21 | the cutest pair

13.1K 1.1K 145
                                        

Sabtu pagi, Dewa sudah menjemput Nina demi menagih janji gadis itu yang akan bermain ke apartemennya. Semalam Dewa sudah grocery; membeli beberapa bahan makanan karena ia ingin memasak makanan favorit kekasihnya. Ia juga menyediakan cemilan untuk mereka berdua. Dewa bahkan memanggil helper guna membersihkan apartemennya agar Nina betah. Bahkan kalau bisa menginap sekalian.

Meskipun kemungkinan itu sedikit mustahil, mengingat Nina selalu mengusirnya setiap kali Dewa mencari-cari alasan agar tetap tinggal di apartemen gadis itu.

Well, harus Dewa akui, gaya pacarannya memang agak dewasa. Ini juga pertama kalinya bagi Dewa menjalin hubungan dengan wanita yang jarak umurnya cukup jauh. Terlebih, Nina masih menyimpan kepolosan yang membuat Dewa terkadang merasa seperti laki-laki brengsek yang mengambil kesempatan dari gadis baik-baik.

Tetapi mau bagaimana lagi. Ia laki-laki normal yang sudah cukup lama tak menjalin hubungan. Selama ini Dewa mengalihkan hasrat dalam dirinya dengan bekerja dan berolahraga. Tapi sekarang, bagaimana Dewa bisa menahannya?

Ia memiliki kekasih yang sangat cantik dan manis. Keinginan untuk menyentuh, mencium, dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan pasangan kekasih kasmaran sulit untuk ditahan. Dewa tidak sesuci itu untuk mampu mengenyahkan dorongan tersebut. Namun bukan berarti ia akan memaksa Nina.

Consent adalah hal yang Dewa junjung tinggi.

"Kenapa pagi jemputnya sih, Mas?" omel Nina sambil menahan kuap.

Semalam ia sudah bilang pada Dewa agar menjemputnya siang saja. Tapi tiba-tiba, pria itu membangukannya melalui dering telepon yang terus berdering, mengabari akan menjemputnya setengah jam lagi. Nina langsung gelagapan dan segera bersiap-siap. Ia bahkan tak sempat berdandan. Hanya memakai sunscreen dan lipgloss agar tidak pucat-pucat amat.

Dewa tertawa kecil. Menoleh pada kekasihnya yang bersandar di jok mobil sambil mengucek matanya mengantuk. Sebelah tangan Dewa terulur, mengusap kepala Nina gemas. "Biar kita punya waktu banyak buat pacaran, Sayang. Kamu tidur jam berapa sampai masih ngantuk berat gini? Bukannya semalam katanya mau tidur cepat, ya?"

Nina membuka mata tegang. Lalu membasahi bibir. Mendapati Dewa menatapnya dengan mata menyipit membuat Nina harus menjaga ekspresinya agar tidak kelihatan gugup.

Semalam ia memang mengakhiri panggilan telepon mereka dengan alasan mengantuk. Padahal sebenarnya Nina ingin melanjutkan pekerjaannya. Nina tak yakin ia bisa berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya saat bersama Dewa. Pria itu mempunyai potensi memecah konsentrasinya. Jadi, daripada deadline-nya menumpuk, lebih baik Nina antisipasi lebih awal.

"Tidur cepat, kok. Tapi kalau weekend aku memang biasanya nggak bangun pagi," balas Nina tak sepenuhnya berbohong. Seperti budak korporat lainnya. Weekend adalah hari untuk bermalas-malasan. Nina biasanya memang bangun agak siang karena malamnya ia pakai untuk menyelesaikan side job-nya.

"Bangun pagi, dong. Katanya mau hidup sehat," ledek Dewa. "Mumpung masih dua puluhan ini."

Nina mengerucutkan bibirnya. "Iya deh yang paling morning person."

Dewa tertawa sambil menurunkan tangannya dan mengusap pipi Nina lembut. "Yaudah, kamu lanjut tidur, ya. Nanti aku bangunin kalau udah sampe."

Nina menggelengkan kepalanya. "Aku udah nggak bisa tidur lagi. Lagian nggak sopan kamu nyetir, aku malah tidur."

"Pengertian banget," Dewa tersenyum kecil. Menarik tangannya dari pipi Nina untuk memutar setir ketika berada di belokkan. Lalu kembali mengulurkan tangan, yang kali ini menyasar ke tangan kekasihnya. "Kalau mau hidupin lagu nggak apa-apa, Sayang. Biar kamu nggak ngantuk."

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang