Baru dua hari sejak Nina menginap di apartemen Dewa, tetapi ia sudah merindukan pria itu.
Meskipun mereka tetap rajin bertukar pesan, Nina merasa hal itu tak lagi cukup untuk mengisi kehampaan yang terjadi di hatinya. Ia butuh melihat Dewa langsung. Meresapi kehadirannya. Dan merasakan betapa hangatnya ketika pria itu bersamanya.
Saat ini Dewa tengah menangani proyek pertamanya di perusahaan sang ayah. Sebab itu, Dewa memang sibuk sekali. Setiap kali mereka video call, Nina bisa mengintip tumpukan dokumen di meja kerja pria itu. Belum lagi rangkaian meeting yang tampaknya tak pernah berakhir. Dewa bekerja sangat keras untuk membuktikan dirinya. Dan sebagai seseorang kekasih, Nina jelas ingin selalu mendukung Dewa.
"Hi thereeee?" Nina mengerjapkan mata ketika Sisy mengibaskan tangan di depan wajahnya. Are you still here? Atau lagi di hati Mas Dewa?" tambah Sisy sambil nyengir.
Nina mendengus. Menyingkirkan tangan Sisy dari wajahnya saat gadis itu menyungging senyum menggoda. "Apa sih, Sy!"
"Habisnya lo diajak nongkrong malah ngelamun," Sisy menggelengkan kepalanya lalu melirik Sofia yang menyeruput milkshake-nya santai. Karena belakangan kantor sedang hetic parah sampai mereka tidak bisa menikmati hidup—begitu bisa pulang cepat, Sisy tak melewatkan kesempatan dan langsung mengajak Nina dan Sofia nongkrong di salah satu coffeshop viral di Jakarta Selatan. "Sejak bos lo resign, nih anak galau mulu."
"Gue nggak galau!" bantah Nina. Menyipitkan mata galak pada Sisy.
"Sebenarnya, semenjak Mas Dewa resign, bukan cuma lo yang galau, Nin. Semua penggemar Mas Dewa juga pada galau." Ungkap Sofia.
"Emang fans-fans Mas Dewa masih ada, ya?" Bukan Nina yang bertanya, melainkan Sisy. Meskipun Nina langsung memasang telinga menunggu jawaban Sofia.
"Masih lah!" Sofia menjawab menggebu-gebu. "Yang ngasih hadiah juga masih ada. Padahal nggak pernah diterima Mas Dewa."
"Widih, gue baru tau nih. Gue kira setelah Mas Dewa sama Nina go public, itu fansclub bakal bubar," Sisy menanggapi.
"Mana adaa," Sofia menggoyangkan jari telunjuknya. Kemudian memotong cheesecake yang mereka pesan. "Bahkan di kantor yang genit-genit sama Mas Dewa masih ada."
"Serius lo?" Sisy membelalakan mata tak percaya.
Nina merasakan dadanya bergemuruh karena informasi tersebut. Rasa tak nyaman yang menggulung hatinya bisa Nina deskripsikan sebagai sebuah kecemburuan. Membayangkan ada perempuan yang begenit-genit ria pada kekasihnya membangkit keposesifan dalam diri Nina.
"Tapi tenang aja, Nin. Mas Dewa nggak pernah nanggepin, kok." Imbuh Sofia sambil nyengir penuh ledekkan. "Gue bisa jamin Mas Dewa lurus-lurus aja. Semenjak pacaran sama lo, Mas Dewa jadi untouchable banget."
Sisy yang merasakan jelas kecemburuan di ekspresi sahabatnya mengulum bibir sambil menyenggol lengan Nina. "Sepanjang gue kenal lo, baru kali ini gue ngeliat lo cemburu. Astaga, Kanina! Ternyata lo nggak sedatar itu ya. Masih bisa cemburu juga!"
Nina berdecak. "Nggak usah lebay deh, Sy."
"Gue nggak lebay, Nin." Sisy menanggapi. "Cuma excited aja ngeliat lo yang biasanya lempeng-lempeng aja bisa jealous kalau cowok lo digenitan sama cewek lain."
"Gue kalau jadi Nina mah pasti juga bakal jealous dan posesif," kata Sofia. "Spek Mas Dewa dimana lagi mau dicari ya, kan? Tampan, mampan, dan bucin mampus."
Sisy manggut-manggut menyetujui. "Apalagi tujuan deketinnya jelas, ya. Langsung dikenalin ke keluarga."
"Wait," mendengar informasi tersebut sontak membuat Sisy membelalakan mata. "Mas Dewa udah kenalin lo ke kaluarganya, Nin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Ficción GeneralDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
