"Aku masih nungguin Sisy kelar meeting. Daripada duduk-duduk, doang. Yaudah lanjut kerja, deh." Nina berkata lewat panggilan video. Ia menopang dagu, menatap Dewa yang saat ini tengah berada di Singapura.
Dewa menjadi jauh lebih sibuk sejak bergabung dengan perusahaan keluarganya. Pria itu jarang sekali di Jakarta dan lebih sering berada di Singapura. Nina cukup bisa mengerti hal tersebut—mengingat tanggung jawab Dewa lebih besar sekarang. Ia pun juga mengisi waktu luangnya dengan hal-hal bermanfaat agar tak terlalu merindukan Dewa. Dan setiap Sabtu, Nina ada konseling dengan Psikolog di rumah sakit tempat Kian koas. Sehingga ia pun juga lebih banyak menghabiskan waktu dengan sang adik belakangan ini.
"Jam istirahat kok dipakek kerja, Sayang? Gimana sih bos kamu? Biar aku marahin nanti dia," ucap Dewa dengan nada galak yang dibuat-buat.
Nina terkekeh kecil. "Bilang aja kamu kamu kangen sama Mas Sam, kan? Nggak ada waktu buat futsal bareng lagi."
"Ngapain kangen sama Samudera? I'd rather miss my girlfriend," sahut Dewa dengan senyum tengil yang menghiasi wajahnya.
Suara batuk Nalendra yang disengaja di belakangnya membuat Nina memejamkan mata jengkel. Karena lupa membawa airpods, Nalendra yang juga masih di kubikelnya dapat dengan bebas mendengarkan pembicaraannya. Dan bukan Nalendra jika tak memanfaatkan hal tersebut untuk meledeknya.
Nina memutar kursi kerja. Lantas memukul punggung pria itu dengan notebook-nya. "Nggak usah rese!" tukasnya galak.
"TEH, MASA GUE BATUK DOANG JUGA NGGAK BOLEH?!" protes Nalendra heboh. Lalu lehernya memanjang, melirik ponsel Nina yang disandarkan di corkcicle—menampilkan wajah Dewa yang tertawa geli. "Mas, pacar lo galak banget dah!"
"Sama cowok lain emang galak. Tapi kalau sama gue sukanya sayang-sayangan," Dewa membalas dengan tengil. "Iya nggak, Sayang?"
"Nggak usah ikut-ikutan," Nina memutar tubuhnya seraya meraih ponselnya. "Aku mau nyusulin Sisy dulu ya, Mas."
Dewa mengangguk. "Okay. I'll call you again later ya, Sayang!"
"Sure thing. Nanti aku kabarin kalau mau pulang ya, Mas."
"Very good," Dewa tersenyum melambaikan tangan pada Nina yang memberinya senyum manis sebelum akhirnya panggilan video call itu pun berakhir.
"Makin mesra aja sama bapak arsitek, Teh," ucap Nalendra sambil cengar-cengir.
"Mau nitip sesuatu nggak?" tanya Nina mengabaikan godaan Nalendra. Jika ditanggapi pria itu hanya akan semakin menjadi.
"Ice Americano aja deh, Teh. Gue butuh kafein banget," ucap Nalendra dengan ekspresi wajah yang dibuat menderita. "Sama boleh kali traktir gue sandwich."
Nina berdecak sambil bangkit dari kursinya. "Udah nebak sih gue!"
Nalendra cengengesan. "Thank you, Teh. Lo yang paling cantik se-tower ini!"
Nina melotot karena ucapan 'paling cantik se-tower' adalah sebuah ledekan karena Dewa yang pernah mengatakannya—membuat Nalendra sering mengulang-ngulang kalimat itu untuk membuatnya kesal.
"Nggak usah rese lagi, ya! Nggak jadi gue traktir, nih!" ancam Nina.
"Ampun, Teh!"
***
"Peter kacau banget setelah lo resign," Angga terkekeh kecil sambil mengambil kopi yang ia pesan, kemudian bersama-sama mengayunkan kakinya dengan Dewa ke salah satu meja kosong. "So, gimana rasanya kerja di perusahaan keluarga sendiri? Masih kurang menantang?" tanya Angga sambil mengangkat sudut bibirnya meledek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
