Nina mengerutkan kening, mengamati gerak-gerik Dewa yang tampak agak aneh sejak pria itu tiba di apartemennya.
Seperti yang Nina janjikan, ia bangun pagi-pagi sekali membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Dewa tiba pukul 06.30, hanya beberapa menit setelah Nina selesai membuat nasi goreng ayam berdasarkan resep ibunya. Memang tidak seenak buatan sang ibu—tetapi Nina cukup percaya diri dengan rasanya.
Sebab itu, melihat Dewa yang lebih banyak diam—padahal pria itu selalu heboh, khususnya ketika mencicipi masakannya sedikit membuat Nina heran.
Apa pekerjaan pria itu sedang bermasalah?
Nina menggigit bibir. Meletakan sendoknya dan memutuskan untuk bertanya karena merasa aneh dengan keheningan yang membaluti mereka berdua.
"Mas," Nina membuka suara dengan nada berhati-hati.
Dewa mendongak, tersenyum kecil pada kekasihnya. "Kenapa, Sayang?"
"Do you want to talk about something?"
Ekspresi Dewa tampak tenang, seolah pria itu sudah menduga jika Nina akan bertanya padanya. Sebelum menjawab, Dewa meraih minuman di meja lalu menenggaknya pelan. "Yeah," angguk Dewa. "Actually, I want to tell you something."
"Okay," Nina memberi fokus sepenuhnya pada Dewa. Menunggu pria itu bicara.
"Debby ngehubungin aku,"
"Oh," mata Nina mengerjap agak terkejut. Meskipun sewaktu di Bali wanita itu memang kelihatan sekali ingin bicara pada Dewa—Nina tak menyangka jika masih berusaha melakukannya sampai sekarang. "O ... kay."
"Dan aku ngeiyain," sambung Dewa.
Nina tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Di satu sisi Nina mengerti Dewa membutuhkan penjelasan dari Debby. Namun di sisi lain ada seberkas rasa cemburu yang membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Mmm ... rencananya kapan kamu mau ketemu sama dia?" tanya Nina berusaha bersikap netral.
"Malam ini. Habis pulang ngantor."
Nina mengangguk pelan. "Okay. Thanks for letting me know." Katanya. Mencoba untuk mengerti—karena bagaimanapun, Dewa berhak mendapatkan penjelasan.
"Kamu temenin aku, ya?" pinta Dewa seraya meraih tangan Nina di atas meja. "Aku mau ketemu dia kalau kamu juga ikut."
Permintaan Dewa yang mengejutkan jelas membuat Nina mengerjapkan mata. "But ... it's just between you and her. Dia nggak akan nyaman kalau aku ikut, Mas."
Dewa menggeleng. "Nggak ada lagi antara aku sama dia. Sekarang adanya aku sama kamu. Kalau dia keberatan aku bawa kamu—then, aku nggak akan mau mendengarkan apapun yang mau dia jelasin ke aku."
"Tapi, Mas,"
"Kita udah sepakat buat nggak menyembunyikan apa-apa dari satu sama lain, kan?" sela Dewa. "That's why, aku mau kamu juga ikut."
Nina menghela napas. Ia senang Dewa membahas hal ini dengannya—kendati ia sedikit merasakan cemburu karena Dewa akan bertemu dengan mantan kekasihnya. Bukan karena ia ragu pada perasaan Dewa. Sejujurnya, ini juga baru untuk Nina merasakan kecemburuan. Ia tak pernah begini sewaktu menjalin hubungan dengan Samudera. Dan entah kenapa ia merasa begitu pada Dewa. Padahal Dewa selalu membuktikan kesetiaannya pada Nina.
Dan menamani pria itu persoalan berbeda. Masalah tersebut antara Dewa dan Debby. Ia bukan pihak yang terlibat. Namun alasan Dewa masuk akal sehingga Nina tidak mungkin bisa menolak.
"Kanina," genggaman tangan Dewa yang mengerat membuat pandangan Nina kembali terarah pada pria itu. "Please,"
"Okay, aku temenin kamu," Nina menganggukan kepala. Tersenyum pada Dewa. "Sekarang, habisan nasi gorengnya. Nanti kita telat ke kantor lho."
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
