Butuh keberanian yang cukup besar untuk Dewa mengajak Nina menemui orang tuanya. Tetapi sepertinya ia khawatir berlebihan, dan terlalu berhati-hati pada gadis itu. Pada kenyataannya, apa yang dicemaskannya sama sekali tak terjadi.
Dewa tidak ingin Nina merasa terbebani. Sebesar apapun keinginannya untuk segera menyeret Nina ke pernikahan bahagia bersamanya—kenyamanan gadis itu itu lah yang Dewa utamakan.
"Boleh," angguk Nina tanpa berpikir. "Mama kamu suka apa, Mas?"
"Kamu mau?" Dewa mengerjapkan mata.
"Kenapa nggak mau?" Nina mengernyitkan keningnya bingung. Lalu bertanya berhati-hati. "Memang mama kamu galak, ya?"
"No," Dewa menggelengkan kepala, lalu terkekeh kecil. "Mama nggak galak. Dia cuma agak heboh aja. Jadi, tolong maklumin, ya."
Nina tertawa kecil. "Malah aku yang minta dimaklumin. Aku takutnya mama kamu ngira aku sombong karena terlalu diem."
"Mamaku bilang dia punya firasat baik sama kamu. First impression waktu ketemu juga, mama langsung suka. Ini aja mama udah nanya terus kapan bawa kamu ke rumah."
"Beneran?"
Dewa mengangguk. "Sure thing, baby. You don't need to worry about that."
Sewaktu pertemuan singkatnya dengan ibu Dewa—wanita paruh baya itu memang ramah sekali dan sangat apa adanya. Tetapi mereka tak banyak mengobrol waktu itu, dan kejadian nya sudah cukup lama sehingga Nina tidak tahu bagaimana pandangan ibu Dewa padanya sekarang.
Nina meremas dress-nya gugup begitu mobil Dewa melewati gerbang tinggi yang terbuka otomatis. Sebuah bangunan mewah dengan arsitektur bergaya klasik Eropa cukup membuatnya terintimidasi. Ini adalah rumah paling besar yang pernah Nina kunjungi. Pilarnya tampak begitu megah dengan langit-langit tinggi. Halaman depannya luas, ada air mancur marmer membentuk jalan melingkar yang menambah kedramtisannya.
Pada sisi sebelah kanan, mobil-mobil mewah terparkir rapi—dan Nina sama sekali tak ingin membayangkan berapa harganya.
Nina menunduk, menenangkan detak jantungnya yang berdegup kian kencang. Nina tak percaya ia menyetujui ajakan Dewa dengan enteng seakan-akan yang akan ia datangi bukan keluarga berpengaruh.
Bagaimana bisa dia sepercaya diri itu?
Bagaimana bisa dia tak memikirkan pendapat orang tua Dewa padanya? Bagaimana bisa—
"Kanina," Nina tersentak kaget ketika tangan besar Dewa membalut tangannya yang terasa dingin di atas pangkuannya. Kepalanya menoleh ke samping, pada Dewa yang menatapnya dengan hangat. "Are you nervous, baby?"
Nina menggigit bibirnya, kemudian mengangguk dengan kepanikan yang menguasainya. "Yeah, I think I am."
"Why?"
"Gimana kalau aku nggak cukup bikin mama kamu suka sama aku?" ungkap Nina gelisah.
"Kanina, stop stressing. It's impossible for anyone to dislike you."
"Just because you like me, doesn't mean everyone will like me, Mas."
"Okay," Dewa memutar tubuhnya menghadap Nina. "Tell me why do you think my family will hate you?"
"I don't know," Nina mengangkat bahu sambil memilin ujung dress-nya. "Karena aku biasa aja. Bukan lulusan universitas luar negeri? Cuma karyawan biasa. Sementara kamu ... kamu keluarga Hirawan. Kamu punya semua yang kamu mau. Bisa aja ... mama kamu berpendapat aku nggak cukup pantas buat sama kamu."
"Terus mamaku nanti kasih kamu segepok uang dan nyuruh kamu ninggalin aku?" perut Dewa tergelitik ketika membayangkan hal tersebut. "Well, kalau mamaku nanti gitu, kamu ambil aja uangnya. Nanti kita ketemu diam-diam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Narrativa generaleDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
