Nina hanya memiliki pengalaman pacaran satu kali. Itu pun sudah cukup lama sampai Nina tidak mengingat lagi rasanya memiliki kekasih. Beberapa kali ia sempat dekat dengan seseorang. Namun hubungan itu tak pernah sampai pada kata jadian karena Nina perlahan-lahan akan mundur begitu perasaan cemas, khawatir, dan takut mulai menyerangnya.
Hal itu sebenarnya juga berlaku pada Dewa. Ia tak bisa bersikap santai di hari pertama mereka jadian. Ia terus mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Apalagi kecurigaan Nalendra benar-benar membuatnya panik. Meskipun ia sudah mengelak, Nalendra sepertinya masih menaruh rasa curiga padanya.
Sementara Sisy yang sedang dikejar deadline—tampaknya terlalu pusing memikirkan pekerjaannya hingga tak terlalu menaruh perhatian padanya. Which is, itu sesuatu yang melegakan buat Nina. Jika Sisy sudah bertanya, Nina tidak akan bisa membohongi gadis itu.
Jujur saja, meskipun perubahan status yang mendadak adalah ulahnya, Nina tetap saja terkejut. Setiap kali nama Dewa muncul di layar ponselnya; sensasi jantung berdebar, perut dipilin, dan rasa bahagia bercampur menjadi satu.
Dewa begitu perhatian, manis, dan tampan. Pria itu dengan mudah memahami perasaan Nina hingga semua kecemasan dan kekhawatiran yang ia rasakan memudar setiap kali mereka bertemu.
Yeah, tampaknya perkiraan Nina soal mereka akan sulit bertemu karena pekerjaan yang mencekik tidak terbukti benar. Sebab mau sesibuk apapun, Dewa selalu menyempatkan waktu bertemu Nina—meskipun itu hanya lima belas menit sekali pun.
"Masa baru jadian udah jauh-jauhan?" ucap Dewa di suatu hari ketika ia baru saja pulang dari Surabaya—dan Nina heran Dewa langsung menemuinya alih-alih pulang ke apartemennya sendiri. "Sibuk itu nggak bisa dijadiin alasan. Kamu sekarang masuk ke dalam prioritasku. Jadi, mau sesibuk apapun aku, aku pasti nyari celah supaya bisa ketemu kamu. Besides, aku orangnya nggak bisa nahan kangen." Tambahnya diiringi dengan senyum memesona khas pria itu.
Terhitung sudah dua minggu mereka menjalin hubungan—dan Dewa hanya tidak menemuinya jika pria itu harus ke Surabaya. Selebihnya, Dewa akan menjemput dan mengantarnya—tidak peduli hal itu membuatnya harus berangkat ke kantor pagi-pagi sekali dan pulang larut karena Nina terlalu khawatir akan ada yang melihat mereka.
Dewa bersikap terlalu baik dan pengertian sampai Nina tidak punya celah untuk mencari kekurangan pria itu. Ia tidak mungkin memutuskan Dewa untuk alasan yang tidak jelas. Dewa tentu tidak akan menerimanya. Namun suatu saat ia pasti menemukannya. Bagaimanapun, tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti punya kekurangan, right?
"Are you okay?" Dewa langsung bertanya ketika mendengar ringisan Nina begitu gadis itu masuk ke dalam mobil.
Ia sudah mengawasi ekspresi Nina yang terus mengernyitkan kening saat mendekati mobil. Jika bukan karena janjinya yang akan berhati-hati selama mereka di kantor, Dewa tak akan berpikir dua kali untuk keluar dari mobil dan menghampiri Nina.
Nina mengangguk pelan. "Nggak apa-apa, Mas. Perutku cuma kram kok."
"Kram kenapa?" Dewa tak menutupi kepanikkannya. "Kita ke rumah sakit sekarang, ya!"
Nina menggelengkan kepalanya. Buru-buru menjelaskan penyebab perutnya kram sebelum Dewa benar-benar melajukan mobilnya ke rumah sakit. "I'm on period."
"Oh, hari pertama, ya?" Dewa menatap Nina prihatin. Setahunya, kram datang bulan cukup menyiksa bagi wanita.
Nina mengangguk lagi sambil memasang seatbelt-nya. Ia berusaha tampak tegar karena tidak ingin membuat Dewa khawatir. Namun begitu ia menoleh, Nina lagi-lagi dibuat heran dengan visual Dewa yang selalu menawan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Para korporat yang baru pulang jam segini akan bernampilan sangat kusut. Nina bahkan malu dengan wajahnya sendiri yang begitu kucel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
