25 | blinding lights

11K 1K 145
                                        

"Okay, all good." Samudera tersenyum, menatap Nina yang mengangguk dengan napas lega setelah pekerjaan mendapat acc dari sang creative director. Gadis itu mengambil iPad miliknya, siap untuk beranjak andai saja ia tak menyadari Samudera kini mengulum bibir, memandangnya penuh arti.

Nina membuang napas panjang. Bisa menebak apa yang pria itu pikirkan sekarang. "Kenapa, Mas? Kamu juga mau nanya soal kebenaran aku yang pacaran Mas Dewa atau nggak?" tanya Nina kalem.

Samudera terkekeh sambil menggelengkan kepalanya kecil. "Nope. Aku tahu cepat atau lambat kalian pasti pacaran."

Kening Nina mengerut. Tak menyembunyikan kebingungan dan rasa penasarannya. "Meaning?"

Sepertinya ia cukup berhati-hati selama di kantor. Well, walaupun tetap saja orang-orang langsung curiga ketika melihatnya pulang bersama Dewa. Lebih dari pada itu, kencan mereka di Pasific Place telah menjadi bahan omongan—yang membuat Nina sering sekali dilirik-lirik ketika ia turun untuk makan siang di kantin, atau jajan kopi di TheWall. Tapi Nina mencoba masa bodoh. Kalau pun ada orang yang kepo, Nina hanya menjawabnya dengan senyum paksa.

"Beberapa bulan yang lalu, Dewa nanyain kamu sama aku. Dia minta bantuanku buat bisa dekat sama kamu. He looked so hopeless." Kekeh Samudera ketika mengingat bagaimana gusarnya Dewa. "But, well, aku rasa dia harus usaha sendiri kalau memang mau mengenal kamu. And he did it!"

Nina mengira Dewa hanya menanyakan soal dirinya pada Samudera, tidak sampai meminta bantuan. Pria itu tampak tenang dan santai ketika melakukan pendekatan dengannya—siapa yang menyangka pria itu ... hopeless?

Terdengar agak mustahil sampai Nina sulit mempercayainya. Tapi di saat yang sama, ia tahu Samudera bukan tipe orang yang suka melebih-lebihkan sesuatu.

"He's good man," Samudera berkata, kemudian menambahkan dengan nada tulus. "And I'm really happy for both of you."

Nina tersenyum hangat. "Back at ya, Mas. Kamu juga, semoga lancar pernikahannya sama kak Raline nanti, ya."

Memang belum diumumkan secara resmi—tetapi Nina mendapatkan privilege sehingga mengetahui kabar bahagia itu lebih awal. Meskipun sudah menjadi mantan kekasih, mereka berhubungan dengan sangat baik. Samudera bahkan menjadikan Nina tempat curhat saat ia masih menyimpan perasaan pada Raline hingga akhirnya sekarang merencanakan pernikahan dengan sang kekasih.

Samudera mengangguk kecil. Setelah mengobrol singkat, Nina pun keluar dari ruang meeting yang memang hanya diisi olehnya dan Samudera. Ketika kembali ke kubikel, matanya berhenti pada meja Pedro yang kosong—dimana pria itu mendadak mengambil seluruh jatah cutinya selama setahun untuk sesuatu yang masih menjadi rahasia. Pedro tidak memiliki media sosial. Ketika ditanya pun, seperti biasa, Pedro bukan tipe orang yang suka membalas chat. Tak ada tanggapan dari pria itu.

Jujur saja, banyak yang mengatakan kalau alasan Pedro mengambil cuti karena patah hati. Dan semua orang langsung meliriknya penuh makna. Seolah ialah penyebabnya.

Selama ini Nina menganggap ledekan yang mengatakan Pedro menyukainya hanya candaan semata—tetapi sekarang, perlahan-lahan mata Nina terbuka dan ia menyadari jika itu bukan hanya sekedar candaan. Mungkin Pedro memang pernah menyukainya ... atau masih menyukainya.

Nina menghela napas. Seberkas perasaan bersalah membuatnya jadi tidak enak pada Pedro. Mereka rekan kerja, Nina tak pernah menaruh rasa curiga karena mereka sudah lama saling mengenal.

"Sepi juga nggak ada Mas Ped ya, Teh." celetuk Nalendra sambil menggeser kursi rodanya mendekat ke kubikel Nina. "Padahal kalau pun ada, dia diem doang kayak batu."

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang