Dewa masih berpendapat adalah keputusan yang buruk dengan membiarkan Nina bergabung dalam liburan singkat yang diadakan Peter. Tetapi ketimbang memusatkan fokus pada kekhawatirannya, Dewa mencoba melihat dari sisi menguntungkannya. Ia bisa liburan bersama Nina. Menjauh dari hiruk-pikuk jalanan Jakarta yang padat serta tumpukkan pekerjaan yang tak pernah berakhir. Menikmati keindahan Bali nan memukau.
Selain itu, Dewa tak ingin menyurutkan semangat Nina yang sudah memberanikan diri menyatakan ingin mengenalnya lebih dalam. Ia tahu, Nina bukan tipe orang yang mudah mengekspresikan perasaannya. Berbulan-bulan bersama, sedikit banyaknya, Dewa dengan percaya diri mengatakan ia sudah lebih memahami gadis itu. Hubungan mereka berjalan dengan baik dan semakin serius. Setelah liburan ini, Dewa tak akan membuang waktu lagi dan segera membawa Nina untuk diperkenalkan ke keluarganya.
"I'm so happy kita bisa liburan bareng. But, I still have suspicions about Peter," Emila berkata di sebelah Angga yang sedang menyetir. Sementara Dewa dan Nina duduk di belakang dengan tangan pria itu yang merangkul bahu kekasihnya. "He's a sleaze bag!"
"Just ignore him, babe." Angga menanggapi. "He's like a drama. Semakin kamu tanggepin, dia bakal semakin berulah."
Emila menghela napas. "Yeah, I wish I could. Mood-ku lagi bagus hari ini. So, mungkin aku bisa bersikap lebih sabar sama teman kamu itu."
Nina yang mendengarkan percakapan itu menoleh pada Dewa. Ia pikir perkataan Dewa yang mengatakan kalau Peter bukan lah laki-laki yang seperti ia kira hanya candaan semata. Tetapi sejak bertemu Emila di bandara, dan mereka terbang dengan pesawat yang sama ke Bali—Emila mengatakan ia harus berhati-hati pada Peter. Cukup abaikan saja pria itu jika dia sudah mulai bersikap brengsek.
"Is he that bad?" bisik Nina ketika Dewa yang menunduk dan mendekatkan telinganya ke bibir kekasihnya.
"He has no filter. Say whatever is on his mind. So, yeah ... " Dewa mengangguk. "Sometimes he can be an asshole."
"Mas, language!" tegur Nina.
Dewa tersenyum. Mengecup pipi Nina. "Sorry,"
Mata Nina melotot karena ciuman tiba-tiba Dewa. Meskipun di pipi—tetap saja ia malu karena di depan mereka ada Angga dan Emila yang jelas menyadari perbuatan Dewa.
Dewa malah tersenyum semakin lebar. Mengeratkan rangkulannya di bahu Nina. Salah satu pertimbangan hingga akhirnya ia mau bergabung dalam liburan yang Peter adakan karena Emila memutuskan untuk ikut setelah tahu Nina mengiakan ajakan Peter. Dengan keberadaan Emila, Nina tak akan begitu canggung. Ia juga punya teman perempuan yang membuatnya akan lebih nyaman.
Mobil yang dikendarai Angga melewati gerbang besar, mengikuti jalan satu arah yang cukup panjang hingga akhirnya mereka berhenti di halaman villa yang berlokasi di Desa Payangan, lima belas menit dari pusat Ubud. Villa tersebut sangat besar, dan jelas cukup private. Dikelilingi oleh pohon-pohon hijau dengan pemandangan sawah dan pegunungan.
Tempat yang akan membuat siapa saja merasa rileks dan tenang.
Nina mencoba untuk tidak bersikap norak meskipun dagunya hampir jatuh ke bawah. Ia menyadari jelas Dewa berasal dari keluarga berada. Begitu pun dengan teman-teman pria itu yang memiliki latar belakang keluarga yang sama. Tetapi melihat langsung kemewahan yang dimiliki oleh circle Dewa sedikit membuat Nina ... insecure—dan ia berusaha keras tak merasa begitu.
Mereka turun dari mobil dengan udara segar yang langsung menyambut. Emila menghampiri Nina, mengalungkan lengannya di tangan gadis itu—di saat pacar mereka menurunkan koper dan tas. "Aku nggak tahu siapa yang cewek yang lagi deket sama Peter, dan dibawa sama Kemal. Tapi semoga nggak nyebelin kayak dua bitches tahun lalu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
