Dewa terbangun, dan merasakan deru napas hangat membelai lehernya.
Senyumnya merekah tanpa sadar. Mengusap tangan mungil yang melingkari pinggangnya. Begitu lembut dan feminin. Dengan tekanan lunak dan empuk yang menimpa dadanya. Rasanya menyenangkan, tetapi meresahkan di waktu bersamaan. Kesadaran akan lekuk indah tubuh Nina menempel dengannya membuat bagian yang mengeras di tubuhnya makin bereaksi.
Dewa mengenyahkan bayangan kotor yang tak seharusnya ia pikirkan di pagi hari. Ia ingin menikmati momen ini dengan cara yang lebih murni. Sebab, terbangun dengan Nina di dalam pelukkannya seperti ia berada surga. Dewa sungguh enggan beranjak. Ia menunduk, membenamkan hidungnya di rambut Nina yang harum.
Mengabaikan memorinya yang mengingatkannya agar segera bangun untuk berangkat gym. Sayangnya, ia punya kebiasaan yang harus ia jaga agar tak merusak sistem.
Dewa memang cukup disiplin jika sudah menyangkut kesehatan.
Dilema di dalam pikirannya akhirnya membuat Dewa membuka mata. Penglihatannya seketika disambut oleh wajah jelita Nina yang tertidur nyenyak. Senyum Dewa terkembang.
Paginya tak mungkin bisa seindah ini.
Sial, ini benar-benar ingin terbangun dalam kondisi seperti ini sepanjang hidupnya.
Wajah Dewa bergerak lebih dekat. Mengamati Nina dengan mata berbinar-binar dan senyum simpul. Pertama kali ia bertemu Nina, gadis itu memiliki wajah yang tirus. Namun belakangan, pipi Nina agak lebih berisi hingga terlihat chubby. Dan sejujurnya, itu membuat Nina kelihatan fresh.
Bukan berarti, penampilan Nina kemarin tidak menarik. Di mata Dewa, Nina selalu tampak menarik. Cuma ia senang hubungan mereka memberi dampak positif untuk Nina. Sebab, ia pun merasa begitu semenjak mereka berpacaran.
Dewa sering memimpikan hal ini sebelumnya. Membayangkan akan seperti apa rasanya terbangun dengan Nina di sampingnya. Dan rasanya lebih luar biasa dari apa yang ia bayangkan. Meskipun harus ia akui, ada waktu dimana otaknya membuat tubuhnya tersiksa. Seperti saat ini, ia tak mampu mencegah reaksi morning wood-nya. Dewa bukan pertapa yang memiliki kendali diri yang tinggi. Tetapi ia berusaha menjadi gentleman.
Nina mempercayainya. Dan ia tak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaan yang gadis itu berikan padanya.
Tidak setelah semalam Nina memberanikan membuka diri padanya.
Dewa selalu bertanya-tanya penyebab kenapa Nina begitu menutup diri—terutama dari laki-laki. Dan cerita Nina semalam membuat semuanya menjadi masuk akal. Perceraian orang tuanya jelas meninggalkan luka yang cukup mendalam. Terlebih penyebabnya karena pengkhianatan sang ayah. Dewa tak ingin mengatakan ia memahami perasaan Nina—di saat ia tahu, ia tak pernah ada di posisi gadis itu, Dewa tak akan bisa paham seratus persen. Namun yang pasti, Dewa tak akan pernah melakukan hal yang sama pada Nina. Ia tak akan pernah melakukan sesuatu yang berpotensi menyakiti gadis itu.
Dewa mengangkat tangannya. Menyelipkan rambut Nina ke belakang telinga dengan perasaan protektif yang mendominasi.
Dewa ingin melindungi Nina. Meskipun ia tahu Nina bisa melindunginya dirinya sendiri.
Tubuh Nina yang bergerak dengan bulu mata bergetar lambat membuat Dewa menarik tangannya dari wajah gadis itu. Dewa tersenyum kecil ketika Nina memutar tubuh membelakanginya. Meringkuk sembari memeluk selimut.
Dewa beringsut mendekat. Memeluk Nina dari belakang sambil mencium rambut gadis itu lembut. "Sayang," panggilnya pelan. "Aku nge-gym dulu, ya."
"Hm?" Nina bergumam, belum sadar sepenuhnya. Tetapi ia menyadari jika Dewa telah bangun dan memeluknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
