42 | together

9.1K 957 64
                                        

Jantung Dewa berpacu dengan kencang begitu turun dari mobil. Reaksi yang wajar karena ia akan bertemu dengan Hendri Damara—ayah kekasihnya. Berkat bantuan Dahlia, Dewa akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu beliau.

Sebetulnya Dewa ingin datang langsung ke Semarang. Tetapi Hendri berkata mereka bertemu di Jakarta saja karena Hendri kebetulan sedang ada urusan di Jakarta. Lalu di sini lah Dewa, di sebuah restoran di daerah SCBD yang cukup ramai karena jam makan siang. Untungnya, ia mereservasi private room karena tahu pembicaraannya dengan ayah kekasihnya akan sangat serius.

Dewa merapikan kemejanya sebelum akhirnya membuka pintu. Seorang laki-laki paruh baya dengan postur tinggi dan langsing bangkit berdiri—ekspresi yang tenang langsung mengingat Dewa pada Kian.

"Om," sapa Dewa sopan. Mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Hendri. "Saya Dewa, Om."

Hendri mengangguk singkat. "Silakan duduk."

Dewa menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya di sana. Berhadapan dengan Hendri yang menatapnya penuh penilaian. Dewa mencoba untuk tenang karena apa yang Hendri lakukan adalah hal yang wajar—setiap ayah pasti sangat protektif pada putrinya.

"Jadi, kamu pacar putri saya?" tanya Hendri to the point.

Dewa mengangguk dengan sikap tegas. "Benar, Om. Saya dan Nina sudah menjalin hubungan hampir delapan bulan."

"Kenal dimana?"

"Kami dulu satu tower, Om," balas Dewa sambil terus mempertahankan kontak mata dengan Hendri. "Saya bekerja di Batara Architecture."

"Dulu? Sekarang udah nggak?"

"Saya sekarang membantu usaha keluarga, Om."

"Usaha keluarga, ya," Hendri mengangguk-angguk dengan nada mengambang. Sebelum bertemu dengan Dewa, Hendri sudah melakukan kroscek pada Dewa. Ia mencari tahu siapa pria itu dan keluarganya. Dari latar belakang keluarga, Dewa memang tidak ada cela. Tetapi Hendri tidak peduli dengan hal itu. Buatnya yang paling penting adalah karakter pria yang bersama putrinya.

Banyak penyesalan dalam hidup Hendri, dan ia tidak ingin menambahkan dengan membiarkan putrinya menjalin hubungan dengan pria yang tidak baik.

"Kenapa baru sekarang tertarik membantu usaha keluargamu?"

"Sebelumnya saya masih ingin mencari pengalaman di luar, Om. Banyak hal di luar sana yang belum saya eksplor."

Hendri mengangguk-angguk. Masih dengan ekspresi datarnya sehingga Dewa tidak bisa menebak-nebak apa yang pria itu pikirkan tentangnya. Dewa bukannya merasa terintimidasi, ia cukup percaya diri. Namun tetap saja, kegugupan sulit dihindari karena yang ia hadapi adalah ayah dari wanita yang ia cintai.

Hendri terus melayangkan pertanyaan lebih banyak dari Dahlia. Pria itu begitu detail dan teliti. Bahkan ada beberapa pertanyaan yang menjebak—dan apabila Dewa sampai salah langkah, ia pasti sudah akan meninggalkan kesan buruk di mata Hendri.

"Nina adalah putri yang paling saya sayang," Hendri berkata setelah semua pertanyaan dijawab oleh Dewa. Mata pria itu kini berubah sedih, dan nada suaranya pun memelan, tak lagi lugas. Penyesalan tergambar jelas dari garis-garis keriput di wajah Hendri. "Saya telah membuat kesalahan besar. Kesalahan yang sulit dimaafkan. Tetapi rasa sayang saya pada Nina tak akan pernah hilang. Dia putri saya ... putri yang saya besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang ..."

Dewa tak berniat membahas masalah personal tersebut karena menyadari dirinya masih orang luar. Bukan tempatnya untuk Dewa ikut campur. Dan semarah atau sekecewa apapun ia pada perbuatan Hendri—Dewa merasa dirinya tak berhak untuk menghakimi pria itu.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang