"Dek, kamu mau pesan apa?"
"Samain aja, Mas," balas Kian.
Dewa mengangguk kemudian berpaling pada kekasihnya. "Kamu kayak biasa kan, Sayang? Wait here, biar aku yang pesan." Ucap Dewa yang sebelum pergi menjatuhkan kecupan di pelipis Nina.
"Bucin banget dia sama kamu, Kak," tukas Kian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Dewa yang tampak tak bisa mengalihkan pandangan sedikit pun dari kakaknya. Meskipun sudah melihatnya itu cukup sering—Kian masih saja tak terbiasa. Apalagi ia bukan tipe pria yang terbuka pada perasaannya seperti Dewa.
Sama seperti kakaknya, Kian sulit dalam mengekspresikan diri.
Sebab itu, kelegaan membanjirinya karena Dewa memperlakukan kakaknya dengan sangat baik.
Nina hanya tersenyum. Kemudian berkata. "Kapan ujiannya, Dek?"
"Senin," Kian menjawab sambill mengusap rahangnya. Beberapa hari ini ia benar-benar kurang tidur karena begadang untuk belajar. "Doain ya, Kak."
"Pastilah," Nina mengangguk. "Good luck, ya. Kamu tahu kan kakak selalu bangga sama kamu."
Kian tersenyum hangat. Ia sangat tahu itu. "Aku juga bangga sama kakak," katanya sambil memegang tangan Nina. "Pelan-pelan ya, Kak. Dan kakak harus tahu banyak yang sayang dan peduli sama kakak."
Sudah sebulan berlalu dan Nina perlahan-lahan mulai menata perasaannya. Meskipun hubungan dengan sang ayah tak akan pernah bisa seperti dulu—Nina mencoba untuk melepaskan amarah di hatinya pada sang ayah. Ia tak lagi memblokir nomor ayahnya. Mengangkat panggilan beliau kendati obrolan mereka masih sangat canggung dan sikat.
Tetapi Dewa selalu ada bersamanya. Menenangkan kejanggalan di hatinya dengan kenyamanan yang membuat Nina bersyukur memiliki pria itu.
Hubungannya dengan Dewa pun semakin serius. Nina lebih terbuka pada perasaannya tentang masa depan mereka. Tak lagi merasa berat ketika Dewa membawanya ke acara keluarga pria itu. Mengenalkan Nina pada keluarga besar Hirawan yang menyambut Nina dengan ramah. Ledekkan untuk mereka segera menikah cukup sering terdengar—dan alih-alih merasa tergganggu, Nina malah tersipu.
Lebih dari pada itu, bayangan menikah dengan Dewa sama sekali tak menakutkan. Malah Nina cukup sering membayangkannya saat sedang bersama pria itu. Ia bisa melihat Dewa di masa depannya. Menjadi suami yang bertanggung jawab dan mencintainya. Menjadi ayah dari anak-anak yang ia lahirkan. Menua bersama sampai maut lah yang memisahkan mereka. Dan dadanya selalu hangat memikirkan hal tersebut.
"Here," Dewa kembali membawa makanan yang mereka pesan. Tidak sulit dengan otot-otot di tubuh pria itu.
Mereka terlibat obrolan yang menyenangkan di tengah santap makan malam tersebut. Nina senang Dewa menemaninya bertemu sang adik sepulang kerja. Ia agak khawatir karena Kian biasanya akan mengurung diri saat ujiannya dimulai. Nina ingin Kian beristirahat. Sebab itu, ia mengajaknya adiknya bertemu.
"Bareng aja, Dek," Nina menatap Kian memelas. "Lagian Mas Dewa nggak masalah, kok. Iya kan, Mas?"
Dewa mengangguk dengan satu tangannya merangkul bahu Nina. "Lagian kostan kamu juga nggak jauh dari sini. Come on, I will give you a ride."
"I'm okay. Don't worry, Mas. Lagian aku nggak sanggup liat kalian mesra-mesraan lebih lama."
Wajah Nina memerah karena tersipu. "Kami nggak mesra-mesraan!"
"Are you, sis?" Kian mengangkat alisnya mengejak.
Nina berdecak, membuang muka. Sementara Dewa tertawa terhibur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Fiksi UmumDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
