27 | brother

10.8K 1.1K 85
                                        

Dewa bukan hanya selalu tepat waktu, pria itu terkadang suka menjemputnya lebih awal sehingga Nina harus bersiap-siap satu jam sebelum waktu janjian mereka.

Bukannya Nina komplain. Sebagai orang yang sangat menghargai waktu, ia justru merasa itu adalah nilai plus dari Dewa. Hanya saja, kalau pria itu menjemputnya lebih awal, artinya Nina juga harus bersiap-siap lebih awal. Sementara setiap kali mereka akan berkencan, Nina pasti bingung mau memakai baju apa.

Padahal baju di lemarinya sedikit sekali. Ia sengaja tak membeli banyak pakaian karena menerapkan hidup minimalis agar memudahkan hidupnya. Sekaligus mempersempit pilihan agar tak membuang banyak waktu ketika berpegian. Tetapi semenjak punya pacar, Nina merasa ia harus membeli pakaian karena tidak memiliki baju bagus untuk berkencan dengan Dewa.

Dan ujung-ujungnya, ia pasti memakai high waist loose jeans. Dipadu dengan kemeja, atau tank top yang dilapisi cardigan.

Selera fashion Nina memang monoton. Ia bahkan tidak pernah mencoba memakai warna-warna terang seperti yang dilakukan Sisy—menampilkan sisi feminimnya dengan menggunakan rok. Ia hanya pernah sekali memakai dress di depan Dewa, itu pun di kencan pertama mereka karena Nina pikir Dewa akan mengajaknya fine dining di restoran. Yeah, kendati makan malam di apartemen pria itu masih disebut fine dining, sih.

Tetapi setelah itu, Nina tak pernah lagi berpenampilan feminim di depan Dewa.

Apalagi mereka sempat backstreet, dimana perkencanan hanya bisa dilakukan di tempat-tempat tertutup. Begitu hubungan mereka akhirnya diketahui pun, mereka berdua terlalu sibuk untuk berkencan di akhir pekan. Hanya bisa memanfaatkan after office hour—yang mana Nina tidak punya waktu untuk mengganti pakaiannya dan berdandan.

Meskipun begitu, Nina tak merasa itu masalah untuk hubungan mereka. Dewa juga tidak pernah berkomentar soal penampilannya. Malah, pria itu selalu melemparkan pujian setiap kali mereka bertemu. Sedikit banyaknya, hal itu membuat Nina percaya diri.

Tetapi mengingat Dewa selalu memberikan effort lebih pada hubungan mereka, Nina pikir ini saatnya untuknya mulai melakukan hal yang sama.

Sebab itu, ia sudah membeli white long skirt di bawah dengkul yang dipadu dengan button knit cardigan berwarna hitam miliknya. Tidak terlalu berlebihan, tetapi cukup manis.

Nina tidak mengharapkan reaksi dimana mulut Dewa akan ternganga ketika melihatnya. Well, Dewa tidak memang tidak lebay itu. Tetapi tatapan pria itu yang berbinar-binar dan matanya yang terus memandanginya cukup mampu membuat Nina salah tingkah dan tersipu malu.

"Stop looking at me!" Nina memperingati, tetapi ia tak berani menoleh dan membalas tatapan Dewa yang terus saja mengambil kesempatan untuk menengok ke arahnya di sela-sela pria itu menyetir. "Kamu lagi nyetir, Mas. It's dangerous!"

"I think your appearance is more dangerous now, Sayang." Dewa membalas dengan nada diseret-seret dan senyum miring. "You look fantastic today, sweet cheeks. Kayaknya aku bakal pelototin semua cowok yang ngeliatin kamu, deh."

"Don't be dramatic," Nina berusaha menyembunyikan senyuman di wajahnya. "Penampilanku hari ini biasa aja. Nothing special."

Well, pujian Dewa baginya memang sedikit berlebihan karna Nina tidak memakai gaun super glamor dan riasan wajah cetar. Ia hanya mengenakan long skirt dan cardingan. Outfit-nya pasaran. Banyak wanita yang berpakaian sepertinya di luar sana.

"Oh, ya?" Dewa menaikan salah satu alisnya dengan gaya playful. "Aku pikir kamu dandan semenawan ini buat aku lho."

Panas merambat ke pipinya. Nina tak menjawab karena tidak ingin membantah hal tersebut.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang