18 | officially

11.7K 1.1K 165
                                        

Pagi ini Dewa terbangun dengan perasaan berbunga-bunga. Semuanya masih terasa seperti mimpi. Kejadian kemarin terus terbayang-bayang di benaknya. Senyum tak surut dari bibir Dewa bahkan setiba ia di apartemennya.

Dewa tidur dengan sangat amat nyenyak semalam setelah mengirimkan pesan 'good night, sayang' pada Nina—yang tentu dibalas Nina dengan ...

Kanina
Stop it 😒

Kemarin Dewa memang sempat diam karena terlalu terkejut. Untuk di detik pertama, ia tidak tahu harus merespon apa. Baru ketika suara Nina kembali terdengar, lalu gadis itu menatapnya dengan wajah memerah—Dewa sadar tidak ada yang salah dengan indera pendengarannya.

Nina memang mengatakan 'iya'.

Gadis itu mau menjadi kekasihnya.

Tentu penerimaan Nina yang tiba-tiba sedikit mencurigakan. Dewa memang merasakan ketertarikan Nina padanya. Hanya saja, ia tidak yakin Nina benar-benar siap menjadi kekasihnya. Keraguan itu terlalu tampak jelas. Dan perubahan suasana hati yang mendadak agak terasa aneh dan mengejutkan. Ia yakin ada sesuatu yang mendorong Nina menerima perasaannya. Sesuatu yang ingin Dewa cari tahu. Sebab itu, Dewa berpura-pura tak menyadarinya.

Well, sebagian dirinya mungkin tidak ingin melewatkan kesempatan. Meskipun ia tahu perasaan Nina masih berupa ketertarikan semata—Dewa pikir ia bisa membuat Nina menyukainya setelah hubungan mereka berjalan. Ini juga menjadi kesempatan Dewa agar bisa lebih dekat dengan Nina.

Cinta bisa memudar seiring berjalannya waktu. Tetapi cinta juga bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.

Dengan status yang telah berubah, kesempatan Dewa akan semakin terbuka lebar. Ia dapat menghubungi Nina dengan bebas, ia bisa mengajak Nina berkencan ketika mereka punya waktu luang. Ia bisa berkunjung ke apartemen Nina dengan alasan rindu. Lebih dari pada itu, Dewa tak perlu khawatir akan kemunculan pria lain sebab Nina telah menjadi kekasihnya. Dewa punya hak untuk mengusir pria-pria yang masih mendekati Nina.

Pemikiran itu kembali mengundang senyuman di wajah Dewa. Pria itu menggeliat ke samping. Meraih ponsel di atas meja nakas dan langsung membuka room chat-nya dengan Nina.

Dewa
Morning, Sayang

Dewa bangkit duduk. Mengumpulkan nyawanya sebentar sebelum mengecek email di ponselnya. Begitu mendapat balasan dari Nina, Dewa langsung membukanya dengan cepat.

Kanina
Morning, Mas

Dewa mengulum bibirnya. Merasa agak konyol karena ia jadi begitu bahagia hanya dengan dua kata biasa tersebut. Tapi, well, rasanya berbeda ketika yang mengirimkannya adalah orang yang disukai, kan?

Dewa
Nanti aku jemput ya
Kita ke kantor bareng

Kanina
Aku berangkat sendiri aja, Mas.
Nanti orang-orang kantor ngeliat

Dewa
Lho? Emang kenapa?
Kita kan udah pacaran

Kanina
Ya, tapi aku belum mau orang-orang kantor tahu.
Nggak apa-apa, kan?

Sebetulnya Dewa bukan tipe orang yang suka backstreet. Ia ingin mengekspresikan rasa cintanya dengan bebas. Tetapi mengingat mereka bekerja di tower yang sama, Dewa cukup mengerti perasaan Nina. Mungkin mereka tidak harus langsung seterang-terangan karena baru jadian.

Dewa
o.. kay
Tapi kita tetap ke kantor bareng, ya.
Nanti kita keluar dari mobil kalau udah sepi

Ada jeda sekitar satu menit sampai Dewa akhirnya mendapatkan balasan.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang