"Ya elah, posesif amat. Nina pergi sama teman kantornya ini, kok." Celetuk Angga yang sudah mulai jenuh dengan tingkah Dewa yang terus memandangi ponselnya—menunggu sang kekasih memberi balasan. Dari tempat fitness sampai akhirnya mereka bersantai di coffee shop terdekat, Dewa tak berhenti gelisah. "Perasaan sama mantan-mantan lo nggak segininya, deh. Lo emang protektif. Tapi, ya, kalau mereka clubbing lo biasa aja."
Dewa berdecak. Meraih gelas americano-nya. Menahan diri agar tak membalas ucapan Angga. Sebab, jika sahabatnya tahu salah satu alasannya gelisah karena ada seorang laki-laki yang ia curigai memiliki perasaan pada kekasihnya ada dalam kelompok itu—pria itu pasti menertawainya habis-habisan.
"But, gue ngerti sih kenapa lo posesif gini. Nina memang atraktif. Tipe cantik innocent gitu. Tipe yang kalau lo ajak ketemu keluarga, pasti langsung disetujui. Tapi pas kenal, ternyata dia asik dan nggak selemah kelihatannya. Padahal badannya kecil gitu, pas di training sama lo, sekali pun nggak pernah ngeluh." Ucap Angga panjang lebar. Mendeskripsikan Nina dari pengamatan singkatnya setiap kali bertemu gadis itu di tempat fitness. "Cewek kayak Nina langka, sih. Pantes lo ngebet. Kalau gue belum ketemu Emila, gue juga pasti bakal naksir."
Kalimat terakhir Angga berhasil mengundang tatapan tajam dari Dewa.
Angga tertawa kecil karena berhasil memancing emosi sahabatnya. "Rileks, man. Walaupun gue belum ketemu Emila juga, gue nggak mungkin lah nikung lo! Sumpah, lo posesif banget sama Nina. Jangan bilang lo udah head over heels sama dia."
Dewa tak membantah, atau pun membenarkan. Ia pun bingung dengan sedalam apa perasaannya pada Nina. Jika memang rasa sukanya telah menjelma menjadi cinta ... bagaimana mungkin bisa secepat ini? Tetapi Nina memang semudah itu untuk disayangi. Dewa bahkan langsung tertarik pada Nina di pandangan pertama. Lalu menyukainya begitu mereka berinteraksi. Jatuh cinta pada Nina setelah mereka berkencan sepertinya bukan hal yang mustahil.
"What was that? Lo beneran udah udah jatuh cinta sama Nina?" mata Angga membelalak oleh keterkejutan. Yang beberapa detik kemudian, digantikan tawa mengejek. "Shit, man! Seorang Sadewa jatuh cinta sama cewek yang baru dia pacarin tiga bulan. Oh, atau mungkin sejak awal lo emang udah jatuh cinta sama Nina. Does she know? You love her?" tambah Dewa Angga dengan seringai menggoda.
Dewa memutar bola matanya, kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi Nina. Sudah satu setengah jam pesannya tak mendapat balasan. Dewa tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia bukan hanya gelisah karena pria yang ia curigai menyukai kekasihnya ada di sana—tetapi juga tempat Nina berada. Kelab malam bukan tepat berbahaya. Tetapi juga bukan tempat aman untuk wanita.
Well, Nina memang tidak sendirian. Ada Sisy yang bisa Dewa percaya. Hanya saja, sebagai pacarnya, wajar bukan Dewa tidak tenang? Ia sudah merasa begitu sejak mengetahui Nina akan pergi makan-makan merayakan ulang tahun pria itu. Tetapi Dewa tidak ingin mengutarakan kegelisahannya karena itu akan membuatnya tampak konyol.
Dewa memang protektif pada pasangannya. Namun ia bukan tipe yang suka melarang. Apalagi pria itu teman kantor Nina, sulit untuk mencegah Nina tak berinteraksi dengannya. Dewa mencoba berpikir dewasa sebagaimana umurnya. Tetapi luapan kecemburuan terkadang tak pandang umur.
Jantung Dewa berdegup kencang ketika mendapati nomor Nina tak aktif. Ia berusaha menghubungi kekasihnya sekali lagi untuk mendapatkan tanggapan yang sama.
"What's wrong?" tanya Angga yang menyadari kekelaman di wajah sahabatnya.
"I have to go now," Dewa bangkit berdiri. Meraih kunci mobilnya lalu keluar dari coffee shop tersebut. Mengabaikan kebingungan di wajah Angga yang menatapnya penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
