"How do you feel?"
Dewa mengangkat wajahnya menatap Nina yang tampak sangat khawatir. Alih-alih pergi ke restoran lain yang sudah ia reservasi—Nina malah menyarankan agar mereka pulang saja. Gadis itu sepertinya memahami jika suasana hati Dewa sedikit down setelah mendengar pengakuan Debby. Ia tak pernah menyangka alasan Debby ingin mengakhiri pernikahan mereka karena hal tersebut. Dewa pikir mungkin karena ada pria lain. Atau Debby tak lagi ingin bersamanya. Tetapi ternyata ... Dewa menghela napas berat kemudian merebahkan kepalanya ke pangkuan Nina.
"I just feel bad," gumam Dewa. Memejamkan mata ketika merasakan jemari Nina menyisir rambutnya. Perasaan damai dan tenang perlahan-lahan menyusup ke dalam dadanya.
"Why?"
"She should have told me. I mean, dia kenal aku bertahun-tahun. Seharusnya tahu gimana reaksi aku."
"Memang gimana reaksi kamu?"
Dewa tak langsung menjawab. Malah pria itu mengambil tangan Nina di atas kepalanya. Lalu mengecup berulang kali. "Kaget, of course. Tapi semua hal bisa dicari jalan keluarnya. Bukan dengan tiba-tiba bilang nggak bisa menikah dan nggak datang di hari pernikahan tanpa penjelasan apapun."
"Will you still be with her?" tanya Nina entah mendapat keberanian darimana. Padahal pertanyaan tersebut cukup tricky.
Dewa tersenyum. Merubah posisinya menjadi terlentang sehingga pandangannya bertemu dengan sepasang mata lembut Nina yang menunduk. "Kanina, you can't ask me that."
"I'm just curious." Nina mengangkat bahunya kalem.
"She's my past. Aku nggak berandai-andai soal hubungan kami masih bisa diselamatkan kalau dia kasih tahu aku waktu itu. Aku berandai kalau dia ngasih tahu, mama nggak mungkin sampai masuk rumah sakit."
Nina mengangguk. "Fair enough."
"I want to marry you," aku Dewa. Mengamati ekspresi Nina lekat-lekat. "Itu yang paling penting. Pengakuan Debby hari ini bikin aku pengen lebih baik buat kamu. Pengen kamu bisa percaya sama aku sampai kamu nggak akan ragu buat ngasih tahu semua hal sama aku. Mau itu berita baik, maupun buruk."
"..."
"It's okay kalau kamu belum kepikiran ke sana soal hubungan kita," tambah Dewa. "I just want you to know, kalau aku serius dan berkomitmen sama kamu. I will wait for you because honestly, I don't want anyone else. But you."
Nina menghela napas berat. Kemudian meminta Dewa udah bangkit duduk. Lalu menggeser tubuhnya menghadap pria itu. "Aku juga berkomitmen dan serius sama kamu, Mas. Tapi, jujur aja, menikah masih jadi sesuatu yang bikin aku gelisah. And it's not about you. Bukan karena kamu kurang atau gimana. It's about me. Aku yang nggak percaya diri."
Dewa mengangguk mengerti. "I see," mengambil tangan Nina ketika melihat kegusaran di mata Nina. "You know what, kegagalan pernikahanku bikin aku sulit buat mencoba membangun hubungan baru. Aku takut salah pilih. Aku takut kalau wanita yang aku pilih bakal ninggalin aku gitu aja tanpa penjelasan. Aku takut mengecewakan mama."
Dewa menarik napas panjang, lalu melanjutkan.
"And then I realize, aku nggak bisa kayak gitu terus. Aku nggak bisa terus terfokus pada rasa takut. Akhirnya, mama nyaranin aku ke psikolog. Awalnya aku nggak mau, because I'm still in denial about my feelings. Sampai aku capek sendiri sama perasaanku, dan akhirnya bikin appointment sama psikolog. And ... you can see, here I am. Sama sekali nggak ragu membangun hubungan sama kamu. Sama sekali nggak ragu mencintai kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Художественная прозаDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
