Meskipun sudah banyak orang yang mulai aware dengan mental health—tetap saja, hanya beberapa yang berani untuk datang ke psikolog atau psikiater. Stigma sosial masih belum begitu bagus pada orang-orang yang mengalami mental issue. Lebih daripada itu, kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental belum benar-benar tersampaikan pada semua orang.
Sebagai anak pertama, Nina punya naluri untuk menjadi lebih kuat. Sebab itu, ia tumbuh menjadi orang yang tertutup dan lebih suka menyimpan masalahnya sendiri. Rasa malu akan issue keluarganya juga membuat Nina tidak pernah berpikir untuk datang ke psikolog. Meskipun harus ia akui, kejadian tersebut menghambatnya dalam banyak hal.
Bayangan pengalaman buruk itu pun kerap muncul setiap kali sesuatu memicunya. Nina pun sulit mempercayai orang lain karena orang yang paling ia percayai saja bisa mengkhianatinya. Bahkan Nina pernah merasa sangat rendah diri hingga tidak ingin menjalin hubungan sosial dengan siapa pun.
Tetapi hidup terus berjalan. Kesadaran ia tidak bisa terus terpuruk membuat Nina bekerja lebih keras agar bisa mandiri hingga ia tak perlu meminta bantuan siapapun—meskipun kedua orang tuanya masih cukup mampu membiayainya.
Ayahnya memang tidak melepaskan tanggung jawabnya begitu saja. Hanya saja, sejak ayahnya lebih memilih meninggalkannya, Nina tidak ingin menerima apapun dari sang ayah. Ia langsung memutus kontak dan menganggap pria itu sudah tidak ada. Ia bekerja sangat keras karena menyadari pada akhirnya ia akan hidup sendiri. Dan semua orang akan meninggalkannya.
Bertahun-tahun Nina hidup dalam rasa sakit hati itu tanpa pernah mendapatkan pengobatan— ia pikir waktu yang akan menyembuhkannya. Perlahan-lahan semuanya memudar dan ia bisa memulai lembaran baru.
Sayangnya, waktu tidak pernah menyembuhkan luka. Mungkin luka itu terlupakan, tetapi ia tak sembuh.
Nina tidak bisa mengatakan jika tiga minggu ia rutin melakukan konsultasi dengan psikolog membuatnya sembuh. Tetapi ada perasaan lega sehingga ia merasa lebih ringan. Bu Heni adalah pendengar yang baik. Beliau pun tak membuatnya merasa seperti dihakimi ketika ia mengungkapkan kekecewaannya. Sejauh ini, Nina tak lagi merasa khawatir bila waktunya untuk berkonsultasi tiba.
"Hari ini kamu kelihatan lebih happy, lho," Bu Heni tersenyum hangat begitu sesi konsultasi mereka selesai. "Ada apa, nih?"
Nina mengulum bibir malu-malu. "Nggak ada apa-apa sih, Bu. Cuma hari ini semangat aja mau lunch bareng Mas Dewa sama Kian."
"I see," Bu Heni menyunggingkan senyum mengerti. "Have fun, ya."
"Makasih, Bu." Nina berjabat tangan dengan Bu Laras sebelum akhirnya keluar dari ruangan yang memiliki desain cozy tersebut.
Senyum sumringah merekah di bibirnya ketika melihat Dewa masih menunggu di ruang tunggu sambil membaca buku. Visual pria itu membuat Nina memutuskan untuk tidak langsung menghampiri Dewa. Ia malah berdiri sambil memperhatikan Dewa yang tampak begitu tampan dan tenang. Nina merasa seperti berada di adegan film romantis picisan. Dimana sang pemeran tengah diam-diam menatap laki-laki pujaannya.
Menggelengkan kepalanya, Nina pun melangkahkan kakinya mendekati Dewa yang menyadari kehadirannya. Pria itu mendongak, kemudian tersenyum sambil menutup bukunya.
"Hi," Dewa dengan lembut menggenggam tangan Nina. "How do you feel?"
"So good," balas Nina. "Actually really good. Setiap kali habis ngobrol sama Bu Heni, rasanya hatiku lapang banget."
Dewa menatap kekasihnya dengan senyum tulus yang merekah di bibirnya. Sambil mendengarkan Nina menceritakan sesi konsultasinya, Dewa mengusap rambut gadis itu dalam belaian lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Ficção GeralDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
