Kedamaian yang Terkoyak II

7 0 0
                                    

🕊🕊🕊🌹🌹🌹🪞🪞🪞
______________________

Pagi itu para pengurus atau ketua divisi membagikan paspor dan visa kepada anggota kelompok masing-masing dengan penuh kehati-hatian. Wajah anak-anak yang tadinya penuh rasa penasaran kini berubah menjadi ekspresi gembira setelah menerima dokumen perjalanan mereka. Di asrama putri Mbak Devanisa, dengan senyum lembutnya tengah dikerubungi anak-anak yang tidak sabar untuk bertanya.

"Mengapa paspor dan visa kita cepat sekali jadinya?" tanya seorang remaja dengan nada heran.

Mbak Devanisa tertawa kecil. "Memangnya kalian tidak ingin pergi karya wisata secepatnya?" ia balik bertanya sambil menatap anak itu.

"Tentu saja kami mau!" jawabnya dengan mata berbinar.

"Jadi kapan kita berangkat?" sela seorang anak SD yang ikut mendengarkan percakapan tersebut.

Mbak Devanisa menepuk bahu anak itu dengan penuh kasih. "Kemasi barang yang kalian butuhkan, ya. Kita akan menuju bandara internasional besok pagi," jelasnya dengan antusias.

"Ini terlalu mendadak tapi tidak apa-apalah" ucap anak SMP yang langsung pergi ke kamarmya.

Mendengar pengumuman tersebut, anak-anak langsung bersorak gembira dan berlarian menuju kamar mereka untuk mulai berkemas. Beberapa di antaranya saling berteriak, mencoba memastikan tidak ada yang tertinggal dari daftar barang yang akan mereka bawa. Di sisi lain, suasana di asrama putra juga sama sibuknya. Para pengurus dengan cekatan membantu anak-anak mereka mempersiapkan keperluan karya wisata. Ada yang sibuk melipat pakaian, sementara yang lain memastikan dokumen penting tidak tercecer.

Mas Vidian berdiri di sudut ruangan bersama Mas Julian, berbicara dengan nada pelan agar anak-anak tidak mendengar.

"Kita bersenang-senang, tapi mereka yang akan menghadapi masalah," kata Mas Vidian, suaranya rendah penuh kekhawatiran.

Mas Julian menghela napas panjang. "Sejujurnya aku juga nggak bisa tenang. Selalu kepikiran terus," bisiknya. "Tapi mau bagaimana lagi? Bentala Renjana kemungkinan besar akan menghadapi masalah dalam waktu dekat. Kita nggak boleh membiarkan anak-anak tahu soal ini."

Mas Vidian mengangguk setuju. "Untung ada agenda karya wisata ini. Setidaknya mereka bisa pergi dan nggak terlibat langsung. Semoga saat kita pulang nanti, semuanya sudah beres."

Mas Randika dan Mas Inoya berjalan bersama, menghampiri Mas Vidian dan Mas Julian. Wajah mereka dihiasi ekspresi tegang. Di tengah suasana yang penuh kekhawatiran, mereka berbincang dengan suara rendah agar tidak menarik perhatian anak-anak yang sibuk mempersiapkan karya wisata.

"Aku cemas kalau besok, begitu kita keluar dari gerbang, kita langsung dikepung media atau paparazi," bisik Mas Randika, matanya memandang jauh seolah membayangkan skenario yang tidak diinginkan.

Mas Vidian, yang turut mendengar percakapan itu, mengangguk setuju. "Benar, mereka bisa saja menulis apa saja tentang kita, lalu menjadikannya viral. Tidak peduli apakah itu benar atau salah," tambahnya, nadanya sarat kekhawatiran.

Mas Inoya tiba-tiba jongkok dengan lemas, menghela napas panjang. Kedua tangannya menutupi wajah sebelum berpindah ke kepala seolah ingin meredakan tekanan yang ia rasakan. "Sekarang aku merasa jatuh pada level kesadaran rendah—khawatir, takut, dan tidak bisa berpikir positif," katanya dengan suara lirih.

Mendengar itu, Mas Randika berusaha tetap tenang meski terlihat jelas betapa sulitnya bagi dirinya. "Kita tidak bisa membiarkan kesadaran rendah dan pikiran negatif ini mempengaruhi energi di sekitar kita," ujarnya tegas. "Kalau kita terus begini, bisa-bisa semuanya makin kacau."

Jejak Takdir dalam Keheningan: Cinta Abadi Jiwa KembarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang