Bibir Nina kering. Hatinya berdenyut perih oleh rasa pengkhianatan—meskipun ia tahu, Dewa pasti memiliki alasan hingga tidak memberitahunya. Hanya saja, hantaman emosi membuatnya spontan melepaskan genggaman Dewa dari tangannya. Mengundang ekspresi panik di wajah pria itu yang menatapnya memohon. Sementara Nina terlalu bingung, kalut, dan tak percaya diri untuk membalas tatapan Dewa.
"Sayang," Dewa berbisik lirih. Mencoba meraih Nina yang menggelengkan kepalanya dan menarik langkah mundur darinya. "Aku bisa jelasin."
"Jangan sekarang, Mas." Nina bersuara begitu menemukan lagi kekuatannya. Kepalanya menggeleng, tak sanggup menatap Dewa—sebab rasanya sakit sekali mengetahui pria itu menyembunyikan sesuatu darinya. "Kamu pulang aja."
"Tapi—" Dewa memelas. Merasakan sesak karena Nina tak mau menatapnya. Merasa bersalah karena dirinya yang membuat Nina seperti ini.
"Please, Mas,"
Suara serak dan terluka Nina membuat Dewa diam tak berkutik. Dadanya seperti ditusuk oleh pedang tajam. Dewa mengusap wajahnya gusar, lalu menganggukan kepalanyanya pasrah. "Call me when you ready, okay?" pintanya.
Nina bergeming.
Dan itu membuat Dewa makin gusar dan panik. "Kanina,"
Nina mengangguk. Masih enggan menatap Dewa.
Dewa menghela napas. Lantas mengambil langkah mendekati Hendri dan berpamitan pada pria paruh baya itu—sebelum akhirnya Dewa menarik langkah mundur, menatap Nina yang membuang wajah darinya. Dada Dewa kian sesak. Ia tertunduk, mengusap rahangnya. Ketakutan yang mencengkram hatinya membuat tangannya gemetar. Tetapi ia menyadari harus memberi waktu untuk Nina sendiri hingga dengan erat hari Dewa menarik langkah pergi.
Hendri masih berdiri di tempatnya ketika Dewa keluar melewati lobi. Ia menatap putrinya sedih—yang menolak melihatnya. Sungguh, tidak ada pembelaan yang bisa Hendri katakan. Perbuatannya memang salah dan termaafkan. Tetapi tak sedetik pun ia berhenti menyayangi Nina.
"Kakak," panggil Hendri lembut.
Nina menggigit bibir bagian dalamnya. Kemudian berkata dengan nada suara dingin. "Kita bicara di atas, Yah."
***
Sudah sangat lama Nina tidak bertemu ayahnya. Perasaan kecut menyergapnya ketika ia menyadari sang ayah lebih kurus dari sejak terakhir yang ia lihat. Wajah dan fisiknya pun sudah termakan usia. Nina berusaha mengenyahkan rasa iba di dalam hatinya. Mengingatkan dirinya kembali akan perbuatan sang ayah. Tetapi tetap saja, Nina tak dapat memungkiri jika masih ada sedikit kepedulian yang ia rasakan pada pria paruh baya yang duduk di sofa apartemennya dengan canggung dan gugup.
Membawa secangkir teh hangat, Nina meletakannya di atas meja. Mengambil kursi dan duduk di sebelah sofa dengan ketenangan yang berusaha ia tunjukan.
"Makasih, Kak," sang ayah berkata lembut. Menyesap teh buatan putrinya perlahan-lahan.
Sudah lama sekali ia tak mencicipi teh buatan Nina. Biasanya, setiap ia pulang dari rumah sakit, putrinya akan membuatkannya teh, dan mereka akan duduk bersama untuk mengobrol hangat. Hendri tersenyum getir karena tahu momen itu tak akan pernah terulang lagi karena kesalahannya.
"Gimana kabar, Kakak?" Hendri bertanya dengan nada hangat setelah meletakan cangkir teh di atas meja. Berusaha membangun obrolan untuk menyingkirkan kecanggungan di antara mereka. "Kerjaanya di kantor lancar-lancar aja, kan?"
"Ayah ngapain ke sini?" Nina menyela dingin. Terlalu banyak emosi yang menumpuk, dan Nina tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
Nina sudah lama sekali menyimpan semuanya sendiri. Meskipun sedikit demi sedikit ia sudah memberanikan diri terbuka pada orang yang ia percaya—tetap saja, ketika sumbernya datang, semua ingatan menyakitkan itu kembali tengiang di dalam kepalanya. Bagai gelombang tsunami yang menghancurkan benteng kokoh yang ia buat. Rasa terluka, kecewa, pengkhianatan ... semua bercampur menjadi satu. Menyebakan perih yang membakar matanya sampai Nina memalingkan kepalanya. Tidak ingin menunjukan air matanya pada sang ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
