17 | unexpected moment

10.6K 1.2K 212
                                        

Pernahkah kamu berada di kondisi memalukan dan rasanya ingin menghilang di detik itu juga?

Kedatangan Dewa bukan hanya mengejutkan. Tetapi juga memalukan buat Nina. The hell, ia berantakan sekali. Dan pria itu lagi-lagi melihatnya di kondisi yang tidak ingin Nina tunjukkan.

Nina terbangun ketika mendengar suara bel yang tak berhenti berbunyi. Pertengkaran kecilnya dengan Kian cukup membuat Nina melankolis. Ia menangis sampai akhirnya ketiduran. Nina memang terlihat tangguh di luar, tetapi jika sudah berurusan dengan orang-orang yang ia sayang—air mata Nina akan mudah mengalir bagaikan rintikkan hujan deras.

Sekarang matanya sembab, rambutnya berantakan, wajahnya pucat tanpa make up. She looks so messy.

Nina kesal karena belakangan ia peduli sekali terhadap penampilan. Well, lebih tepatnya, ia peduli penampilannya ketika berhadapan dengan Dewa.

"Kamu kok nggak ngabarin mau ke sini sih, Mas?" Nina mengembungkan pipinya setelah mengizinkan Dewa masuk ke dalam apartemennya. Mengambil langkah mundur agar pria itu tak dapat melihat wajahnya dalam jarak dekat.

"I did," Dewa menyahut. Pandangan turun pada sosok mungil Nina yang menunduk, menyembunyikan wajah dengan rambutnya sampai kening Dewa mengerut heran. "Tapi kamu nggak angkat telponku." Lanjutnya.

Oh, benar. Nina memang mengubah ponselnya menjadi mode don't disturb.

Dewa mengerutkan kening, lantas mengambil langkah mendekat. Impulsif merangkum wajah Nina agar mendongak menatapnya. "Nina, are you okay? Kenapa nunduk terus? Kepalanya pusing, ya?" tanya Dewa bertubi-tubi dengan nada suara begitu lunak.

Membuat perut Nina berdesir oleh sensasi geli yang membingungkan.

Sungguh menjengkelkan saat ada pria yang mampu mengambil kendali atas perasaannya. Sentuhan Dewa di pipinya bagaikan hawa panas yang membuat kulitnya merona. Jantung Nina berdegup kencang. Ia bergerak-gerak gelisah di bawah tatapan teduh Dewa. Membenci dirinya yang terus saja melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencananya.

"I'm fine," Nina membasahi bibir. Menepis tangan Dewa dari wajahnya lalu mengambil langkah mundur untuk membangun jarak aman. "Kamu kenapa ke sini?" tanyanya sembari berusaha mengendalikan diri.

Dewa masih mengamatinya dengan seksama. Seolah tengah berusaha membaca pikirannya. Dan Nina tahu ia tidak bisa membiarkan Dewa menyadari efek yang pria itu timbulkan padanya.

"Mas?" panggil Nina yang kali ini berhasil menyentakkan Dewa dari pemikiran di dalam kepalanya.

"Aku mau ngajak kamu makan," senyum memesona kembali terbit di bibir Dewa. "Kamu belum makan, kan?"

Nina menggeleng. Sebelum ia sempat bicara. Dewa sudah kembali bersuara. "Good. Kita makan di luar, ya. Kamu mau makan apa?"

Nina kembali menggeleng. Kali ini gelengan yang lebih tegas. "I'm not going anywhere with you, Mas. Aku nggak mood keluar."

"Oh," Dewa mengerjap. Tetapi jelas tak kehilangan akal. "Yaudah, kita makan di apart kamu aja."

Mata Nina mengerjap. Seharusnya ia tahu Dewa bukan tipe orang yang akan langsung mundur saat ditolak secara tidak langsung maupun langsung.

Nina ingin sendirian hari ini. Bersembunyi di dalam tempat perlindungannya sebelum menghadapi dunia dengan lebih tegar besok. Emosi Nina sedang campur aduk sekarang. Dan kedatangan Dewa—sial, kedatangan Dewa memang mengejutkan. Tetapi ia tahu ada seberkas rasa senang yang membuat awan kelabu di hatinya menyingkir bagaikan sapuan angin.

Sudah lama sekali ia tidak melihat Dewa. Dua minggu? Tiga minggu? Sebulan? Nina tidak tahu sudah berapa lama—tetapi entah kenapa, rasanya seperti lama sekali. Meskipun mereka sempat video call dua minggu lalu—tetap saja, rasanya berbeda melihat pria itu langsung.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang