Nina masih tidak yakin ini adalah ide yang bagus meskipun ia sudah mengenakan tea length dress berwarna hitam yang dipinjamkan Sisy padanya.
Nina tidak tahu Dewa akan mengajaknya kemana. Ketika ditanya pun, Dewa malah semakin merahasiakannya. Sebab itu, Nina memilih untuk tidak menyiapkan apa-apa sampai akhirnya Sisy turun tangan dan membawa salah satu dress miliknya ke apartemen Nina.
"Mas Dewa pasti ngajak lo candle light dinner lah," ucap Sisy yakin. "Lo nggak mungkin pakai jeans sama kaos buat kencan lo, kan?"
"Why not?" Nina mengangkat bahunya. "Siapa tahu Mas Dewa ngajak nonton, kan?"
"No way!" Sisy menggeleng. "Nggak mungkin Mas Dewa ngajak lo nonton terus makan di warung kaki lima buat kencan, Nina!"
"Kenapa nggak? Gue malah lebih suka kencan kayak gitu."
"Girrrrrrl. He's Hirawan." Sisy berkata gemas. "Ya kali ngajak lo makan di kaki lima. Udah! Pokok lo pakai dress gue ini. Lo nggak mau kan sampai salah kostum, ntar?"
Tidak punya pilihan lain, dan Nina juga tak mau mempermalukan dirinya jika memang Dewa mengajak candle light dinner—ia pun terpaksa memakai dress yang memeluk tubuhnya dengan pas. Panjangnya yang jatuh di pertengah betis membuat penampilan Nina tampak sopan namun elegan. Bagian bahunya cukup tertutup meskipun lengannya terbuka.
Nina sudah lama sekali tidak berkencan. Ia tak lagi mengharapkan romantisme dalam hidupnya. Nina percaya cinta itu ada karena beberapa orang cukup beruntung menemukan pasangan yang tepat. Namun tidak semua orang seberuntung itu, kan?
Setelah hubungan dengan Samudera berakhir, Nina tidak yakin dia akan bertemu dengan pria seperti Samudera lagi. Rasa takutnya pun membuat Nina memilih menyembunyikan diri dalam cangkang kokoh yang ia buat untuk melindungi dirinya dari kesedihan.
Namun, merasakan jantungnya berdegup amat kencang membayangkan kencannya dengan Dewa membuat Nina sadar jauh di lubuk hatinya yang paling dalam—ia belum semati rasa itu. Ia masih mendambakan hal tersebut meskipun ketakutannya memblokir langkahnya.
Nina menggigit bibir. Ia mulai gamang pada keputusannya. Ia menatap ponselnya di atas meja. Mempertimbangkan untuk membatalkan kencan tersebut—sebab gejolak emosi yang melandanya menyebabkan konflik batin dalam dirinya. Jika ia meneruskan hal ini—Nina tidak pernah tahu bagaimana Dewa akan menggerakan hatinya.
Nina belum siap. Ia tidak siap dengan—
Getaran ponsel di atas meja menginterupsi kemelut dalam pikiran Nina. Gadis itu menunduk ke bawah, lantas meraih benda pipih itu. Merasakan getar aneh di hatinya tatkala melihat nama pria yang mengajak berkencan muncul di layar—seolah-olah tahu dengan keraguan yang dirasakan Nina.
Nina menghela napas. Sepertinya tidak ada kesempatannya untuk mundur lagi.
"Halo, Mas?"
"Aku udah di bawah," suara Dewa terdengar halus namun bersemangat. "Tapi kalau kamu masih siap-siap. Don't mind me. I'll wait for you."
Dewa pasti punya pengalaman berkencan. Pria itu selalu tahu harus mengatakan apa untuk membuat perasaan wanita melambung.
"Aku udah siap, kok," Nina membalas seraya meraih sling bag-nya. "Aku turun sekarang."
"Okay. See ya."
Nina mengakhiri panggilan. Sekali lagi menatap pantulan tubuhnya di cermin sambil mengingatkan dirinya untuk berhati-hati pada perasaannya. Tidak ada yang bisa menyakitinya selama ia tak mengizinkannya. Sebab itu, Nina harus waspada terhadap siapa pun yang mencoba masuk ke dalam kehidupannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Ficción GeneralDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
