35 | i love you

11.2K 1.1K 114
                                        

Dewa memiliki keluarga yang luar biasa hangat. Nina tak menyangka ia akan diterima dengan seterbuka ini oleh kedua orang tua Dewa—terutama Kinanti Ayu yang memperlakukannya seperti seorang ibu yang menyambut putrinya pulang setelah bertahun-tahun lamanya.

Dibalik penampilannya yang glamor, Kinanti Ayu sangat rendah hati. Semua itu tampak dari interaksi beliau ketika bicara dengan para asisten rumah tangga ketika mereka menyiapkan makan malam keluarga. Nina tak pernah merasa kemampuan memasaknya adalah hal yang luar biasa—tetapi ketika beliau mengetahui Nina bisa memasak, mata Kinanti Ayu langsung berbinar-binar.

"Sekarang Tante ngerti banget kenapa Dewa bisa setergila-gila ini sama kamu. Dewa itu doyan makan, Nina. Makanya Tante rutin kiriman masakan Bi Sukmi ke apartemen dia," ucap Kinanti Ayu dengan senyum kecil yang menghiasi wajah cantiknya. "Pasti setelah nyicipin masakan kamu, Dewa langsung pengen jadiin kamu istri deh."

Nina mengedipkan mata karena kalimat blak-blakan tersebut. "Tante bisa aja," ringisnya kecil. "Mas Dewa lebih jago masak daripada aku malah, Tan."

"Dia jagonya masakan western. Masakan Nusantara mah payah." Tukas Kinanti Ayu sambil mengibaskan tangannya. "Maklum, kelamaan sekolah di luar. Dulu pergaulan Dewa bebas. Alhamdulilah sekarang udah tobat anaknya. Tapi kalau Dewa nakal lagi, jewer aja kupingnya. Terus lapor ke Tante. Biar Tante kasih siraman rohani dia."

Nina menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil. "Siap, Tante."

Kinanti Ayu sepertinya punya cara sendiri menyayangi putranya. Sebagai anak satu-satunya, Nina pikir Dewa akan tumbuh dengan orang tua yang memanjakannya. Tetapi sepertinya mereka berdua mampu menahan diri agar tak terlalu memanjakan anak. Hal itu terbukti dari karakter Dewa yang selalu ambisius mengejar apapun yang ia inginkan. Ia dididik untuk selalu berjuang jika menginginkan sesuatu.

Suasana di ruang makan dipenuhi oleh canda tawa. Sesuatu yang sudah lama sekali tak Nina rasakan. Ia merasa begitu nyaman pada keluarga Dewa hingga tak menyadari jika hari sudah cukup larut malam.

"Nginep aja, Nina," bujuk Kinanti Ayu sambil menggandeng lengan Nina tak rela. "Di sini kamarnya banyak, kok. Pilih aja yang mana kamu suka. Ya?"

Nina tersenyum canggung. Tidak tahu bagaimana cara menolaknya.

"Besok Nina kan ngantor, Ma." Seolah bisa membaca pikiran kekasihnya, Dewa menyela sambil menarik tangan Nina agar berdiri di sebelahnya. "Rumah mama dari kantor kan jauh. Kasihan pacarku. Nanti kecapekan."

Kinanti Ayu membuang napas dengan ekspresi cemberut. "Sering-sering main ke sini ya, Nin. Atau nanti kita ketemuan dimana gitu. Tante lumayan sering kok main ke sekitar kantornya Dewa. Kalian satu tower, kan?"

Nina menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum. "Boleh, Tante."

Bibir Kinanti Ayu menyunggingkan senyum puas. Memeluk Nina sebelum akhirnya membiarkan Nina menyalami tangan suaminya sopan. Nina sangat berbeda dengan mantan-mantan Dewa sebelumnya. Kesederhanaannya terasa meneduhkan. Ia juga tampak tulus dan apa adanya. Pengetahuannya juga luas sehingga Kinanti Ayu bisa mengobrolkan apa saja dengannya. Dan yang paling penting tentu kesopanannya. Mantan-mantan Dewa juga sopan—tetapi tak satupun dari mereka yang memperlakukan Bi Sukma sebaik Nina.

Gadis itu benar-benar menghargai Bi Sukma tidak peduli apa posisinya di keluarga ini.

"Aku sama Nina balik ya, Ma, Pa," pamit Dewa pada orang tuanya.

Kinanti Ayu dan Rudi Hirawan mengangguk. Tetap berdiri di halaman rumah mereka sambil saling merangkul. Dewa membukakan pintu untuk Nina, sebelum memutar mobil dan masuk jok kemudi, menjalankan mobilnya menuju pagar rumah yang sudah dibukakan.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang