Saat tengah menggarap project besar, kata lembur menjadi makanan sehari-hari. Suasana kerja pun akan menjadi intens, dan penuh tekanan. Sebab itu, banyak yang mengatakan kalau bekerja di agency jangan sambil pacaran. Karena jika pasangan kalian tidak cukup pengertian—hubungan itu akan berujung toxic dan dipenuhi oleh pertengkaran.
Well, peringatan itu semata-mata bukan untuk menakut-nakuti. Nina sudah bertahun-tahun bekerja di agency, dan ia banyak melihat rekan-rekan kerjanya putus dari pacar mereka karena hal tersebut. Makanya, jarang sekali ada anak agency yang bisa menjalin hubungan dalam jangka waktu panjang. Kalaupun ada, pasti karena mereka mampu mengatur waktu dengan baik. Atau memang sudah sangat berkomitmen pada satu sama lain.
Nina tentu tidak bisa berbuat apa-apa jika hari hectic itu tiba. Bukan hanya dia sendiri dituntut untuk bekerja lebih ekstra, tim-nya pun juga kehilangan waktu istirahat sama sepertinya. Lebih daripada itu, ia tetap harus profesional. Tak mencampurkan kehidupan asmaranya dengan pekerjaan.
Nina cukup lega karena Dewa mengerti kesibukannya. Pria itu memahami jika Nina tiba-tiba meng-cancel kencan mereka karena lembur, slow response ketika pria itu mengirimkan chat, atau tak bisa menghabiskan weekend bersama karena Nina harus mengejar deadline yang semakin dekat. Pria itu bahkan beberapa kali mengirimkan makanan untuk Nina dan timnya ketika ia sedang lembur—yang tentu saja mengundang ledekan dari timnya. Membuat Nina mati-matian menahan ekspresinya agar tak kelihatan salah tingkah.
"Teh, pacar lo ngirim makanan lagi, nih!" seru Nalendra sembari menjinjing dua tumpukan kardus pizza yang ia bawa dari depan. Menarik perhatian semua orang yang tengah brainstorming di meja. Ekspresi keruh di wajah mereka seketika digantikan oleh senyum sumringah. Kebetulan, perut mereka memang sudah meronta-ronta minta diisi sejak tadi. "Langgeng-langgeng ya, Teh, sama Mas Arsitek. Mas satu ini kayaknya kalau bucin bakal kasih credit card-nya sama lo, deh."
Nina yang tidak tahu apa-apa soal itu sontak mengerjap terkejut. "Siapa yang nganterin?" tanyanya.
"Laki lo sendiri lah, Teh." Balas Nalendra, kemudian menatap Nina dengan senyum tengilnya. "Dia bilang, kami-kami harus semangat kerjanya biar project-nya cepat kelar, terus doi bisa pacaran sama lo."
Seketika pipi Nina langsung memerah. Belum lagi, ia kini dibanjiri oleh sorakkan menggodanya.
"Waduh, udah kangen berat Mas Arsitek lo nih, Nin!"
"Sumpah! Gue iri gue bilang!"
"Emang boleh kalian segemes ini? Mas Dewa treat you like a princess banget ya, Nin!"
Dewa memang tipe pacar yang royal. Pria itu hampir selalu membelikan Nina sesuatu jika ada dinas ke luar kota, menolak jika Nina mau split bill, dan tentu selalu mengirimkan makanan ketika Nina lembur atau tidak lembur. Nina mengerti selain physical touch, love language Dewa juga receiving gift—hanya saja, Nina tidak enak jika terus diberi. Tapi Dewa selalu punya penjelasan atas sikapnya, membuatnya Nina bingung harus menyahut dengan cara apa.
"Sayang, itu udah bawaan alamiku. Aku senang saat bisa ngasih kamu sesuatu. Tapi kalau itu bikin kamu nggak happy, bakal aku kurangin," balasan itu jelas membuat Nina jadi tidak enak. "Cuma nggak bisa aku hilangin. Nggak apa-apa, kan?"
Dewa memang sudah jarang memberinya hadiah. Tetapi soal mengirimkan makanan, sepertinya itu tak bisa lagi dihentikan.
Hampir semua orang-orang di kantor sudah mengetahui hubungannya dengan Dewa. Mulanya memang atensi tersebut membuat Nina tak nyaman—tetapi kabar pertunangan Samudera dengan Raline berhasil mengalihkan perhatian orang-orang.
Meskipun begitu, Nina tak ingin terlalu kentara saat di kantor. Ia mengurangi interaksi dengan Dewa di jam makan siang. Untungnya, kesempatan mereka berpapasan secara tak sengaja jarang sekali terjadi. Hubungan Sisy dan Risyad yang merenggang pun membuat gadis itu tak lagi dengan sengaja nongkrong di TheWall untuk modus ala-ala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
