10 | butterfly in my stomach

11.9K 1.2K 106
                                        

Kian
Kak, kok telponku nggak diangkat?
Kamu lagi ngapain?

Nina hanya menatap chat yang muncul di layar ponselnya tanpa berniat membuka maupun membalas. Ia malah kembali melanjutkan kegiatan gardening-nya demi menyibukkan diri di hari weekend—sekaligus caranya melarikan diri dari masalah.

Seminggu ini Nina memang mengabaikan telpon dan chat Kian. Ia tahu seharusnya ia tidak menghindar dan membicarakannya dengan Kian. Hanya saja, Nina tidak ingin membahas laki-laki itu. Apalagi mengingatnya. Emosi Nina selalu menjadi tidak stabil setiap kali mengingat apa yang sudah laki-laki itu lakukan pada ibunya, padanya, pada Kian—pada keluarga yang dulu Nina pikir baik-baik saja ternyata menyimpan kepalsuan.

Pengkhianatan laki-laki itu lakukan terlalu menyakitkan untuk Nina. Hatinya tidak seluas ibunya yang bisa membuka pintu maaf untuk laki-laki itu. Ia juga tidak sebijak Kian yang mampu bersikap tenang dan memahami setiap perilaku buruk orang lain. Nina penuh dengan kebencian sampai ia ingin melakukan apa saja agar pengalaman pahit itu terhapus dari kepalanya.

Nina mengakui pengalaman buruk itu lah yang membuatnya memilih mengakhiri hubungannya dengan Samudera. Nina merasa begitu kecil karena setiap kali Samudera membawa ke rumah pria itu dan menyaksikan betapa harmonis keluarganya—Nina malah diingatkan oleh keadaan keluarganya yang saat itu tengah kacau balau. Ia jadi tak nyaman dan menghindari Samudera. Nina juga enggan bercerita karena ia malu pada Samudera.

Semua emosinya bertumpuk hingga akhirnya Nina memilih melepaskan Samudera. Ia tidak ingin Samudera melihat sisinya yang berantakan. Sejak awal, Nina tahu mereka tak akan berakhir bersama. Dan ia ingin Samudera mengingatnya sebagai kekasih yang ceria. Bukan kekasih pemurung yang iri pasangannya memiliki keluarga harmonis.

Dewa
Masih gardening?
Mau aku bantuin nggak?

Ponsel Nina kembali berdenting. Gadis itu berpaling setelah memasukkan tanah dan pupuk ke dalam pot. Menatap ponselnya lalu menghela napas panjang.

Ia memang membiarkan Dewa melakukan pendekatan karena ia tahu—pria seperti Dewa, yang tak pernah merasakan penolakkan dalam hidupnya jelas tertantang. Nanti Dewa juga capek sendiri oleh respon Nina yang lempeng. Sama seperti pria-pria lain yang pernahmendekatinya sebelumnya.

Dewa
Aku di lobi nih
Jemput dong

Nina membelalakan mata. Kali ini melepaskan sarung tangannya lalu meraih ponsel untuk mengetikkan balasan pada Dewa.

Nina
lho??
kok tiba-tiba di lobi?

Dewa
Gak tiba-tiba kok
Emang rencana balik dari nemenin mama aku mau ke apart kamu
Kangen. Udah tiga hari nggak ketemu.

Nina berdecak. Dewa ini sepertinya tipe orang yang mengatakan apa saja yang ada dalam pikirannya tanpa beban.

Nina
Yaudah
Aku turun sekarang.

Nina membuang napas panjang. Ia bangkit berdiri. Meninggalkan pekerjaan yang masih belum selesai untuk menjemput Dewa karena ia memang tidak memasukkan pria itu ke daftar tamu.

Dewa segera bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Nina begitu melihat gadis itu keluar dari lift. Hari ini Nina tampak cute sekali dengan kaos pink kebesaran bergambar Doraemon, serta celana cream pendek yang membuat mata Dewa memandang ke arah kaki putih jenjang nan mulus Nina cukup lama.

"Kamu kenapa nggak ngabarin dulu sih mau ke sini sih, Mas?" sembur Nina cemberut begitu sudah berdiri di hadapan pria yang tinggi sekali itu.

Dewa memalingkan wajahnya agak tidak rela. "Kalau aku ngabarin dulu. Kamu pasti punya seribu alasan buat nolak aku datang," Dewa berkata tepat sasaran.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang