sudah kita punya, jadi kita pakai yang kecil saja karena ini acara privat. Tapi soal MC dan dokumentasi..." Ia berpaling kepada Pak Raynar, kakaknya. "Apa ada usulan?"

Pak Raynar tersenyum tipis. "Untuk MC, mungkin Nearin bisa mencarinya. Dia mengetahui dan memahami banyak hal mengenai skills atau kemampuan anak-anak di Bentala Renjana."

Pak Nehan langsung menoleh ke Mbak Nearin, adik bungsunya yang duduk di sofa dengan posisi santai. "Nearin, aku serahkan urusan MC padamu. Pilih seseorang yang bisa membawa suasana tapi tetap sederhana."

Mbak Nearin mengangguk sambil memainkan ponselnya. "Siap, Mas. Aku akan carikan yang terbaik."

"Inoya," panggil Pak Nehan lagi, kali ini kepada adik laki-lakinya yang sedang asyik mencatat sesuatu di buku kecil, "buatkan runtutan acara. Tapi kalau bisa, buat lebih simpel. Jangan terlalu formal."

Mas Inoya tersenyum kecil. "Tentu saja, Mas. Aku akan pastikan semuanya mengalir dengan baik."

Pak Nehan menarik napas panjang. "Baik, itu soal teknis. Sekarang, bagaimana dengan keluarga lain? Keluarga Estiawan, Caturangga, dan Kiranataya, apakah mereka bisa hadir?"

Pak Amanda, kakak tertua keluarga Laksana, angkat bicara. "Keluarga Estiawan tidak bisa hadir sepenuhnya. Kemungkinan hanya Dreyna dan Elvarette bersama suaminya yang akan datang."

Pak Raynar menimpali. "Kiranataya juga begitu. Sae, Janu, dan Danumaya sudah mengonfirmasi kehadiran mereka."

"Bagaimana dengan keluarga Caturangga?" tanya Pak Nehan sambil melirik Mas Randika dan Mbak Radinka, dua perwakilan dari keluarga tersebut yang mengurus Bentala Renjana di Jepang.

Jejak Takdir dalam Keheningan: Cinta Abadi Jiwa KembarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang