07 | i bet we'd have really good

11.9K 1.2K 99
                                        

+628 556 68 xxx
Hi, Kanina
It's me, Dewa : )

Nina mengerutkan kening. Melempar ponselnya ke atas tempat tidur tanpa berniat membalas chat tersebut. Ia melanjutkan langkahnya ke meja rias lalu meraih hair dryer dan mengeringkan rambutnya yang basah.

Bukannya Nina sengaja playing hard to get. Ia bahkan lebih senang jika Dewa bersikap biasa saja padanya alih-alih menunjukkan ketertarikannya dengan terang-terangan.

Kejadian sore tadi di kantin membikin Nina dilempari tatapan penuh curiga oleh Nalendra. Bukan rahasia lagi, Nalendra adalah makhluk paling kepo seantero kantor. Tidak hanya kepo, Nalendra juga tidak bisa menyimpan rahasia. Jadi, lebih baik jangan pernah menceritakan apapun padanya. Cepat atau lambat, rahasia tersebut akan menyebar dengan cepat sepenjuru gedung. Nina jelas tidak ingin namanya disebut-sebut dalam gosip murahan hanya karena keisengan Dewa.

Iya, iseng. Dewa pasti cuma iseng doang padanya, kan?

"Gue yakin banget, Teh. Mas Dewa ngeliatin lo." Lontar Nalendra yakin dan agak menggebu-gebu. "Siapa lagi coba yang diliatin segitunya? Masa gue?" tambahnya sambil menunjuk dirinya sendiri. Yang beberapa detik kemudian tersenyum centil sambil berpura-pura mempunyai rambut panjang dan menyelipkannya ke belakang telinga.

"Najis lo, Len!" gedik Nina yang kemudian menarik tangan Pedro yang jelas lebih waras ketimbang Nalendra ke ruang meeting. "Yuk, Ped. Udah nggak waras temen lo."

"Ihhh, Teh. Spill the tea, doooooong!"

Spill the tea apa coba?

Sebenarnya Nina tidak begitu yakin sih Dewa betulan tertarik padanya. Pria seperti Dewa—yang menyadari dirinya ganteng dan tahu ada banyak wanita yang menginginkannya, hanya merasa tertantang saja karena Nina tidak memandang pria itu dengan tatapan memuja—seperti yang didapatkan oleh pria itu selama ini. Nina mengakui Dewa baik. Hanya saja, Nina tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan dengan pria seperti Dewa.

Selesai mengeringkan rambut, Nina mengambil lagi ponselnya dan membawanya ke meja kerja. Ia menarik kursi, meletakkan ponsel lalu meraih iPad guna melanjutkan pekerjaanya yang belum selesai. Ia membuka materi promosi produk. Mempelajari dengan cermat tanpa terlewat sedikit pun. Sebab untuk menulis copy—Nina tentu harus tahu produk yang hendak dipasarkan. Bukan hanya itu, ia juga mempelajari perilaku konsumen agar dapat menyentuh mereka—yang mana dalam dunia advertising juga dikenal sebagai 'consumer insight'. Nina harus melek akan trend agar dapat menentukan pendekatan komunikasi yang efektif untuk menarik minat target marketnya.

Menulis copy terkadang memang memusingkan. Namun Nina menyukai proses berpikir kreatifnya.

+628 556 68 xxx
Kanina
There?

Nina melirik ponselnya yang menampilkan notifikasi dari pengirim yang sama. Dewa ternyata lebih gigih dari yang Nina duga.

Masih mengabaikan ponselnya, Nina kembali fokus pada iPad-nya.

+628 556 68 xxx
Nina : )
Sibuk, ya?

Nina menghela napas. Dengan terpaksa meraih ponselnya dan mengetikkan balas.

Nina
Lagi nulis copy, Mas
Btw, kamu tau nomorku darimana?
Jangan bilang Sisy 😒

+628 556 68 xxx
Hehehe
Mau minta langsung dari kamu tapi mau nyapa aja udah dicuekin duluan

Oh, jadi Dewa menyindirnya sekarang?

Nina
Nyindir?

+628 556 68 xxx
Hahaha
Ada gebetan kamu ya di sana makanya takut aku sapa?

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang