16 | down for you

10.2K 1.1K 78
                                        

Setelah berbulan-bulan sibuk dengan kegiatan koas yang super heticyeah, mengingat Kian berada di stase major, Nina sama sekali tak heran—Kian akhirnya berkunjung juga ke apartemen baru Nina dengan membawa snack yang ia beli Superindo di weekend ini.

"Ini worth it banget sih, Kak," komentar Kian sembari melakukan room tour singkat.

Pelan-pelan, Nina mulai menata apartemennya agar lebih nyaman untuk
ditempati. Mencari ide pinterest, ia memilih desain cozy warm white mengingat ia suka menghabiskan waktu di rumah. Nina juga menambah furniture-furniture kayu guna menonjolkan kesan cozy-nya.

Beberapa tanaman hijau pun ia letakkan di dekat jendela. Memadukan warna-warna netral agar ruangannya tampak lebih luas.

"Keamanannya juga ketat. Tadi aku sempat ngobrol-ngobrol sama Pak Eko," imbuh Kian. Dan Pak Eko adalah satpam gedung apartemennya. "Dia bilang nggak bakal naikin tamu sebelum ada konfirmasi dari penghuni."

Nina mengangguk menyetujui. Ia juga merasa sangat beruntung karena dapat menyewa apartemen sebagus ini dengan harga miring. "Makanya kamu nggak perlu ngomel lagi kalau aku lembur dan pulang malam."

Sebab belakangan Nina dikejar deadline—ia menjadi lebih sering lembur di kantor. Kadang ia baru pulang jam sepuluh malam, pernah jam sebelas sampai Kian mengomel panjang. Andai Nina tidak bilang ia diantar pulang oleh teman kantornya, Kian pasti sudah menjemputnya tidak peduli ia ada jadwal jaga.

Kian menoleh. Tak merubah ekspresi datarnya. "Tempat tinggal kamu emang aman. Tapi di jalan nggak aman. Jangan pulang malam sendirian, apalagi kamu cewek. Sekarang naik ojol pun belum tentu aman."

Kemarin sempat ada kasus perempuan yang hampir diculik oleh ojol dan ramai di X. Nina tidak terkejut Kian akan membawa kasus tersebut untuk membuat Nina tak berkutik atau pun mampu membantahnya.

Kian selalu punya argumen yang kuat sehingga sulit untuk menyanggahnya. Sebab itu, terkadang Nina merasa Kian yang lebih tua darinya.

"I'll be fine, Dek. Lagian jarak kantor ke apartemenku nggak jauh. Jalan yang dilewati juga ramai." Namun bukan Nina namanya kalau tidak punya balasan.

Kian menghela napas. "I'm worried, Kak. Aku—"

"Understood," Nina memotong. Tidak ingin berdebat panjang dengan sang adik karena mereka sudah lama tidak bertemu. "Kamu bawa apa, Dek?" tanya Nina mengalihkan pembicaraan. Mengayun kakinya ke kitchen island untuk menengok isi kantong plastik yang dibawa Kian. "Aw, kamu beliin aku yupi, ya? Thank you!"

Kian mendengus melihat ekspresi berseri-seri sang kakak.

"Tapi nggak boleh langsung dihabisin!" peringat Kian. "Terakhir diperiksa kadar gula kamu tinggi."

"Yes, Dok." Nina menyahut patuh. "Kamu kenapa sih kalau ketemu aku ngomel mulu?"

"Habisnya kamu punya alasan buat diomelin."

"Aku lebih tua, ya. Seharusnya kamu itu hormat sama aku!" tukas Nina sambil berkacak pinggang dan menyipitkan mata galak. Orang-orang kantor pasti sudah bergidik ngeri jika Nina dalam mode mau marah. Tetapi hal itu jelas tak berlaku untuk Kian—yang terlihat acuh tak acuh dan malah duduk dengan santai di sofa lalu menyalakan TV.

Nina mendengus. Kemudian menyusul beberapa menit setelahnya sambil membawa cemilan untuk mereka santap bersama.

Sewaktu mengetahui ibunya hamil dan ia akan memiliki seorang adik—Nina merasa begitu bahagia sampai ingin selalu tidur di sebelah ibunya agar bisa mengelus perut sang ibu—menenangkan adiknya jika mulai nakal di dalam perut ibunya.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang