Nina menggigit bibirnya, berjalan di belakang Pedro ketika mereka keluar dari ruang meeting. Seharusnya sih mood Pedro hari ini baik, mengingat project yang mereka kerjakan telah rampung dan klien menyukai hasil kerja keras mereka. Nina rasa ini adalah momen yang tepat untuk bicara dengan Pedro dan mengembalikan hadiah pria itu.
"Mas," Nina memanggil Pedro saat pria itu hendak duduk di kubikelnya. "Can we talk?" tanyanya begitu Pedro membalikan badan dan menatapnya.
"Sure," Pedro mengangguk. Dengan mimik wajah yang selalu datar sehingga orang tidak bisa menebak suasan hati pria itu.
Nina tersenyum tipis. Lantas mereka pun menyingkir. Kebetulan banyak yang bekerja di luar kantor hari ini sehingga tidak sulit untuk Nina mencari tempat sepi. Ia mengajak Pedro ke pantry yang kosong. Tanpa basa-basi, mengulurkan paper bag pemberian Pedro yang ia sembunyikan di balik punggung.
"Sorry, Mas. Aku nggak bisa nerima hadiah kamu," ucap Nina dengan nada berhati-hati.
Pedro mengerjap. Kedataran di wajahnya terusik. Pria itu hanya menatap hadiah pemberiannya lalu mengangkat wajahnya memandang gadis dihadapannya dengan kekecewaan yang berusaha ia tutupi. "Kamu nggak suka, ya?"
"No, bukan gitu." Nina menggeleng. Kemudian menghela napas. "Aku nggak bisa nerimanya aja."
"Kenapa?" tanya Pedro. Masih enggan mengambil lagi hadiah pemberiannya. Ia memberikan hadiah tersebut tanpa mengharapkan apa-apa. Pedro hanya tak bisa menahannya. Ketika ia tanpa sengaja melihat sebuah video yang me-riview Kindle, Pedro langsung teringat Nina. Dan betapa bergunanya barang tersebut untuk gadis itu.
"It's too much," Nina memakai nada berhati-hati meskipun kata-katanya cukup blak-blakan. "I'm sorry. Aku beneran nggak bisa nerimanya."
"Is it because of him?" pertanyaan itu seharusnya tak mengejutkan lagi untuk Nina. Mengingat semalam Pedro melihat dirinya dirangkul oleh Dewa dan mereka masuk bersama ke dalam gedung apartemennya. Hanya saja, Pedro biasanya tidak peduli dengan hal semacam itu. Siapa yang tengah berkencan dengan siapa. Pria itu tidak menaruh perhatian pada urusan orang lain.
Tetapi pria itu mengajukan pertanyaan itu. Dan Nina menelan ludah karena tahu ia tidak bisa menghindar, atau pun menyangkalnya. Jadi, ia menganggukkan kepalanya pelan, membenarkan.
Ekspresi Pedro menegang seperkian detik. Pria itu cukup mampu mengendalikannya dengan begitu cepat. "You have a boyfriend now," gumamnya lebih ke pernyataan ketimbang pertanyaan. "Does he treat you well?"
Pertanyaan Pedro kembali mengejutkan. Namun Nina menjawabnya dengan anggukkan kepala.
"I get it," Pedro merapatkan bibirnya. Lantas mengambil paper bag di tangan Nina. "Congratulations," ucap pria itu dengan suara yang terdengar pahit.
"... thank you?" Nina menyahut tak yakin.
"So, I think we should go back to work?"
"Oh, ya," Nina mengerjap. "Kamu duluan aja, Mas. Aku mau bikin kopi dulu. Kamu sekalian mau dibikinin nggak?"
"No, I'm fine," Pedro menggeleng. "Kalau gitu aku duluan, ya."
"Sure," Nina mengangguk sambil tersenyum lega.
Tanpa menyadari jika hari itu ia telah mematahkan hati seorang pria.
***
Nina memasuki mobil Dewa dengan napas terengah-engah. Mendelik pada Dewa yang malah nyengir ketika Nina meliriknya dengan jengkel. Bagaimana tidak, Dewa mengabari jika ia sudah kembali ke kantor dan menunggu Nina di parkiran secara tiba-tiba. Seharusnya Dewa mengabari sejak pria itu berangkat biar Nina punya waktu untuk bersiap-siap turun ke bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
