Dewa memeluk pinggang Nina posesif begitu mereka tiba di flying bridge. Meja telah terisi dengan minuman-minuman beralkohol serta beberapa pencuci mulut. Musik yang berdentum keras membuat kehadiran mereka tak begitu disadari. Dewa menunduk, memandangi Nina yang menggigit bibirnya cemas. Sesuatu yang membuat hati Dewa meleleh bagaikan mentega yang dipanaskan.
Ia sudah benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Tak ada keraguan lagi.
Ketika Nina memberi tatapan memohon agar mereka bergabung dalam pesta yang diadakan Peter—Dewa tak kuasa menolak. Padahal tak seorang pun yang bisa membujuknya hadir di acara dimana juga ada Debby di sana. Tetapi Dewa tak bisa menolak Nina. Meskipun permintaan gadis itu adalah hal yang paling tak ia sukai sekali pun.
"I know she has hurt you very much. And I wish I could take that pain away from you. But we need to face it, Mas. Kayak kamu yang bikin aku akhirnya memberanikan diri buat keluar dari cangkangku, dan menyambut kamu tanpa keraguan. Aku pengen kamu juga lepasin rasa sakit itu. Because I'm here," Nina tersenyum lembut menatap Dewa dengan cara yang membuat perut Dewa melilit. "With you."
Debby adalah masa lalu yang sudah tak berarti apa-apa lagi untuk Dewa. Tetapi ia harus mengakui, jika kekecewaannya yang begitu mendalam membuatnya menyimpan rasa sakit itu tanpa sadar. Rasa bersalah pada sang ibu yang begitu besar terus mencekiknya. Dewa bisa memaafkan dirinya sendiri dan Debby jika hal itu hanya berimbas pada dirinya. Sayangnya, kebodohannya juga berimbas pada keluarganya ... ibunya ... wanita yang sudah melahirkannya.
Dewa tak mungkin bisa melupakan itu.
Sampai genggaman tangan Nina melembutkannya. Sampai gadis itu menatapnya dengan penuh kasih sayang.
Ia tahu Nina memiliki perasaan padanya. Tetapi mendengar langsung dari mulut gadis itu, Dewa tak mampu membendung kebahagiaannya. Ia sudah menunggu momen ini penuh kesabaran, dan itu semua setimpal dengan betapa kuatnya pondasi antara mereka sekarang.
"I won't take my eyes off you,"
Nina menoleh sembari mendongakkan kepalanya. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil lalu berkata. "You'll fall if you don't take your eyes off me, Mas."
"I don't mind." Dewa menaikkan sudut bibir yang ditambah dengan sorot mata playful. "Besides, I've already fallen for you."
Bahu Nina bergetar oleh tawa, dan tidak ada yang lebih indah dari apa yang Dewa lihat sekarang. "Nice shoot, Mas," katanya lalu mengalihkan pandangan dari Dewa dengan pipi memerah.
Dewa mengulum bibirnya. Selalu gemas ketika Nina tersipu oleh perkataannya. Dan selalu ada kebanggaan akan hal itu.
Mereka mengambil langkah ketika Emila mengangkat tangan dan meminta mereka untuk bergabung. Dewa memeluk pinggang Nina hingga mereka semakin merapat. Tak repot-repot menunjukkan keramahan pada Peter yang duduk tak jauh dari mereka—bersama Kemal dan kedua pasangan mereka. Oh, tentu saja juga ada Debby yang terus menatapnya.
"Nina, you look so pretty," Emila tersenyum ceria. Bercipika-cipiki dengan Nina memang tampang sangat cantik malam ini.
Dewa tak berdusta ketika mengatakan ia tak akan mengalihkan pandangan dari Nina. Kekasihnya sungguh tampak memesona dengan midi dress hitam di bawah lutut. Potongannya yang feminim membentuk lekuk tubuh Nina yang indah. Memberi kesan anggun dan chic secara bersamaan.
"You're prettier, Em." Balas Nina merendah.
"Hi, guys," sebuah suara yang menginterupsi membuat Dewa menghela napas. Berpaling bersama Nina yang juga menoleh pada sumber suara. Ia memperhatikan senyum ramah yang tercetak di bibir kekasihnya. Tampak begitu tenang dan anggun. Membuat Dewa tersenyum bangga dan mengusap pinggang Nina dengan mesra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Fiction généraleDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
